Meski Pakai Masker, Kita Harus Tetap Tersenyum: Ini Alasannya


Naviri Magazine - Masker jadi salah satu elemen wajib saat meninggalkan rumah. Hanya saja menutupi area mulut dan hidung juga berarti menutupi senyum terbaik Anda. Padahal senyum memberikan kesan hangat dan bersahabat.

Anda ingin merepresentasikan pribadi yang hangat. Namun apa yang bisa dilakukan ketika senyum kini ditutup masker?

Ahli bahasa tubuh Janine Driver, pendiri dan presiden Body Language Institute di Washington DC., menyebut, meski mengenakan masker sebaiknya Anda tetap tersenyum.

Berikut alasan harus tetap tersenyum meski mengenakan masker.

Mata juga ikut tersenyum

"Kita beruntung ada banyak informasi tampak dari mata dan alis. Dengan kebahagiaan yang nyata, kita melihatnya lewat kerutan di sisi mata," kata Driver, seperti dikutip Today.

Psikolog Paul Ekman menambahkan ekspresi wajah yang menggambarkan senyum sejati muncul dari garis tawa plus mata menyipit dan berkerut. Anda bahkan tetap bisa mengenali bayi Anda sedang tersenyum meski memakai dot berkat matanya.

Smiling voice

Suara Anda pun bisa menunjukkan bahwa Anda sedang tersenyum atau tidak. Umumnya ini dikenal dengan istilah 'smiling voice'.

Menurut Ursula Hess, peneliti emosi dan ekspresi wajah di Humboldt University of Berlin, Jerman, senyum mengubah bentuk mulut sehingga membuat suara lebih ceria.

"Itu akan terdengar ceria. Ini karena perubahan pada bentuk mulut mengubah modulasi suara kita. Kalau wajah yang tampak serius, sebaliknya, akan terdengar suram," jelas Hess mengutip dari Scientific American.

Untuk meredakan ketegangan karena senyum yang tidak terlihat, Anda bisa menambahkan elemen bahasa tubuh lain. Dengan begini, interaksi sosial tidak akan terganggu meski memakai masker.

1. Lepas kacamata hitam

Masker dan sunglasses alias kacamata hitam adalah perpaduan sempurna untuk mengalienasi diri dari dunia. Jika memungkinkan, sebaiknya tanggalkan kacamata hitam Anda dan mulai berinteraksi dengan orang lain lewat mata.

"Ketika kami tidak bisa menatap mata Anda, kami tidak bisa menginterpretasikan emosi Anda, dan jika kami tidak bisa menginterpretasikan emosi Anda, kami jadi diliputi ketidakpastian dan ketidakpastian ini membuat kami tidak percaya Anda dan kami merasa tidak nyaman di sekitar Anda," jelas Driver.

2. Anggukan kepala atau lambaian tangan

Anggukan kepala atau lambaian tangan juga akan menumbuhkan koneksi dengan orang lain. Namun Bea de Gelder, profesor ilmu saraf kognitif di Maastricht University, menyebut akan sulit jika gerakan ramah ini tidak dipadu dengan senyuman.

Sebagaimana dilansir The Washington Post, wajah, suara dan tubuh biasanya 'bersatu'. Dengan kata lain, Anda secara alami cenderung melambai dengan antusias jika Anda sudah tersenyum. Kalau ekspresi netral, bakal perlu upaya lebih untuk mempraktikkan bahasa tubuh ini.

3. Tatap mata

Berikan perhatian pada lawan bicara Anda dengan menatap matanya saat berbicara. Anda pun bisa mengenali emosi lawan bicara lewat matanya.

Driver berkata mata yang tampak rileks berarti orang merasa nyaman. Namun jika mata menyempit seperti sedang memasukkan benang ke dalam jarum, bisa menandakan stres, marah atau merasa terancam.

4. Aktifkan alis

Selain mata, alis pun bisa digunakan sebagai alat komunikasi. Gerakan alis seperti gerakan naik mampu mengisyaratkan bahwa Anda memperhatikan lawan bicara. Lewat alis pula Anda bisa mengenali apa yang dirasakan lawan bicara.

Otot di area alis merupakan salah satu otot yang sulit dimanipulasi. Saat alis menyatu di tengah, ini menandakan kesedihan. Alis yang turun bisa menandakan kemarahan. Sebaliknya jika alis terlihat naik, bisa menandakan rasa terkejut.

Related

Tips 536055548105377911

Recent

item