Mengenal Selfitis, Gangguan Mental Gara-gara Kebiasaan Selfie


Naviri Magazine - Mengambil foto diri atau selfie, lalu mengunggahnya ke media sosial semacam Facebook atau Instagram, adalah hal lumrah dan biasa, khususnya di zaman sekarang. Teknologi telah memungkinkan siapa pun untuk berbagi foto dirinya, untuk kemudian mendapat apresiasi dari orang lain. 

Tentu saja, sesekali melakukan selfie adalah hal normal. Namun bagaimana dengan kecanduan selfie?

Ada orang-orang yang tampaknya sangat kecanduan melakukan selfie. Di mana pun dan kapan pun, selagi ada kesempatan, mereka akan mengambil ponsel berkamera, lalu memotret diri dan berpose selfie, untuk kemudian mengunggah foto-foto selfie-nya ke media sosial. Apakah kecanduan selfie termasuk bermasalah, sebagaimana bentuk kecanduan lain?

Selama ini, kenyataannya, sebagian pihak memandang selfie yang jamak dibagikan warganet mengisyaratkan hal negatif, contohnya selfie berkaitan dengan sifat narsisisme dan kebutuhan akan pengakuan yang begitu besar. 

Berbagai kajian ilmiah telah dilakukan untuk menggali fenomena selfie, dan tidak sedikit dari temuan-temuan yang diperoleh mengafirmasi sisi gelap selfie. Satu di antaranya menghasilkan term 'selfitis' yang dideskripsikan sebagai gangguan mental yang berkaitan dengan selfie.

Selfitis merujuk pada kondisi ketika seseorang secara obsesif mengambil foto selfie. Kata ini pertama kali disebutkan dalam sebuah artikel di Adobo Chronicles. Di sana dikatakan bahwa American Psychiatric Association (APA) secara resmi telah menggolongkan kegiatan mengambil selfie sebagai gangguan mental. 

Kebenaran artikel tersebut dibantah organisasi bersangkutan, yang dalam situsnya menyatakan, “Tidak, selfitis tidak dimasukkan dalam DSM-5 [buku pegangan para psikiater untuk menggolongkan gangguan mental], tetapi masih banyak gangguan mental sungguhan yang membutuhkan pengobatan.”

Selfitis sebagai gangguan mental semakin dipercaya sebagai bualan, karena pada laman About situs yang merilis artikel terkait dinyatakan bahwa konten-konten yang mereka publikasikan adalah tulisan-tulisan kreatif, bukan berita.

Kendati selfitis sebagai gangguan mental menurut APA sudah diafirmasi sebagai kebohongan, bukan berarti studi yang bertujuan menguji apakah ada relasi antara aktivitas selfie dengan gangguan mental tak lagi dilanjutkan. 

Dilansir The Independent, Mark Griffiths dan Janarthanan Balakrishnan membuat studi eksploratif terkait selfitis, yang dimuat di International Journal of Mental Health Addiction. Kedua peneliti ini mencetuskan Selfitis Behaviour Scale yang bisa digunakan untuk mengukur perilaku gemar mengambil selfie anak-anak muda.

Setelah mendapat temuan-temuan studi, Balakrishnan menyatakan, “Biasanya, mereka yang menderita hal ini [selfitis] merasa kurang percaya diri, dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, dan mereka mungkin memperlihatkan gejala serupa dengan perilaku kecanduan.” 

Ia berharap, dengan dilakukannya penelitian awal soal selfitis, akan muncul penelitian-penelitian susulan yang mengkaji lebih dalam tentang perilaku obsesif dalam ber-selfie, dan menemukan solusi untuk orang-orang yang berperilaku demikian.

Related

Psychology 4722609649015642243

Recent

item