Teori Multiverse dan Misteri Asal Usul Penciptaan Alam Semesta (Bagian 2)


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Teori Multiverse dan Misteri Asal Usul Penciptaan Alam Semesta - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Tujuan Ilmu Pengetahuan Materialistik

Permasalahan tentang “kepuasan” atau “ketidakpuasan” sebenarnya menjadi titik tolak ilmu pengetahuan materialistik. Pandangan ilmu pengetahuan ini menjadikan pengingkaran akan keberadaan Tuhan dalam menjelaskan alam kehidupan dan jagat raya sebagai tujuan. 

Sebagaimana dijelaskan Benjamin Wiker dengan sangat rinci dalam bukunya yang penting, Moral Darwinism: How We Became Hedonists (Darwinisme Moral: Bagaimana Kita Menjadi Para Pencari Kenikmatan Dunia), niatan ini selalu berada di belakang upaya untuk membangun suatu ilmu pengetahuan yang mengabaikan keberadaan Tuhan, yang telah ada sejak Epicurus hingga Charles Darwin, dan kalangan materialis zaman sekarang. 

Kaum materialis berupaya mati-matian membangun dan membuktikan berbagai teori yang mengingkari keberadaan Tuhan, bukan karena ilmu pengetahuan menghendaki demikian, tetapi karena pola pikir dan filsafat mereka yang menghendakinya.

Sebaliknya, ilmu pengetahuan sendiri malah secara kuat selalu mengungkap kebenaran yang terus-menerus berusaha diabaikan kaum materialis: yakni bahwa jagat raya penuh dengan bukti keberadaan Pencipta. Dialah yang menciptakannya dari ketiadaan, dan merancang seluruh isinya dengan sangat mengagumkan.

Bukti-Bukti Keberadaan Tuhan

Teori multiverse (jagat raya jamak) adalah satu di antara sejumlah teori yang dikemukakan dalam rangka menolak kebenaran tersebut. Teori ini pun sama sekali tidak memiliki landasan ilmiah. Ketiadaan bukti ilmiah apa pun yang mendukung teori ini, sebagaimana diakui Prof. Davies sendiri, menjadikan teori tersebut sebatas pada keyakinan belaka. Keyakinan yang tak memiliki bukti ilmiah. 

Tambahan lagi, sungguh memperdayakan jika kaum materialis membuat pernyataan seperti: “Anda percaya bahwa Tuhan menciptakan jagat raya, kami percaya pada keberadaan banyak jagat raya,” dengan kata lain mereka menganggap keduanya memiliki semacam kesamaan. Hal ini dikarenakan:

1) Penjelasan masuk akal atas adanya perancangan di jagat raya adalah keberadaan sang perancang cerdas. Ketika Anda melihat sebuah patung, Anda yakin bahwa pastilah terdapat seorang ahli patung. Bantahan seperti “karena terdapat bebatuan berjumlah tak hingga di jagat raya, maka yang satu ini terbentuk begitu saja dengan sendirinya secara kebetulan,” sudah tentu sangat tidak masuk akal. 

Sejalan dengan kaidah logika yang dinamakan pisau cukur Occam – yang menyatakan bahwa penjelasan yang paling jelas dan langsung tentang suatu permasalahan wajib diterima – maka asal-usul kesempurnaan dan kecermatan perhitungan dan pengaturan di jagat raya wajib dijelaskan dengan istilah perancangan (desain) dan bukan kebetulan. 

2) Terdapat jauh lebih banyak bukti ilmiah keberadaan Tuhan daripada sekadar kecermatan sempurna pengaturan jagat raya. Sebagaimana para materialis lainnya, Paul Davies yakin bahwa Darwinisme telah memecahkan permasalahan seputar asal-usul makhluk hidup, atau paling tidak ia menghibur diri sendiri dengan teori tersebut. 

Namun kenyataannya Darwinisme adalah sebuah teori yang diragukan kebenarannya, dan telah dibuktikan bahwa terdapat perancangan cerdas pada peristiwa kemunculan makhluk hidup. Ini adalah pembuktian ilmiah atas fakta bahwa selain menciptakan jagat raya dengan keseimbangan dan perancangan tanpa cacat, Tuhan juga turut campur mengatur jagat raya yang telah diciptakan-Nya.

3) Terdapat banyak bukti bagi keberadaan Tuhan di luar bidang ilmu pengetahuan positif. Penemuan-penemuan di banyak bidang seperti psikologi manusia, bukti keberadaan ruh manusia, naskah-naskah kitab suci, membuktikan keberadaan Tuhan serta fakta bahwa Dia menciptakan manusia dan menunjukkannya ke jalan yang benar melalui agama. 

Di sisi lain, kalangan materialis tak mampu menemukan penjelasan lain ketika menghadapi bukti-bukti yang semakin menguat dan bertambah banyak yang menentang mereka. Yang mampu mereka lakukan tak lebih hanyalah menelorkan teori-teori baru hasil rekaan. 

Persis sebagaimana Paul Davies, yang memulai dengan mengatakan tentang “bukti baru yang mendukung teori multiverse (jagat raya jamak)”, namun tanpa menyebutkan satu pun tentang bukti baru tersebut.

Apa yang sepatutnya dilakukan oleh Prof. Davies adalah mengkaji ulang penemuan–penemuan ilmiah seputar asal-usul jagat raya. Namun ia hendaknya melakukannya bukan dengan berharap menemukan kesimpulan “memuaskan” dari sudut pandang keyakinan materialis, akan tetapi dalam rangka menemukan kebenaran hakiki. 

Dengan demikian, ia berkemungkinan memahami kebenaran penciptaan, yang sudah sedemikian sering terpampang di pelupuk matanya, dan akhirnya memahami keberadaan Tuhan, Pencipta dirinya sendiri dan Pencipta seluruh manusia.

Related

Science 28575103060374606

Recent

item