Kisah, Sejarah, dan Asal Usul Topeng Anonymous yang Terkenal di Dunia (Bagian 2)


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Kisah, Sejarah, dan Asal Usul Topeng Anonymous yang Terkenal di Dunia - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Setelah Guy Fawkes tertangkap, anggota komplotan lainnya pun diburu dan dieksekusi mati. Sir Everard Digby, Robert Winter, John Grant dan Thomas Bates dieksekusi pada 30 Januari 1606 di halaman Gereja St Paul. Guy Fawkes, Thomas Winter, Ambrose Rookwood dan Robert Keyes dieksekusi tepat di luar Westminster Hall, di Old Palace Yard, keesokan harinya.

Sementara itu, kepala dua pemimpin komplotan, Percy dan Catesby, yang telah terbunuh sebelumnya di Holbeach House di Staffordshire, dipajang di Parliament House.

Andai Guy Fawkes berhasil

Sesungguhnya, Raja mungkin tidak akan memberi perintah memerika ruang bawah tanah andai Lord Monteagle, seorang Katolik yang loyal pada raja, tidak menceritakan isi surat kaleng yang melarangnya menghadiri pembukaan parlemen. Ia menceritakan surat kaleng itu kepada menteri utama kerajaan Robert Cecil.

Andaikan Monteagle tutup mulut, menurut Sinead Fitzgibbon, gedung parlemen akan meledak pada 5 November 1605. Peristiwa itu akan menginspirasi orang-orang Katolik di Inggris untuk memberontak kepada kelompok protestan Inggris.

“Orang-orang Protestan juga pasti marah dengan pembunuhan itu, dan saya yakin banyak orang akan main hakim sendiri untuk membalas dendam. Tidak sulit membayangkan letusan kerusuhan anti-Katolik di seluruh negeri Inggris,” sebut Fitzgibbon yang pernah menulis sebuah buku berjudul A Short History of London, The Queen and The Gunpowder Plot: History In An Hour.

Fitzgibbon menegaskan bahwa sekalipun gedung parlemen meledak hari itu, posisi orang-orang Protestan tetap tidak tergantikan. Charles, anak James I, pun akan naik takhta. Di satu sisi orang-orang Katolik semakin berani melancarkan pemberontakan, orang-orang Protestan akan terus menjaga kekuasaanya secara lebih otoriter. Inggris pun akan dilanda konflik antar agama.

Pergolakan yang terjadi di dalam negeri itu pun akan menyita banyak perhatian Inggris. Negara kerajaan itu pun tidak akan sempat lagi mengembangkan koloninya di Amerika. Perancis dan Spanyol yang akan banyak bermain seluruh benua Amerika. Jika itu yang terjadi, Inggris tidak akan pernah mendaku sebagai "negeri dengan matahari yang tidak pernah tenggelam".

“Inggris tidak pernah bisa menjadi adikuasa yang terlibat dalam ekspansi kolonial abad ke-17, 18, dan 19. Bahasa Perancis dan Spanyol menjadi bahasa dominan di wilayah AS sekarang,” ungkap Fitzgibbon.

Menjadi simbol perlawanan

Setahun setelah Guy Fawkes ditangkap, pada 5 November 1606, diperingati untuk pertama kalinya sebagai Hari Guy Fawkes. Pada malam hari itu, masyarakat mengarak patung yang menyerupai penampakan fisik Guy Fawkes dan kemudian membakarnya.

Namun arak-arakan yang diselenggarakan tidak hanya memeringati kegagalan komplotan Guy Fawkes sekaligus simbol superioritas Inggris, perlahan berubah. Memasuki abad ke-19, Hari Guy Fawkes dirayakan lebih sekuler. Lalu pada pertengahan abad tersebut masyarakat malah melancarkan penentangan terhadap polisi dan pejabat setempat pada Hari Guy Fawkes.

“Situasinya bahkan lebih mencekam pada 1853; menurut sebuah koran lokal, ‘seseorang akan membayangkan dirinya sedang berada dalam sebuah negara yang diganggu oleh para anarkis dan republikan merah’,” sebut James Sharpe dalam bukunya, “Remember, Remember: A Cultural History of Guy Fawkes Day”.

Sharpe juga mencatat, memasuki abad ke-20, patung yang dibakar dalam perayaan Hari Guy Fawkes mulai mengambil bentuk penampakan fisik para pemimpin negara seperti Margaret Thatcher, Ronald Reagan, atau George W. Bush.

Tradisi ini pun berlangsung hingga abad ke-21. Pada 2016, patung menyerupai penampakan fisik sejumlah politisi, termasuk Donald Trump, diarak dan dibakar dalam perayaan Hari Guy Fawkes di Lewes, Inggris. 

Saat gerakan Occupy Wall Street berlangsung di Amerika Serikat, topeng Guy Fawkes – yang dipopulerkan melalui novel grafis dan film V for Vendetta – didapuk sebagai simbol protes. Topeng ini juga digunakan para demonstran dalam gerakan Arab Spring dan yang menentang rezim Shinawatra di Thailand.

Topeng Guy Fawkes juga dijadikan "wajah" para hacktivist yang dikenal dengan nama Anonymous.

“Wajah Fawkes tidak menawarkan pesan politik spesifik tentang relevansi singkat dan meragukan. Sebaliknya, ia menawarkan sesuatu yang jauh lebih berguna: sistem representasi simbolis yang subversif,” ujar Lewis Call dalam A is for Anarchy, V is for Vendetta: Images of Guy Fawkes and the Creation of Postmodern Anarchism. 

Related

History 3863472066134376949

Recent

item