Kesepian Ternyata Bisa Menyebabkan Penyakit Jantung dan Stroke


Naviri Magazine - Ada orang-orang yang terbiasa sendirian, tapi tidak merasa kesepian, karena memang ada kesibukan yang dikerjakan. Misalnya penulis, pelukis, atau orang dengan pekerjaan lain yang memang terbiasa dengan kesendirian dan keheningan. Orang-orang semacam itu, meski kerap sendirian, namun tidak kesepian.

Sebaliknya, ada orang-orang yang tidak terbiasa dengan kesendirian semacam itu, dan kerap merasa kesepian. Mereka sendirian bukan karena memang ingin sendirian—sebagaimana yang dialami penulis atau pelukis—namun karena merasa tidak ada orang yang menemani. Orang-orang yang dia kenal sibuk dengan urusan masing-masing, dan dia pun merasa kesepian.

Professor John Cacioppo dari Universitas Chicago menyatakan bahwa mereka yang berusia di atas 50 tahun akan lebih berisiko merasakan kesepian. Ada paradigma di mana saat seseorang pensiun, terutama di Amerika, mereka akan memutuskan hubungan dengan rekan kerja, teman, dan keluarga, untuk berlibur dan menunggu kematian di Florida.

"Pensiun dan pindah ke Florida untuk hidup di iklim yang lebih hangat di antara orang yang asing, bukanlah ide yang bagus kalau dengan cara itu Anda memutuskan hubungan dengan orang-orang yang berarti," jelas Prof. Cacciopo.

"Kita mesti memperlakukan hubungan sosial kita lebih serius," jelas Julianne Holt-Lunstad, ilmuan dari Brigham Young University, yang mempelajari tentang kesendirian. "Efeknya bisa dibandingkan dengan obesitas, sesuatu yang saat ini tengah dilihat serius." 

Berdasarkan penelitian dari Universityof York, kesendirian bisa menghancurkan jantung, secara harfiah. Stres dan ketakutan, diasosiasikan dengan hidup sendirian, bisa memancing respons yang berkobar-kobar pada tubuh, yang menjadi risiko terbesar pada penyakit jantung. 

Mereka yang terisolasi secara sosial, atau mereka yang kesepian, sebanyak 29 persen berisiko terkena penyakit jantung dan 32 lainnya berisiko mengalami stroke.

Related

Health 5288619088002300683

Recent

item