Kontroversi Bunda Teresa dan Gelar Orang Suci dalam Gereja Katolik (Bagian 1)


Naviri Magazine - Dalam tradisi Katolik Roma, santo atau santa—status orang kudus dalam gereja Katolik—adalah gelar yang menunjukkan tingginya kesucian dan kedekatan seseorang dengan Tuhan. 

Status pemberian gereja itu menjadi spesial karena orang lain bisa berdoa kepada mereka, dan sering kali didaulat menjadi pelindung atau panutan bagi hidup orang yang dibaptis. 

Menurut Ensiklopedia Britannica, meski tidak semua menjadi santo/santa, tidak kurang dari 10 ribu orang telah melalui proses pencalonan sebagai ‘orang suci’ sejak Paus Yohanes XV memperkenalkan sistem kanonisasi itu di abad ke-10. Maklum, sebelum pengakuan formal, status kesucian ini diberikan oleh masyarakat. 

Kanonisasi adalah proses panjang yang dilakukan gereja untuk menimbang kepantasan seseorang menerima gelar santo/santa. Dalam proses ini, ada persyaratan yang harus dipenuhi. Orang itu harus menjalani kehidupan yang suci, umumnya heroik, sesuai dengan ajaran gereja, atau telah melakukan suatu pertobatan yang tulus, serta menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan dengan sungguh-sungguh. 

Selain itu, ada syarat lain yang tak bisa ditawar: harus ada minimal dua mukjizat terjadi atas namanya. Mukjizat itu bisa dilakukan secara langsung, namun boleh juga terjadi setelah orang yang bersangkutan meninggal, dan mukjizat itu dipercaya berasal dari almarhum. 

Jika kriteria itu bisa dipenuhi, prosedur kanonisasi baru bisa dilakukan paling cepat lima tahun setelah yang bersangkutan meninggal. 

Dalam pelaksanaannya, proses kanonisasi Gereja Katolik kerap diiringi kontroversi. Salah satu yang paling riuh dan menarik perhatian adalah dalam proses kanonisasi Bunda Teresa yang disahkan menjadi "Santa Teresa dari Kolkata" oleh Paus Fransiskus pada 2016. 

Incaran Pemburu Berita 

Bunda Teresa lahir di Skopje, wilayah Imperium Ottoman, sekarang ibukota Republik Makedonia Utara, dengan nama Anjezë Gonxhe Bojaxhiu. Ia dikenal sebagai orang yang mendedikasikan puluhan tahun hidupnya untuk melayani kaum miskin dan orang-orang sakit. 

Pengabdiannya pada Gereja Katolik dimulai ketika ia meninggalkan rumahnya di usia 18 tahun untuk bergabung dengan ordo Sisters of Loreto di Loreto Abbey, Rathfarnham, Irlandia. Namun, peran Teresa dalam pengabdian masyarakat baru benar-benar dimulai 20 tahun kemudian, ketika ia memutuskan keluar dari Loreto dan mendirikan ordonya sendiri. 

Ceritanya dimulai ketika ia mengajukan permohonan untuk mendirikan ordo baru yang berdedikasi melayani orang miskin dan sakit. Empat tahun setelah permohonan diajukan, otoritas Vatikan mengizinkan pendirian resminya pada 1950. Maka ordo Missionaries of Charity pun resmi berdiri. 

Dua tahun kemudian, ordo itu mendapatkan izin untuk menempati sebuah gedung peninggalan komunitas Hindu. Gedung itu diberi nama Kalighat Home for the Dying—merujuk pada nama wilayah di Kolkata, lokasi gedung itu berdiri. Setelah sedikit renovasi, gedung itu dialihfungsikan menjadi lokasi penampungan orang miskin, dan peristirahatan orang-orang sakit yang seratus persen bebas biaya. 

Pada 1969, Malcolm Muggeridge, jurnalis Inggris yang juga mantan simpatisan komunis, mengunjungi gedung itu. Ia berangkat bersama Ken McMillan, juru kamera yang bertugas mengambil video aktivitas di dalam gedung. Mereka datang dengan surat tugas dari British Broadcasting Corporation (BBC) untuk sebuah proyek film dokumenter. 

Membawa peralatan baru dari Kodak, McMillan khawatir dengan kondisi dalam gedung yang sangat minim penerangan. Konon, ia tidak yakin video rekamannya bisa terlihat karena ia tidak sempat melakukan uji coba dengan peralatan baru itu sebelum berangkat. 

Beberapa Minggu kemudian, seluruh anggota tim pembuatan film dokumenter itu berkumpul untuk meninjau hasil kerja mereka. Ajaibnya, seluruh sudut ruangan gelap di gedung itu terlihat. Barisan alas tidur yang digunakan oleh orang-orang sakit tampak jelas dalam rekaman. 

McMillan mengakui hasil bagus itu berkat jasa Kodak karena memberikan teknologi mutakhir yang sanggup merekam di situasi gelap. Berbeda dengan McMillan, Muggeridge yang duduk di barisan depan kala meninjau video itu langsung menegaskan bahwa itu adalah keajaiban yang terjadi pertama kali dalam dokumentasi video. 

MacMillan dibuat kaget karena ia melihat Muggeridge mengklaim video itu sebagai mukjizat karena berhasil merekam secara detail hal-hal yang ia temui di dalam ruangan gelap. Ia menyebutnya “divine light” dan menganggapnya mukjizat pertama yang berhasil terekam video. 

MacMillan tak sempat membantahnya kala itu. Beberapa hari kemudian ia bahkan mendapat telepon dari sesama jurnalis di London yang ingin mewawancarainya karena dianggap sebagai saksi sebuah mukjizat. 

Dua tahun setelah proyek dokumenter itu rampung, Muggeridge menulis buku dengan judul Something Beautiful for God, yang merupakan cerita pengalamannya mengunjungi Home for the Dying. Sekali lagi ia menegaskan mukjizat yang ia alami di Kolkata. 

Sejak itu, popularitas Bunda Teresa semakin menanjak. Ia menjadi sosok religius baru di masyarakat. Dalam waktu singkat, relasi yang saling menguntungkan antara Bunda Teresa dan media massa terjalin. 

Gëzim Alpion dalam buku Mother Teresa: Saint or Celebrity?, menulis, “hubungan biarawati dengan media juga memperlihatkan bahwa seperti orang terkenal lainnya, tokoh agama juga sering menggunakan pers dan setiap alat komunikasi lain dengan cerdik untuk menjangkau audiens yang dituju.” 

Baca lanjutannya: Kontroversi Bunda Teresa dan Gelar Orang Suci dalam Gereja Katolik (Bagian 2)

Related

International 2569607175851172737

Recent

item