Racun Kalajengking Ternyata Punya Manfaat untuk Pengobatan


Naviri Magazine - Kalajengking, sebagaimana ular, telah lama diketahui sebagai hewan berbisa atau beracun. Gigitannya tidak hanya menimbulkan rasa sakit, namun juga dapat membuat korban mengalami masalah akibat racun yang dialirkan oleh kalajengking dalam gigitannya. Yang mengejutkan, ternyata racun kalajengking juga dapat dimanfaatkan untuk tujuan pengobatan.

Racun kalajengking telah mendapatkan perhatian sebagai sumber obat baru. Racun hewan itu berisi campuran bahan kimia biologis yang disebut peptida, beberapa di antaranya diketahui memicu kematian sel dengan membentuk pori-pori dalam membran biologis.

Kematian sel dapat berguna jika kita mampu menargetkan, misalnya, sel-sel tumor untuk dihancurkan secara otomatis, menurut laman The Conversation.

Racun ini dapat memiliki efek yang sangat kuat. Misalnya, satu peptida kecil tertentu, yang dikenal sebagai TsAP-1, diisolasi dari kalajengking kuning Brasil (Tityus serrulatus), memiliki sifat anti-mikroba dan anti-kanker.

Namun, memanfaatkan kekuatan semacam itu untuk manfaat klinis, sejauh ini menantang, karena racun membunuh sel tumor dan sel sehat. Salah satu metode untuk mengendalikan toksisitas tersebut adalah dengan menggunakan nanoteknologi, untuk membangun sarana pengantar obat yang dibuat khusus.

Jika berhasil, obat beracun dilepaskan untuk membunuh hanya jaringan yang tidak diinginkan dalam tubuh. Salah satu upaya tersebut telah dilakukan oleh Dipanjan Pan di University of Illinois di Urbana-Champagne.

Sementara itu, kalajengking biru (Rhopalurus junceus) lebih dari sekadar endemik beracun di pulau Kuba, sebagaimana dilaporkan laman Scorpion Worlds. Mereka adalah aktor utama penelitian yang sedang dilakukan untuk menemukan obat untuk kanker payudara, penyakit yang telah mengakhiri kehidupan jutaan wanita di dunia.

Demetrio Rodríguez Fajardo dari Meksiko, yang baru berusia 17 tahun, menemukan protein dalam racun kalajengking ini untuk mengobati dan menyembuhkan kanker payudara. Temuan itu membuatnya mendapat banyak pengakuan, tetapi juga menghasilkan banyak kontroversi. Sementara, kenyataannya, racun kalajengking adalah bagian dari obat alternatif Kuba sejak lama.

Produsen obat Kuba, Labiofam, adalah pencipta obat penghilang rasa sakit dan anti-inflamasi, yang dikenal sebagai Vidatox. Obat ini dibuat dari racun kalajengking biru untuk meningkatkan kesehatan pasien yang menderita kanker, dan sudah membantu lebih dari 65.000 orang. Para pencipta mengklaim butuh waktu 15 tahun untuk menghasilkan obat itu.

Mungkin perbedaannya adalah bahwa penemuan Meksiko pertama berfokus pada penyembuhan kanker payudara, sementara obat Kuba mengkhususkan diri dalam meningkatkan kualitas hidup pasien dengan berbagai jenis kanker hingga 85 persen.

Di Madison, Wisconsin, cara-cara baru telah dikembangkan untuk mendapatkan obat-obatan yang mengobati penyakit seperti gagal jantung, di mana komponen utamanya adalah racun kalajengking. Mereka mulai dengan analisis 15 spesies arakhnida ini, menemukan bahwa kalajengking kaisar adalah salah satu dari mereka yang berperilaku mendukung dalam percobaan.

Related

Science 2383482647147141312

Recent

item