Polemik Film Seaspiracy: Benarkah Ikan-ikan Akan Segera Lenyap dari Laut? (Bagian 2)


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Polemik Film Seaspiracy: Benarkah Ikan-ikan Akan Segera Lenyap dari Laut? - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Statistik - 0,03% plastik laut adalah sedotan - bersumber dari dua penelitian yang disorot dalam film tersebut, satu dipimpin oleh Jenna Jambeck, di Universitas Georgia, dan satu lagi oleh dua ilmuwan Australia, Denise Hardesty dan Chris Wilcox.

Studi Prof Jambeck tahun 2015 memberikan perkiraan global tentang "massa plastik darat yang memasuki lautan". Dan penelitian lainnya adalah perkiraan jumlah sedotan di garis pantai di seluruh dunia. Tampaknya penghitungan dilakukan dengan menggunakan temuan-temuan ini.

Angka 0,03% tersebut juga direferensikan dalam sebuah artikel Opini Bloomberg pada tahun 2018. Ini kurang lebih adalah estimasi, dan Prof Jambeck mengatakan tidak ada yang benar-benar tahu berapa banyak dari angka itu adalah sedotan, tetapi para ahli setuju bahwa jumlahnya jauh lebih sedikit daripada sampah alat pancing.

Prof Hardesty tidak berpikir bahwa sedotan adalah masalah yang lebih besar daripada sampah alat pancing, tetapi risiko yang ditimbulkan oleh jaring jelas merupakan masalah besar.

"Alat penangkapan ikan yang terbengkalai, hilang, dan telantar menimbulkan kerusakan lingkungan yang substansial bagi spesies pesisir dan laut," katanya, "dan kami tahu jauh lebih banyak tentang risiko terjerat daripada yang kami tahu tentang risiko tertelan bagi satwa liar".

Organisme mikroskopik di lautan yang disebut fitoplankton menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen, seperti tumbuhan.

Tayangan dokumenter ini merujuk pada laporan IMF yang mengatakan, "kami mengkalkulasi bahwa hal ini sama dengan jumlah karbon dioksida (CO2) yang diserap oleh 1,70 triliun pohon - setara dengan empat hutan Amazon".

Para ahli mengatakan angka ini kurang lebih benar, dan bisa saja merupakan perkiraan yang terlalu rendah.

"Wajar saja mengatakan bahwa di lautan global, fitoplankton menyerap karbon dioksida sekitar empat kali lebih banyak daripada Amazon," kata Dr BB Cael, seorang ilmuwan di National Oceanography Centre di Southampton.

Dr Cael menambahkan, lautan dapat menyimpan karbon untuk waktu yang lama. Sebagian dari karbon yang diserap oleh fitoplankton tenggelam ke lautan dalam, dan tetap berada di sana selama ratusan hingga ribuan tahun, sampai laut perlahan-lahan membawanya kembali ke permukaan.

"Jumlah karbon yang diserap oleh pohon jauh lebih sedikit yang 'ditawan' selama itu dari atmosfir," kata Dr. Cael.

Riset terbaru juga menunjukkan bahwa beberapa tipe fitoplankton menyerap karbon lebih baik dibandingkan yang lainnya.

Sebuah studi tahun 2020 meneliti kemunculan tahunan fitoplankton yang dinamai 'masa bermekaran di musim semi' dan menemukan bahwa plankton yang berukuran lebih besar, yang lebih efektif dalam menyerap C02, lebih jarang ditemukan dari yang sebelumnya diperkirakan.

"Hal ini tentunya akan berdampak pada model aliran karbon," kata ahli mikrobiologi Oregon State University, Steve Giovannoni.

Studi lain yang diterbitkan pada tahun 2020 meneliti apa yang disebut "pompa biologis" - ketika plankton mati, mereka jatuh ke laut dalam, menghilangkan karbon dari permukaan dan menyimpannya.

"Jika lautan dalam tidak menyimpan begitu banyak karbon, Bumi pasti lebih panas daripada saat ini," tulis penulis studi, Ken Buesseler.

"Kami memperkirakan bahwa pompa biologis mengandung karbon yang menjerat panas dari permukaan laut dua kali lebih banyak daripada yang diperkirakan sebelumnya," kata Buesseler.

Related

Film 5375969436989730999

Recent

item