Mengapa Laki-laki Bisa Jadi Korban Pemerkosaan? Ini Penjelasan Ilmiahnya


Naviri Magazine - Kasus pemerkosaan tidak hanya terjadi pada wanita, tapi juga pada laki-laki. Namun, selama ini ada semacam kekeliruan, dan sebagian besar masyarakat mengidentikkan pemerkosaan hanya mungkin terjadi pada wanita, dan tidak mungkin terjadi pada laki-laki. Akibatnya, ketika ada laki-laki yang melaporkan bahwa dia diperkosa wanita, masyarakat pun kesulitan berempati terhadapnya.

Kebanyakan masyarakat mungkin bertanya-tanya, mengapa laki-laki bisa jadi korban pemerkosaan? Kenapa dia tidak melawan, dan sebagainya. Berikut adalah penjelasan ilmiah terkait fenomena ini.

1. Organ intim laki-laki dipenuhi ujung saraf, sehingga sensitif terhadap sentuhan

Untuk memahami fenomena ini lebih dalam, kita harus mengetahui seperti apa anatomi organ seksual laki-laki. Area itu merupakan salah satu bagian paling sensitif di sekujur tubuhnya. Sebab, terdapat banyak ujung saraf di permukaan penis. 

Sensitivitas penis umumnya memuncak saat laki-laki sedang dalam masa pubertas atau di usia remaja. Bahkan, dilansir Living Well, remaja laki-laki bisa sensitif terhadap sentuhan di sekujur tubuhnya. 

Kondisi tersebut membuat mereka sering mengalami gairah seksual yang tidak disengaja atau tidak diinginkan. Misalnya ketika area organ intim tak sengaja tersentuh, mengalami getaran saat berada di kendaraan, saat periksa alat kelamin ke dokter, atau bahkan ketika memangku kucing.

2. Kenapa korban pemerkosaan tetap bisa ereksi walau menolak tindakan itu?

Dari poin pertama, kita bisa menyimpulkan bahwa penis yang ereksi atau tegang terkadang tidak bisa dikontrol. Lalu pertanyaannya, kenapa korban pemerkosaan bisa mengalami ereksi jika dirinya menolak tindakan pelaku?

Secara psikologis, korban mungkin menolak tindakan pelaku. Namun, ketika tubuh terus-menerus diberi rangsangan, penis akan ereksi walaupun korban tak menginginkannya. Sebab, ketika disentuh, hormon akan "memerintahkan" darah mengalir ke area tersebut, sehingga penis menjadi "tegang" secara tidak disengaja.

Menurut studi dari Criminal Law and Philosophy tahun 2019 yang berjudul "Can a Woman Rape a Man and Why Does It Matter?", dijelaskan bahwa laki-laki kemungkinan besar tetap "tegang", menunjukkan tanda bahwa mereka bergairah, dan bahkan ejakulasi saat mengalami pemerkosaan. Mekanismenya sama seperti perempuan yang mengalami lubrikasi saat menjadi korban pemerkosaan. 

Seperti yang dipaparkan sebelumnya, ini merupakan reaksi normal tubuh yang sulit untuk dikontrol, terlebih saat seseorang mengalami pemaksaan, tidak berdaya, dan dalam pengaruh alkohol atau obat-obatan. Hal ini terasa membingungkan dan menakutkan bagi korban. Tubuhnya disentuh tanpa izin tetapi respons fisik yang dikeluarkan tak sesuai dengan kata hati. 

3. Rasa takut juga bisa membuat laki-laki ereksi dan ejakulasi

Selain rangsangan yang diberikan oleh pelaku, laki-laki juga bisa mengalami ereksi saat mereka ketakutan. Kondisi inilah yang sering terjadi pada korban pemerkosaan. Sebuah laporan dalam Journal of the American Academy of Psychiatry and the Law berjudul "Male Victims of Sexual Assault: Phenomenology, Psychology, Physiology" menjelaskan kenapa ini bisa terjadi. 

Laki-laki bisa mengalami ejakulasi secara spontan ketika mereka merasa takut, cemas, dan berada di bawah tekanan yang hebat. Tubuhnya juga akan menunjukkan tanda-tanda gairah seperti terangsang, ereksi, jantung berdebar-debar, dan lainnya. Apalagi ketika mereka diancam dan dalam kondisi tak bisa melawan. 

