Ini Penyebab Training Karyawan di Perusahaan Tidak Membawa Perubahan Apapun


Salah satu miskonsepsi yang paling sering terjadi adalah anggapan bahwa training adalah magic, solusi atau obat atas segala masalah kinerja. Sehingga apapun masalah yang ada di perusahaan, maka orientasi solusinya adalah training. Dikiranya, dengan training bisa dengan mudah dan cepat mengubah sifat/sikap/kinerja karyawan.

Padahal masalah dalam kinerja banyak sekali faktornya. Selain faktor SDM, ada juga faktor peralatan kerja, prosedur dan sistem, lingkungan kerja, kebijakan remunerasi, dsb.

Selain itu, pelatihan seringkali dianggap sebagai “bengkel”. Kalau Anda memiliki masalah pada kendaraan, maka solusinya Anda titipkan kendaraan tersebut di bengkel. Dan ketika selesai dari bengkel, maka masalah hilang. 

Sayang sekali, mindset seperti ini juga yang terjadi ketika ada masalah dalam kinerja. Dikiranya, dengan mengirimkan karyawan untuk mengikuti training selama 2-3 hari, lalu pulang-pulang kinerjanya langsung “beres”.

Mengubah sikap, motivasi dan kompetensi kerja bukanlah suatu hal yang mudah. Karena manusia tidak mekanis seperti mesin. Manusia merupakan makhluk kompleks yang terbentuk dari berbagai faktor. Pelatihan selama 2-3 hari saja tidak akan mampu mengubah secara signifikan kinerja seseorang. Apalagi sekarang, dimana pelatihan berubah menjadi online, tantangannya jadi semakin berat.

Dalam membuat desain pelatihan, kita mengenal prinsip 10:70:20, dimana 10% adalah pelatihan kelas atau online. (Ya, ternyata pelatihan hanya memberikan dampak 10% terhadap perubahan). 70% adalah praktek lapangan, dan 20% adalah coaching dan mentoring. 

Desain itu memang harus komprehensif, dimana seseorang belajar, praktek, lalu melakukan perbaikan terus menerus melalui program coaching. Ini adalah desain yang harus dilakukan untuk membuat program training yang berdampak.

Jadi mengirimkan karyawan untuk training 1-2-3 hari dan berharap mereka berubah adalah harapan yang berlebihan.

Alasan terakhir mengapa pelatihan tidak memberikan perubahan, karena perubahan itu tidak terukur. Misalnya Anda ingin menurunkan berat badan. Anda melakukan berbagai upaya seperti diet dan olahraga. Lalu tahu dari mana program Anda berhasil? Gampang sekali, Anda punya alat ukur, kan? Yaitu timbangan.

Sayangnya, di berbagai perusahaan hasil pelatihan tidak diukur dengan lengkap. Kalau kita pakai metode training evaluation yang paling banyak dipakai, yaitu Kirkpatrick model, kita paham ada 4 level evaluasi. Yaitu (1) Reaction, (2) Learning, (3) Behavior, (4) Impact. Sedangkan level evaluasi yang paling sering dipakai hanyalah level 1 (melalui form evaluasi kepuasan training) dan maksimal level 2 (melalui pretest dan posttest).

Ini pun sering tidak dilakukan dengan benar. Pre-post test yang sering dilakukan selama ini hanyalah mengukur peningkatan pengetahuan melalui 10-20 pertanyaan pilihan ganda saja. Padahal peningkatan pemahaman seharusnya diukur dengan metode yang lebih komprehensif seperti studi kasus atau asesmen lain.

Sehingga bisa dilihat mengapa pelatihan sering kali tidak memberikan dampak, karena memang dampaknya tidak diukur.

Training tidak murah, ada banyak perusahaan yang mengeluarkan angka fantastis untuk mewujudkan program training yang mampu berdampak pada pencapaian perusahaan. Namun karena hal-hal diatas, anggaran besar itu menguap sia-sia.

Related

Business 164890833123467972

Recent

item