Rusaknya Hutan dan Nasib Bumi yang Kian Mengerikan


Naviri Magazine - Hutan adalah kekayaan penting yang dimiliki bumi, karena hutan memiliki fungsi yang luar biasa banyak, termasuk menjaga kelestarian bumi serta makhluk-makhluk hidup yang tinggal di dalamnya. 

Hutan, dengan pohon-pohonnya yang mengakar ke dalam tanah, di antaranya memiliki fungsi menjaga kekuatan tanah sehingga tidak mudah longsor, menyerap dan menyimpan air sehingga tidak mudah datang banjir, serta memberi oksigen untuk manusia.

Manfaat yang disebut itu tentu hanya segelintir dari berbagai manfaat lain. Sayangnya, industrialisasi mendorong manusia untuk melakukan perambahan bahkan perusakan hutan tanpa pikir panjang. Pohon-pohon di hutan ditebangi, sehingga dari waktu ke waktu luas hutan kian terancam. Padahal, terancamnya kelestarian hutan akan berdampak pada kelestarian bumi dan isinya.
 
Salah satu hutan terbesar di dunia, Amazon, telah menyusut luasnya hingga 17 persen dalam 50 tahun terakhir. Itu baru Amazon, belum hutan-hutan lainnya di berbagai belahan dunia yang juga mengalami kerusakan parah. Deforestasi dipercaya telah menyumbang 12-20 persen efek rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global hingga perubahan iklim, bahkan penurunan kadar oksigen di bumi.

Manusia tak bisa lepas dari keberadaan hutan yang perannya sangat vital. Dalam sebuah hitung-hitungan kasar melalui teknologi satelit, saat ini diperkirakan ada 3 triliun pohon yang ada di muka bumi. 

Jumlah pohon ini jauh lebih banyak dari jumlah bintang dalam galaksi Milky Way. Jumlah ini kurang lebih memberikan jatah 400 pohon untuk setiap orang dalam populasi manusia di bumi. Sangat cukup untuk memberikan oksigen ke seluruh manusia. Pertanyaannya, akankah semua ini akan tetap tersedia?

Dalam studi Bank Dunia, selama kurun waktu 1990-2015, ada 1,3 juta km persegi lahan hutan yang hilang dari muka bumi. Jumlah ini menyusut dari 41,5 juta km persegi menjadi 39,9 juta km persegi. Kebotakan pada bumi makin tak bisa dihindari. Padahal pada awal abad ke-20, luas hutan yang ada di Bumi masih tercatat 50 juta km persegi. Industrialisasi oleh manusia telah mengubah segalanya.

Jumlah hutan yang menyusut setara dengan luas Afrika Selatan, atau rata-rata setiap jam seukuran 1.000 lapangan sepakbola hutan hilang. Kawasan Amerika Selatan dan Karibia merupakan penyedia hamparan hutan terbesar kedua. Kawasan ini sudah kehilangan 9,5 persen lahan hutan dalam 25 tahun. Kondisi terparah terjadi di kawasan sub sahara Afrika, punahnya hutan terjadi sebanyak 11,9 persen.

Untungnya, ada beberapa wilayah yang masih mengalami pertumbuhan jumlah hutan, seperti Timur Tengah-Afrika Utara, Asia Selatan, Eropa-Asia Tengah, Asia Timur-Pasifik, dan Amerika Utara. Timur Tengah-Afrika Utara menjadi penyumbang penambahan kawasan hutan yang tumbuh 16,4 persen dalam 25 tahun.

Tentunya orang-orang di bumi tak bisa mengandalkan dari pertumbuhan bertambahnya hutan dari negara-negara tadi. Saat ini, cadangan hutan terbesar di dunia masih dipegang oleh 10 negara yang memiliki lahan hampir 2/3 dari lahan hutan yang ada di bumi, termasuk Indonesia yang menyumbang hanya 0,9 juta km persegi. 

Rusia masih menjadi negara dengan pemilik hutan terbesar hingga 8,2 juta km persegi, disusul oleh Brazil hingga 3,9 juta km persegi, selebihnya disumbang dari Kanada, AS, Cina, Kongo, Australia, Peru, dan India.

Data Bank Dunia juga menunjukkan, dari 64 negara hanya ada 36 negara atau 56 persen yang berhasil menjaga hutannya, atau kerusakan hutan nol persen sejak 1990, termasuk Singapura. Sementara itu, angka kerusakan hutan di Indonesia cukup kasat mata. Pada 1990, masih ada 1.185.450 km persegi lahan hutan, tapi kini hanya tersisa 910.100 km persegi, atau susut 23 persen. 

Related

Science 4141541083718641558

Recent

item