Kisah Tukang Becak Menyumbang Rp 500 Juta Untuk Anak Miskin


Naviri Magazine - Kemampuan beramal untuk sesama memang tidak tergantung pada apa yang dimiliki, tapi lebih pada niat dan hati. Artinya, amal seseorang pada sesamanya bisa jadi besar, meski sebenarnya dia hanya memiliki sedikit. 

Atau sebaliknya, amal seseorang pada sesamanya bisa jadi kecil, meski sebenarnya dia memiliki banyak. Orang miskin bisa menyumbang sampai jutaan, dan orang kaya bisa hanya menyumbang ribuan.

Terkait amal pada sesama, ada kisah menarik dan menyentuh hati dari daratan China, menyangkut seorang tukang becak tua yang miskin, namun mampu menyumbang ratusan juta pada yayasan yang memelihara anak-anak yatim dan miskin.

Nama pria tua itu adalah Bai Fang Li, seorang tukang becak yang tinggal di Tianjin, China. Usianya tidak lagi muda, setiap hari dia menarik becak di kotanya. Pekerjaannya tidak menghasilkan banyak uang, bahkan Bai Fang Li termasuk dalam keluarga miskin yang tinggal di gubuk sederhana. 

Pakaian yang digunakan sangat lusuh, untuk makan pun Bai Fang Li harus mencari makanan sisa di tempat sampah. Tapi penarik becak yang miskin ini telah menyumbang lebih dari $53.000 atau sekitar Rp 500 juta untuk anak-anak miskin.

Jumlah yang sangat besar, bukan? Uang itu bisa saja dipakai Bai Fang Li untuk menghidupi dirinya sendiri, tetapi dia memilih untuk sedikit demi sedikit membantu sebuah yayasan yatim piatu yang mengasuh 300 anak tidak mampu. 

Saat matahari baru muncul, Bai Fang Li sudah menarik becak dan bekerja. Saat malam mulai dingin, dia pulang ke rumah dan menyisihkan penghasilannya sedikit demi sedikit untuk yayasan tersebut. Sebenarnya, apa yang membuat Bai Fang Li rela menyerahkan hasil kerja kerasnya pada orang lain yang tidak dia kenal?

Pada tahun 1986, Bai Fang Li melihat seorang anak sekitar 6 tahun yang membantu ibu-ibu mengangkat belanjaan di pasar. Setelah diberi uang, anak itu tetap mencari makan dengan mengumpulkan sisa-sisa makanan dari tempat sampah. 

Saat Bai Fang Li bertanya mengapa anak itu tidak membeli makanan dari hasil kerjanya, sang anak mengatakan bahwa dia akan memakai uang itu untuk membeli makanan untuk dua adiknya, karena orang tua mereka tidak diketahui keberadaannya.

Sejak saat itu, hati Bai Fang Li terketuk untuk melakukan cara yang sama. Dia selalu menyisihkan penghasilannya yang tidak seberapa untuk disumbangkan.

Tahun demi tahun berlalu. Pada tahun 2001, usia Bai Fang Li sudah lebih dari 90 tahun. Tubuh tuanya sudah tidak sanggup lagi bekerja dan menarik becak. Dengan tubuh ringkih, Bai Fang Li menyerahkan sisa uang terakhir yang bisa dia sumbangkan pada yayasan. Uang tersebut berjumlah $80 atau sekitar Rp 712.000.

Saat itu, Bai Fang Li mengatakan, "Saya sudah terlalu tua dan lemah untuk menarik becak. Saya tidak bisa lagi memberi sumbangan secara rutin. Mungkin ini sumbangan terakhir yang bisa saya berikan." 

Semua guru dan staf yayasan menangis menerima sumbangan itu. Mereka tahu bukan hal mudah bagi seorang tukang becak setua Bai Fang Li untuk mengumpulkan uang itu. Dari catatan keuangan yayasan, terhitung bahwa sejak pertama kali memberi sumbangan, Bai Fang Li sudah memberi hampir Rp 500 juta untuk yayasan tersebut.

Pada tahun 2005, Bai Fang Li mengembuskan napas terakhir karena terserang kanker paru-paru. Semua anak yang pernah dibantu mengantar kepergian pria baik hati itu dengan tangis haru. Kebaikan hati Bai Fang Li menjadi contoh nyata bahwa kemiskinan bukanlah penghalang bagi seseorang untuk berguna bagi orang lain. 

"Sebuah cinta luar biasa dari sosok yang luar biasa", itulah kalimat yang mengiringi kepergian Bai Fang Li.

Satu kebaikan akan menghasilkan buah kebaikan yang lain. Anak-anak yang dulu dibantu oleh Bai Fang Li dan telah dewasa meneruskan kebaikan hati pria tua itu, untuk selalu membantu anak-anak lain yang kekurangan.

Related

World's Fact 3538436216315670505

Recent

item