Ada Biaya Tersembunyi di Balik Penjualan NFT, Ini Penjelasannya


Warganet di Indonesia belakangan dihebohkan oleh kabar kesuksesan seorang pemuda bernama Ghozali, yang menjual foto selfie dirinya sebagai Non Fungible Token alias NFT. 

Tidak heran jika saat ini penjualan NFT menjadi salah satu aset kripto yang sedang naik daun. 

NFT adalah sebuah token kriptografi yang mewakili suatu barang yang dianggap unik. Dengan memiliki aset NFT, pemilik seperti memiliki karya seni atau barang antik. 

Sederhananya, NFT ibarat sertifikat atas karya tersebut, dan pemilik bisa menjualnya. Dalam kasus Ghozali, "barang antik" di sini adalah kumpulan foto selfie miliknya yang ia jual di marketplace NFT populer, OpenSea. 

Kurang lebih ada 933 foto selfie Ghozali. Koleksi ratusan NFT foto selfie Ghozali itu diberi nama "Ghozali Everyday".

Jika tertarik menjual NFT, pengguna perlu tahu soal biaya-biaya tersembunyi di balik penjualan NFT tersebut. Berikut adalah daftar biaya untuk penjualan NFT.

Gas Fee

Pertama adalah Gas Fee yang merupakan biaya pengeluaran pengguna untuk mengkompensasi energi komputasi saat memproses dan memvalidasi transaksi pada Blockchain Ethereum.

Biaya tersebut dikeluarkan saat minting smart contract pada Blockchain. Semakin cepat prosesnya maka makin tinggi biaya yang harus dibayarkan pada marketplace NFT serta jaringan kripto.

Di biaya ini, ukuran yang digunakan adalah GWEI. Satu GWEI sama dengan 0,000000001 Ethereum dan maksimalnya adalah 21.000 GWEI atau 0,000021 Ethereum.

Biaya transaksi NFT

Biaya tambahan lain adalah yang ditetapkan oleh platform marketplace. Misalnya, OpenSea membebankan biaya awal untuk menginisiasi akun senilai 70 dolar AS hingga 300 dolar AS. Sedangkan akses ke NFT sekitar 10 dolar AS sampai 30 dolar AS. Selain itu masih ada tambahan 2,5 persen dari harga produk saat terjual.

Di Foundation, biaya tambahan awal berkisar 120-400 dolar AS. Ada pula biaya sebesar 15 persen dari harga jual awal sebagai biaya layanan.

Related

Internet 3699074357094394738

Recent

item