5 Hewan Langka yang Tercancam Punah di Pulau Sumatera Indonesia


Indonesia dianugerahi rupa-rupa satwa mengagumkan endemik negeri ini. Biasanya setiap daerah pasti memiliki binatang khas dan unik. Sayangnya, manusianya kurang bisa merawat. Hewan-hewan itu pun lalu terancam punah karena diburu, dan habitatnya mulai rusak akibat ulah manusia yang tak bertanggung jawab.

Dari banyaknya binatang tersebut, berikut ini beberapa binatang yang disinyalir hampir mengalami kepunahan di setiap daerah, khususnya di Sumatera. 

1. Harimau Sumatera 

Tahukah anda jika saat ini populasi Harimau Sumatera semakin menurun? Jumlah populasi hewan gagah ini terancam punah karena mati ataupun karena perburuan yang sadis.

Forum Harimau Kita (FHK) melansir hewan dengan nama latin Panthera Tigris Sumatrae itu diperkirakan berjumlah sekitar 250 ekor. Padahal data 1978 jumlahnya mencapai 1.000 ekor. Namun sembilan tahun kemudian, pada 1987 populasinya berkurang menjadi 500 ekor. Jumlah itu bertahan selama 5 tahun, lalu kembali turun menjadi 250 ekor.

Sementara itu, data World Wildlife Fund (WWF) menyebut satwa endemik Indonesia yang populasinya saat ini tersebar dalam populasi-populasi kecil di dalam dan di luar kawasan konservasi di Sumatera, itu jumlahnya antara 300 sampai 400 ekor. Jumlahnya akan terus berkurang karena perburuan dan kerusakan hutan.

2. Orangutan Sumatera 

Kematian orangutan Sumatera setiap tahun terus bertambah akibat kejamnya para pengusaha tambang dan kelapa sawit. Penebangan liar yang dilakukan para pengusaha tersebut adalah yang memicu kepunahan spesies orangutan. Data International Union for Conservation of Nature (IUCN), menyebutkan populasi orang utan Sumatera lebih parah daripada saudaranya di Kalimantan. Orang utan diklasifikasikan sangat terancam punah.

3. Gajah Sumatera 

Data World Wildlife Fund (WWF) Indonesia menunjukkan sudah lebih dari 100 ekor gajah Sumatera (Elephas Maximus) ditemukan mati di wilayah Riau, Sumatera sejak tahun 2004. Selama tahun 2012 lalu saja, di Riau ditemukan 30 gajah mati.

Angka ini ternyata terus bertambah. Tanggal 31 Mei 2013 Tim Pemasangan GPS Collar WWF-Indonesia, menemukan lagi dua gajah Sumatera mati di kawasan Tesso Nilo. Temuan dua ekor bangkai gajah tersebut, masing-masing seekor jantan dewasa di lahan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Sektor Ukui dan seekor betina dewasa ditemukan di dalam batas wilayah Taman Nasional Tesso Nilo.

Belakangan beredar foto tragis bangkai gajah Sumatera mati tanpa kepala karena dimutilasi. Binatang berbelalai endemik Indonesia yang populasinya kian menyusut tersebut dikabarkan mati karena diburu, kemudian dipotong kepalanya untuk diambil gadingnya.

Pada 2012 lalu, WWF sempat mencatat 30 kasus perburuan gajah di kawasan hutan Aceh, masih di kawasan hutan Aceh Tengah--lokasi penemuan bangkai gajah jantan yang mati dengan kepala dimutilasi seperti dalam foto yang beredar kemarin. Menurut Sunarto, ada kemiripan dalam kasus yang terjadi pada 2012 lalu dengan kasus penemuan bangkai gajah kemarin.

Bangkai gajah sama-sama jantan, ditemukan mati tanpa gading. Para pemburu gajah yang sadis. Rata-rata mereka profesional, makanya jarang tertangkap. Cara mereka mendapatkan gading dengan membunuh gajah jantan, kemudian mengambil gadingnya. "Kalau yang buru-buru lebih sadis lagi, mereka memutilasi kepala gajah, lalu membawanya pulang. Di rumah, baru gadingnya diambil," terangnya.

Kasus yang terjadi di Aceh tengah tersebut mengindikasikan bahwa pemburu ingin mendapatkan gading dengan cepat. Mereka takut perbuatanya ketahuan, sehingga mereka langsung saja memenggal kepala gajah lalu dibawa pulang. "Gading gajah ini harganya memang mahal. Kami berharap pemerintah lebih serius lagi menyelamatkan gajah Sumatera. Kami harap dibentuk lah inteligen gajah," ujarnya.

4. Badak Sumatera 

Badak Sumatera juga dikabarkan akan segera mendekati kepunahannya. Hal itu diketahui karena telah sedikitnya spesies badak yang masih bertahan hidup di kawasan Sumatera. Untuk mencegah kepunahan badak Sumatera ini, pihak Indonesia dan Malaysia sepakat untuk melakukan kerja sama dalam mewujudkan hal tersebut.

Dilansir dari Softpedia, kesepakatan yang terbentuk dari pertemuan tersebut adalah pihak Malaysia bersedia meminjamkan badak liar mereka untuk dikirim ke hutan Sumatera guna melakukan program pembuahan dengan badak asli Sumatera.

"Kami dan pihak konservasi badak sumatera di Indonesia akan mengusahakan persetujuan dari pihak pemerintah Malaysia untuk melakukan hal yang terbaik demi menyelamatkan spesies badak Sumatera di Indonesia," ujar Laurentius Ambu selaku perwakilan dari Sabah Wildlife Department, Malaysia.

Ambu juga menambahkan jika peminjaman badak dari Malaysia oleh Indonesia ini sudah menjadi satu-satunya cara untuk menyelamatkan spesies badak Sumatera, maka hal ini sepatutnya harus dilaksanakan sedari sekarang.

5. Tapir Sumatera

Tapir adalah binatang asli Sumatera, namun juga bisa ditemukan di Malaysia dan Thailand. Binatang ini mempunyai ciri khas hidung panjang yang sekilas mirip dengan belalai gajah. Hewan unik ini tubuhnya berwarna hitam putih dan setiap berjalan dan setiap berjalan pasti batang hidungnya selalu menyentuh tanah.

Belakangan ini populasinya semakin menurun. Binatang ini terancam punah karena adanya penebangan liar hutan-hutan oleh manusia. Sehingga hutan menjadi gundul dan mengakibatkan banjir. Akibatnya habitat-habitat binatang yang ada di hutan tersebut banyak yang mati.

Dalam masalah ini, hanya Suaka Marga Satwa lah yang ditunjuk sebagai kawasan penting bagi perlindungan binatang hampir punah tersebut. Bukan hanya badak, gajah dan harimau saja yang dilindungi, tapi Tapir juga merupakan salah satu binatang satwa yang harus dilindungi karena terancam punah.

Related

Animals 7758687396795108112

Recent

item