Asal Usul Lahirnya Coinbase dan Masalah yang Timbul Terkait Bitcoin


Bermimpi menjadi seorang pengusaha di bidang teknologi, Brian Armstrong, teknisi software Airbnb yang pernah bekerja di IBM dan Deloitte, percaya bahwa ia lahir terlambat di dunia. Musababnya, revolusi internet yang dimulai oleh Tim Berners-Lee melalui world wide web (www) pada awal 1990-an telah usai dengan melahirkan Google, Amazon, Netflix, Facebook, hingga Twitter sebagai pemenang.

"Seharusnya aku lahir lebih awal, deh," terang Armstrong. "Di saat aku lulus kuliah dan mulai bekerja, aku khawatir aku telah terlambat. Perusahaan-perusahaan internet telah terbentuk, revolusi [digital] telah terjadi."

Di tengah-tengah kekhawatiran tak kebagian kue digital, Armstrong awalnya pasrah saja, menerima nasibnya sebagai pegawai Airbnb--salah satu penguasa teknologi. Namun, takdir tampaknya berkata lain. 

Ketika tengah menikmati liburan Natal 2009 di rumah orang tuanya, Armstrong tak sengaja menemukan dokumen setebal sembilan halaman yang menggiringnya mengubah haluan hidup. Dokumen itu ditulis oleh Satoshi Nakamoto yang merupakan buku putih Bitcoin.

Dalam buku itu, Nakamoto--yang belum diketahui sosok aslinya--memublikasikan ide penciptaan mata uang baru, mata uang digital bernama Bitcoin. 

Karena kecewa dengan negara, Nakamoto merancang mata uangnya tanpa melibatkan penengah (pihak ketiga), menghilangkan ketergantungan terhadap bank, misalnya, yang menjadi jembatan (pencatat transaksi) antar nasabah. Mengganti kartu debit/ATM dan PIN ala perbankan dengan private key dan public key yang saling terkait melalui teknologi enkripsi.

Untuk mencatat transaksi, Nakamoto mendelegasikannya secara desentralisasi, yakni meminta para pengguna Bitcoin untuk "menyumbang" komputer mereka bersama-sama melakukan pencatatan (blockchain). Sistem Bitcoin dirancang memberi hadiah bagi komputer pertama yang berhasil mencatat transaksi (Bitcoin mining).

Tertarik dengan Bitcoin, Armstrong akhirnya mencoba mata uang baru ini dan langsung jatuh cinta. Masalahnya, bagi orang-orang selain Armstrong dan sejenis, menggunakan Bitcoin adalah malapetaka. 

Ini terjadi karena baru seumur jagung dan masih tak bernilai, dibutuhkan pengetahuan komputer untuk mengakses, menggunakan, dan bertransaksi Bitcoin. Persis seperti misalnya mengoperasikan Linux melalui command line alih-alih graphical user interface (GUI). Dan Armstrong tahu masalah ini.

Maka, sebagaimana dikisahkan Jeff John Roberts dalam Kings of Crypto: One Startup's Quest to Take Cryptocurrency Out of Silicon Valley and Onto Wall Street, Armstrong membangun mimpinya itu mendirikan startup bernama Coinbase. Startup ini bekerja untuk mempermudah masyarakat umum mengakses Bitcoin tanpa perlu pengetahuan teknis, tanpa perlu memikirkan private key dan public key.

Karena hanya memiliki kemampuan teknis, Armstrong meminta bantuan "sekolah startup" bernama Y Combinator untuk merealisasikan Coinbase. Namun, karena percaya bahwa startup tidak bisa didirikan oleh satu orang, Y Coinbase memberikan syarat bagi Armstrong untuk mencari seorang mitra, co-founder. 

Menurut Y Combinator, Collaborative Circle atau Powers of Two penting untuk menjaga semangat pendirian startup agar tak gampang luntur. Apple, misalnya, tak mungkin sukses jika hanya didirikan Steve Jobs tanpa kehadiran Steve Wozniak, atau Google tak mungkin ada jika Larry Page tidak meminta bantuan Sergey Brin.