4. Stereotipe dan toxic masculinity menjegal laki-laki saat mengalami pemerkosaan

Dua hal yang paling menyulitkan laki-laki saat mengalami pemerkosaan adalah stereotipe dan toxic masculinity. Ada beberapa label yang lekat pada kaum adam yang dinilai bertentangan dengan kasus pemerkosaan, di antaranya:

Laki-laki dianggap selalu mau melakukan seks. Masyarakat merasa bahwa kaum adam tidak akan pernah menolak hal ini, sehingga korban dipandang beruntung dan harus berterima kasih kepada perempuan yang memerkosanya;

Laki-laki dipandang sebagai makhluk yang kuat, sehingga masyarakat menganggap bahwa pemerkosaan tidak mungkin terjadi padanya. Status "pemerkosaan" pun diragukan;

Seks adalah sesuatu yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan. Hal ini tentu salah karena kedua pihak seharusnya memiliki peran yang sama;

Laki-laki dianggap tidak kehilangan apa-apa saat diperkosa, berbeda dengan perempuan. Padahal, siapa pun yang menjadi korban pemerkosaan pasti akan mengalami trauma yang bisa merenggut hidupnya di masa depan.

Pemikiran-pemikiran tersebut kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab untuk menginvalidasi kejadian pemerkosaan yang dialami laki-laki. Padahal, semua korban tindak kejahatan seksual sama-sama menderita, merasakan sakit, dan kehilangan kehidupannya. Terlepas dari apa gender mereka. 

5. Menjawab pertanyaan, kenapa korban tidak langsung lapor setelah diperkosa?

Korban kekerasan seksual tidak selalu bersedia untuk speak up atau melapor. Bahkan, pemerkosaan yang kita lihat di berita itu belum semuanya. Masih banyak kasus lain yang tidak terekspos karena korban tidak mau melapor. Kenapa ini terjadi?

Pemerkosaan merupakan kejadian yang sangat traumatis untuk korban. Menurut publikasi dari Pennsylvania Coalition Against Rape, mereka akan merasa malu, sendirian, takut dihakimi orang-orang sekitar, disalahkan oleh orang lain, ditanya "pakai baju apa" untuk invalidasi pemerkosaan, atau bahkan diancam oleh pelaku. 

Mereka juga butuh waktu tak sebentar untuk menenangkan diri dari trauma yang dialaminya. Itulah kenapa korban pemerkosaan tidak selalu speak up atau baru melapor setelah lewat beberapa hari, bulan, atau tahun. 

6. Ereksi dan ejakulasi yang dialami korban tidak berarti mereka menikmati pemerkosaan

Ereksi atau bahkan ejakulasi sering disalahpahami oleh pelaku dan masyarakat. Keduanya sama sekali tak berarti bahwa korban menikmati tindakan pemerkosaan. Padahal, sama sekali tidak. Pemerkosaan dalam bentuk apa pun tidak pernah menyenangkan untuk korban, tak peduli apa gender mereka. 

Korban pemerkosaan bahkan tak jarang menyalahkan respons tubuhnya yang tidak sesuai ekspektasi. Kombinasi antara rasa sakit, bingung, dan gairah yang tak diinginkan akan membuat korban malu dan bahkan jijik terhadap dirinya sendiri.

Maka dari itu, tindakan victim blaming atau menyalahkan orang yang diperkosa tidak boleh dinormalisasi dan dibiarkan. Hal ini bukan hanya menyakiti korban, tetapi juga menunjukkan bahwa masyarakat kita tidak memiliki empati terhadap sesama. 

Pemerkosaan terhadap laki-laki itu nyata dan benar-benar terjadi di luar sana, meskipun jarang diberitakan. Jangan gunakan pengalaman menyakitkan ini untuk menghina dan menyalahkan korban. Kita sebagai masyarakat seharusnya melindungi mereka, dan membantu proses hukum agar pelaku mendapatkan sanksi yang setimpal.

Related

Psychology 7874827026223952430

Recent

item