Memahami dan Mewaspadai Ancaman Bahaya di Balik Rusaknya Hutan


Naviri Magazine - Jika sebatang pohon di hutan ditebang, dan kayunya digunakan untuk keperluan manusia, mungkin tidak akan menimbulkan dampak apa-apa. Kalau pun menimbulkan dampak, setidaknya kita tidak melihat atau mengetahui dampaknya. Tapi jika jutaan pohon di hutan ditebangi, sehingga jumlah pohon di hutan terus berkurang, maka dampak yang muncul bisa besar sekali.

Sayangnya, itulah yang kini terjadi. Karena keperluan industrialisasi, manusia terus menerus menebangi pohon, merusak hutan, dan luas hutan kian menyempit. 

Padahal, rusaknya hutan di bumi sangat luas dampaknya untuk seluruh makhluk hidup, termasuk manusia. Bagi manusia, keberadaan hutan, khususnya pohon, sangat penting, karena sebagai penyuplai utama oksigen yang merupakan syarat mutlak untuk keberlangsungan hidup manusia.

Sebuah media, Sciensifocus, melakukan hitung-hitungan mengenai kebutuhan oksigen setiap orang dengan keberadaan banyaknya pohon yang dibutuhkan. Setiap tahun, seorang manusia menghirup 9,5 ton udara yang tak semuanya berisi oksigen. Dari jumlah udara yang terhirup saat bernapas, total bersih oksigen yang terpakai 740 kg per tahun. 

Sedangkan sebuah pohon setinggi 12 meter dengan bobot 2 ton, termasuk daun dan akarnya, akan menghasilkan 100 kg oksigen per tahun. Artinya, secara rata-rata, manusia membutuhkan keberadaan 7-8 pohon per tahun.

Celakanya, kerusakan hutan dan pencemaran udara dari kegiatan industri telah mengubah segalanya. The Guardian mencoba menggambarkan dampak kondisi ini bagi manusia, ketika kadar oksigen yang ada di udara makin susut, termasuk akibat makin botaknya bumi. 

Menurut Roddy Newman, penulis buku The Oxygen Crisis, bila dibandingkan zaman prasejarah, kadar oksigen di atmosfer bumi saat ini sudah menyusut lebih dari 30 persen, bahkan untuk kota-kota yang polusinya parah sudah menyusut hingga 50 persen. Pada 10.000 tahun lalu, manusia dan makhluk hidup lainnya lebih banyak mendapatkan pasokan oksigen dari udara.

Menurut penelitian dari Yale University, yang dilakukan oleh Profesor Robert Berner, kandungan udara pada zaman prasejarah 10.000 tahun lalu jauh lebih kaya oksigen daripada saat ini. Diperkirakan, pada 75 juta tahun lalu, kadar oksigen di udara mencapai 35 persen. 

Penelitian lain dari Adelaide University, mengungkapkan pada masa prasejarah, kadar oksigen di udara masih 30-35 persen. Sedangkan saat ini, paling tinggi 21 persen, bahkan di kawasan industri bisa jauh lebih rendah, hanya 15 persen.

“Sejak abad 20, manusia telah mempercepat jumlah karbon dioksida di udara dengan membakar karbon dari batu bara, BBM dan gas. Juga kegiatan menebang hutan,” kata Professor of Geological Sciences, Notre Dame University, Keith Rigby, dikutip dari The Guardian.

Apa jadinya bila manusia hidup dengan sedikit oksigen? Sampai saat ini belum ada studi yang secara signifikan, yang memotret dampak tipisnya oksigen bagi makhluk hidup khususnya manusia. 

Namun, seorang penasihat di PBB, Profesor Ervin Laszlo, pernah mengungkapkan tipisnya oksigen berpotensi serius bagi umat manusia. Kadar oksigen yang rendah berpotensi pada kemampuan manusia dalam menjaga daya tahan tubuh dan organ tubuh mereka agar tak rusak. 

Bila diumpamakan, bumi ini kepala seorang manusia. Rusaknya hutan di dunia sebagai kerontokan rambut. Yang pasti, kerontokan rambut akan membuat seseorang tak sedap dipandang mata. Sayangnya, bumi bukan kepala manusia, yang berdampak pada kepantasan sebuah penampilan semata. 

Setiap kerusakan yang ada di bumi, seperti hutan, akan berimbas pada tatanan ekosistem alam, termasuk berdampak pada manusia. Merosotnya suplai oksigen di bumi akibat menyusutnya hutan hanyalah satu sisi persoalan dari kerusakan hutan. Tegakah kita mewariskan stok oksigen yang terbatas kepada anak cucu kita? 

Related

Science 2742673598468224606

Recent

item