Mengapa Banyak Orang yang Suka Selfie? Ini Penjelasan Ahli


Naviri Magazine - Selfie adalah fenomena yang menjadi wabah di dunia, yang menjangkiti generasi milenial pada abad ke-21. Nyaris di semua negara, anak-anak muda yang tumbuh bersama ponsel dan internet juga akrab dengan selfie. 

Selfie, kenyataannya, memang telah menjadi bagian dari komunikasi di era digital bagi berbagai kalangan warganet, terutama milenial. Berdasarkan survei Pew Research Center, sebanyak 55 persen warga AS usia 18-33 pernah membagikan foto selfie di media sosial. Mengapa banyak sekali orang yang suka selfie?

Bagi anak-anak muda, selfie merupakan bagian dari pembentukan identitas dan eksplorasi diri. Dr. Andrea Letamendi, psikolog klinis dari UCLA, mengungkapkan, “Selfie memungkinkan anak muda dan remaja untuk mengekspresikan perasaan dan membagikan pengalaman-pengalaman penting.” 

Lewat selfie, anak muda bisa menjajal cara tampil dengan pakaian, dandanan, pose, dan di tempat-tempat tertentu. Hal ini berpengaruh terhadap perasaan mereka, karena dapat terkait dengan bagaimana orang-orang yang terhubung secara online menerima dan bereaksi atas gambar diri mereka.

Asosiasi negatif selfie memang diamini sebagian orang. Namun, Dr. Pamela Rutledge, direktur Media Psychology Research Center, menangkap yang sebaliknya dari selfie. Ia menyatakan bahwa selfie menyangkut sikap apresiatif dan syukur seseorang. 

Aneka pengalaman menarik di tempat-tempat tertentu, yang diabadikan dalam selfie dan dibagikan kepada orang-orang di media sosial, merupakan perwujudan sikap-sikap tersebut. Dengan melihat kembali memori manis yang tercetak dalam foto-foto selfie, seseorang juga bisa meningkatkan level optimismenya, lantaran foto-foto tersebut memuat emosi positif. 

Selain Rutledge, Gwendolyn Seidman, associate professor Psikologi di Albright College yang berfokus pada relasi dan cyberpsychology, juga memandang selfie sebagai hal yang tak buruk-buruk amat. Ia berargumen, aksi membagikan foto selfie bisa membuat seseorang lebih peka terhadap reaksi orang lain, dan menjadi mawas diri.

Melatih kepekaan bisa dianggap sebagai hal yang positif. Akan tetapi, hal ini bisa menjadi bumerang ketika yang didapatkan seseorang adalah komentar-komentar negatif terhadap foto selfie-nya. Penilaian dan kepercayaan diri yang anjlok adalah efek samping publikasi selfie yang tidak jarang dialami orang-orang. 

Efek negatif bagi diri pengambil selfie ini semakin dimungkinkan oleh adanya standar-standar kecantikan atau pencapaian, yang bila tidak diikuti hanya akan mendatangkan cibiran. 

Related

Psychology 6629535153396376810

Recent

item