Bridal Shower, Tren Kekinian yang Menyimpan Masalah


Naviri Magazine - Membangun pernikahan adalah perkara rumit, bahkan sejak persiapannya. Dari pertemuan antar keluarga dua mempelai, sampai pembuatan dan penyebaran undangan, sampai resepsi, dan lain-lain. Kini, hal-hal rumit itu masih ditambah lagi dengan acara lain, yang kini sedang tren dan disebut bridal shower.

Bridal shower adalah semacam acara “senang-senang terakhir bersama kawan-kawan, sebelum memasuki pernikahan”. Acara yang kerap dilakukan untuk calon mempelai wanita ini biasanya hanya berisi kumpul-kumpul dengan teman, bercengkerama, dan semacamnya. 

Bridal shower mungkin saja menjadi tren, menjadi acara yang hampir wajib dilakukan sebelum pesta pernikahan digelar. 

Padahal, secara tak sadar mereka turut berperan dalam melestarikan ketimpangan gender. Seorang Sosiolog Amerika Serikat, Beth Montemurro bahkan mengatakan banyak calon pengantin perempuan merasa tak nyaman saat harus melakukan bridal shower. 

Pernyataan ini diperkuat oleh hasil wawancaranya terhadap 51 pelakon bridal shower, mulai dari pengantin, tuan rumah, dan tamu.

Ada beberapa hal yang menjadi pemicu ketidaknyamanan mereka, yakni acara membosankan, canggung, dan harus menjadi pusat perhatian. Seorang pengantin bernama Lori, yang ia wawancarai mengatakan: “Aku merasa pusing, berkeringat, panas, dan tertekan. Saat pulang, aku jadi seperti zombie.”

Montemurro menganggap calon pengantin telah diinisiasi ke dalam peran istri oleh teman-teman dan keluarganya. Digambarkan dari jenis hadiah berupa peralatan rumah tangga, artinya mereka menyetujui konsepsi kerja domestik hanya dilakukan perempuan. 

Padahal, kedatangan tamu yang notabene adalah perempuan dianggap mengekspresikan dukungan bagi perempuan lain sebagai anggota komunitas gender.

Pada akhirnya, penulis buku Something Old, Something Bold: Bridal Showers and Bachelorette Parties ini berpendapat bahwa ritual pranikah berkontribusi pada stabilisasi ketidaksetaraan gender. Bahwa masyarakat Amerika pada pergantian abad ke-21 masih menikah dengan tradisi dan konsepsi tradisional tentang maskulinitas dan feminitas.

“Ritual ini diatur terutama oleh perempuan, kita melihat peran gender tradisional dan modern dinegosiasikan, dilawan, ditransformasikan dan diperkuat,” kata Montemurro.

Dari uraian dan fenomena yang terjadi, tampaknya baik juga jika bisa dibayangkan acara bridal shower versi alternatif. Lihat saja acara itu sebagai momen perayaan sebelum memasuki era baru kehidupan, sebab pernikahan sama rumitnya bagi laki-laki maupun perempuan. 

Related

Romance 2156362452176040946

Recent

item