Fakta-fakta Penting di Balik Kasus Ledakan Covid-19 di India (Bagian 2)


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Fakta-fakta Penting di Balik Kasus Ledakan Covid-19 di India - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Ledakan pasien Covid-19

Ledakan pasien Covid-19 ditemui pula di titik-titik penyelenggaraan pemilu di Benggala Barat, yang kampanyenya diramaikan oleh PM Modi beberapa pekan silam. Menurut perhitungan dari The Print, terjadi peningkatan kasus Covid-19 di sana sampai 1.500 persen. 

Pada 11 Maret, jumlah total kasus aktif Covid-19 sempat mencapai titik rendah, sekitar 3.000-an. Akan tetapi, sejak 20 Maret, jumlahnya melonjak. Tepatnya pada 20 April, lebih dari 53 ribu kasus aktif ditemui di Benggala Barat (seminggu kemudian angkanya nyaris 95 ribu). 

Sejumlah faktor memang berkontribusi pada penyebaran virus, namun kerumunan yang bertepatan dengan kepentingan pemilu tetap dinilai berperan besar meningkatkan kasus positif Covid-19 di Benggala Barat. 

Peningkatan kasus infeksi Covid-19 turut merobohkan sistem layanan kesehatan di kawasan dengan kepadatan penduduk paling tinggi, Uttar Pradesh. Sampai 27 April, negara yang dihuni 240 juta populasi jiwa tersebut memiliki total kasus aktif Covid-19 lebih dari 304 ribu, dikutip dari perhitungan The Wire. Padahal, mereka punya rekor rata-rata angka yang rendah pada Maret (1.600-an kasus pada 9 Maret). 

Masih pada 27 April, akumulasi kasus positif Covid-19 terbesar ditemui di negera bagian Maharashtra dengan 676 ribu kasus. Angka tersebut meningkat drastis sejak dua bulan terakhir. Pada 13 Februari misalnya, Maharashtra “hanya” mencatat 32 ribu kasus aktif. 

Imran Ahmed adalah seorang relawan kesehatan dari desa Ballia, kota Sikanderpur di negara bagian Uttar Pradesh, yang turut berjibaku berburu tabung oksigen untuk membantu warga. Mereka rata-rata mengalami demam tinggi, sebelum akhirnya kesulitan bernapas. Akan tetapi, usaha berburu oksigen ini kerap berakhir hampa. 

“Orang-orang tewas seperti lalat,” ujar Ahmed kepada Scroll.in. 

Pengalaman pahit dialami oleh Shivakant Pal di kota Sitapur. Kepada Scroll.in, Pal melaporkan bahwa rumah sakit distrik setempat memiliki 72 tempat tidur dan hanya 1 tabung oksigen. Ibunda Pal meregang nyawa dengan 35 persen kadar oksigen, tidak kebagian jatah oksigen, dan akhirnya meninggal kehabisan napas. 

Ibu Pal bukan satu-satunya, masih ada 5 korban jiwa lain dengan pengalaman persis. Tragisnya, kota Sitapur hari itu tidak melaporkan satu pun kasus kematian akibat Covid-19. Mereka yang mengalami sesak napas rupanya memang belum sempat dites Covid-19. 

Di samping birokrasi yang dibuat berbelit-belit untuk mendapatkan akses tes Covid-19, Uttar Pradesh memang mengalami keterbatasan alat dan fasilitas tes. 

Program Vaksinasi yang Tersendat 

Melansir informasi dari Our World in Data, sampai 26 April, India sudah menyuntikkan lebih dari 142 juta dosis vaksin, terbanyak kedua di dunia setelah AS (230 juta dosis vaksin). Akan tetapi, yang sudah mendapat perlindungan vaksin utuh (dua kali dosis) baru sekitar 22 jutaan orang, atau sekitar 1,6 persen dari seluruh penduduk India. 

Sementara itu, di AS, sebanyak 95 juta orang atau 28 persen warga sudah menerima dosis vaksin kedua. Meskipun sempat disanjung karena mempunyai pabrik dengan daya produksi vaksin yang tinggi, India kini dilaporkan tengah menghadapi keterbatasan vaksin. Padahal, per 1 Mei, pemerintah akan memulai program vaksinasi bagi seluruh warga negara berusia 18 tahun ke atas. 

Mengutip ulasan Neeta Sanghi di The Wire, setiap bulan, Serum Institute of India (SII) dapat memproduksi 60-70 juta dosis vaksin Covishield (vaksin berlisensi dari AstraZeneca) dan Bharat Biotech sekitar 5 juta dosis vaksin Covaxin. Dalam satu hari, kira-kira tersedia 2,5 juta dosis vaksin. 

Dengan kemampuan memproduksi demikian, dibutuhkan 22 bulan (sampai Februari 2023) untuk menyuntikkan vaksin pada semua orang dewasa (1,68 miliar dosis) di India. 

Situasi bertambah runyam karena masyarakat yang berusia di atas 45 tahun (sekitar 18 persen dari total populasi) masih membutuhkan 371 juta dosis vaksin. Diperkirakan, kelompok ini bakal menyerap semua vaksin yang diproduksi SII dan Biotech sampai September 2021. 

Pada waktu yang sama, Serum Institute of India (SII) yang juga produsen vaksin terbesar di dunia, sudah terikat kesepakatan untuk memenuhi permintaan vaksin dunia. Tahun lalu, SII setuju untuk menyediakan 200 juta vaksin (terdiri dari 100 juta vaksin Covishield/AstraZeneca and 100 juta vaksin Novavax) untuk program vaksinasi global WHO. 

Meskipun sudah berjanji untuk mendistribusikan 100 juta vaksin kepada WHO sepanjang Februari-Mei, SII baru bisa menyediakan mereka dengan 30 juta vaksin—10 juta dosis di antaranya disisihkan untuk India sendiri di bawah program Covax WHO. 

Sementara itu, sejak Maret, otoritas India sudah menangguhkan ekspor vaksin Covishield dalam jumlah besar-besaran ke negara-negara yang sebelumnya sudah menjalin kerjasama komersial dengan SII. 

Di tengah situasi yang mencekam, bantuan dari luar negeri pun mulai berdatangan ke India. Pemerintah Jerman dikabarkan mengirimkan tabung oksigen beserta peralatan medis lainnya. Dari Inggris Raya, ventilator dan perlengkapan oksigen. 

Meskipun New Delhi dan Beijing bersitegang, otoritas Cina menawarkan bantuan kepada India, salah satunya dengan mendorong perusahaan-perusahaan Cina untuk ikut membantu memfasilitasi pengadaan alat-alat kesehatan yang dibutuhkan India. 

Amerika Serikat sempat menunjukkan keengganan untuk membantu India dengan bahan mentah pembuatan vaksin, karena mereka sendiri masih disibukkan dengan program vaksinasi dan penanganan pandemi di dalam negeri. Namun demikian, menurut kabar terbaru dari Gedung Putih, Presiden Joe Biden bakal mengirim perlengkapan oksigen, bahan vaksin dan obat-obatan kepada India. 

Meskipun belum diketahui seberapa banyak bahan mentah vaksin yang akan diberikan khusus untuk India, pemerintah AS berkomitmen untuk membagikan 60 juta dosis vaksin AstraZeneca—yang rupanya belum dapat izin guna di Amerika Serikat—kepada sejumlah negara di dunia.

Related

International 6190909593422375092

Recent

item