Sebagai pemuda yang bercita-cita mendirikan startup, Armstrong tahu betul Collaborative Circle atau Powers of Two ini. Tak lama usai Coinbase keluar dari otak Armstrong, ia sesungguhnya telah memiliki seorang co-founder: Ben Reeves, untuk bekerja sama membangun versi awal, beta, Coinbase. 

Namun, sesaat sebelum Armstrong meminta bantuan Y Combinator, Reeves memilih meninggalkan Coinbase, meninggalkan startup yang kelak bernilai $86 miliar. Bagi Reeves, Armstrong berkhianat terhadap Bitcoin, terhadap dunia cryptocurrency.

Reeves menganggap Coinbase sebagai penengah (pihak ketiga)--yang menjembatani masyarakat bertransaksi melalui Bitcoin. Pikir Reeves, Coinbase memiliki potensi kekuatan selayaknya bank, negara, yang dapat merusak ekonomi atas perannya sebagai penengah. Kenyataan yang jelas-jelas ditentang Satoshi Nakamoto.

Krisis Keuangan Global

Dalam "Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System" (Bitcoin whitepaper), gagasan Bitcoin lahir pada November 2008, atau berbarengan dengan badai krisis ekonomi global. Krisis ekonomi ini terjadi karena BNP Paribas--bank yang berkantor pusat di Prancis--menyatakan ketidaksanggupan untuk mencairkan sekuritas subprime mortgage asal AS.

Subprime mortgage merupakan istilah bagi kredit perumahan yang diberikan kepada orang-orang yang memiliki rekam jejak kredit yang buruk atau belum pernah memiliki kredit. Kredit ini dianggap berisiko. Sangat banyak dana yang terkuras untuk kredit ini. Pada 2002, penyaluran subprime mortgage di AS mencapai $200 miliar, lalu meningkat jadi $500 miliar pada 2005.

Kredit macet di AS menjadi mula bagi krisis keuangan global, terutama bagi negara-negara yang memiliki hubungan perdagangan dengan AS. Pada 2008, terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi, dari 2,7 persen di 2007 menjadi 1 persen. Padahal, masih merujuk publikasi Bank Indonesia, IMF memproyeksikan pertumbuhan di angka 1,3 persen.

Secara spesifik, krisis ekonomi global juga menyebabkan perlambatan pertumbuhan perdagangan. Dalam lima tahun sebelumnya pertumbuhan perdagangan dunia rata-rata mencapai 8,1 persen. Namun, angkanya langsung anjlok menjadi 4,1 persen di 2008. 

Krisis ekonomi juga menyebabkan turunnya harga berbagai komoditas, tak terkecuali minyak. Pada Juli 2008 harga minyak per barel dipatok di angka $147, lalu menurun menjadi $47 per barel pada Desember 2008.

The Federal Reserve, bank sentral AS, bahkan harus menurunkan suku bunga kredit ke level 0,25 persen pada akhir 2008 agar publik mau kembali mengambil kredit. Akibat lainnya dari krisis ekonomi global ialah pelemahan dolar terhadap mata uang lain. 

Pada triwulan II-2008, nilai tukar dolar mencapai Rp 9.193. Dolar kemudian melemah ke level Rp 8.007 pada triwulan III-2008. Pelemahan dolar ini salah satu sebabnya ialah hilangnya kepercayaan publik atas dolar, atau atas sistem keuangan konvensional secara keseluruhan.

Kondisi ini memunculkan uang kripto seperti Bitcoin. Masyarakat menghendaki mata uang lain sebagai alternatif. Jason Leibowitz, pemerhati uang digital yang juga mantan profesional di Wall Street yang bekerja di bidang blockchain pada Credit Suisse, pernah menulis tentang Bitcoin yang dipublikasikan Coindesk, bahwa lahirnya Bitcoin merupakan respons atas kekhawatiran bahwa bank "terlalu besar untuk gagal."

Bank yang gagal akan menjadi penyebab kehancuran ekonomi secara sistemik. Kemudian Bitcoin lahir sebagai jawaban atas pertanyaan: "di mana seseorang dapat menyimpan harta jika sistem keuangan gagal?"

Maka, pikir Ben Reeves, jika Coinbase gagal, kehancuran ekonomi bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi.

Related

Technology 6554592516468189035

Recent

item