Dunia di Bawah Ancaman Mengerikan Naiknya Air Laut


Naviri Magazine - Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pantura atau berdekatan dengan pantai, kemungkinan sudah biasa mengalami masalah rob, yaitu air laut yang menggenangi pemukiman. Fenomena semacam itu bisa dibilang merata di semua tempat, khususnya di kawasan pantura. Karena air laut yang naik, air itu pun lalu naik ke kawasan hunian, bahkan kadang sampai merembes melalui bawah tanah.

Air rob di permukaan tanah kadang hanya beberapa centi, namun kadang pula sampai cukup dalam, bahkan sampai memasuki rumah-rumah seperti banjir. Yang mengkhawatirkan, masalah semacam itu tidak sebatas terjadi di Indonesia atau lebih khusus di kawasan pantura, tapi juga menjadi ancaman global di seluruh dunia. Karena persoalan naiknya air laut dipicu oleh pemanasan global. 
    
Pemanasan global (global warming) sudah menjadi pembahasan umum di kalangan masyarakat dunia saat ini. Semua negara menghadapi masalah yang sama. Meskipun masih banyak yang belum merasakan dampaknya secara langsung, namun secara terus-menerus pemanasan global semakin mengancam kelangsungan hidup di muka bumi.

Salah satu dampak dari pemanasan global yang mudah dilihat adalah naiknya permukaan air laut. NASA pernah menyebutkan bahwa permukaan air di seluruh lautan dunia akan terus mengalami kenaikan. Dari sebuah analisis ditemukan fakta bahwa naiknya permukaan air laut terjadi seiring mencairnya gletser di Greendland dan Kutub Selatan.

Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh National Oceanographic Centre (NOC), fenomena naiknya permukaan air laut dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar. Dunia harus menanggung kerugian sebesar $14 triliun karena hal ini, pada tahun 2100 mendatang.

Negara yang akan menanggung kerugian lebih besar adalah negara-negara tropis dan negara dengan tingkat ekonomi menengah seperti Tiongkok. Sedangkan negara adidaya hanya akan sedikit menanggung beban, karena infrastruktur mereka yang lebih baik.

Masih berdasarkan catatan NOC, lebih dari 600 juta orang di dunia tinggal di daerah pesisir dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 10 meter di atas permukaan laut. Ketika laut mengalami peningkatan permukaan level air laut, masyarakat pesisir akan mengalami masalah besar.

Oleh karena itu, NOC menargetkan peningkatan suhu bumi tidak boleh melebihi 2 derajat Celcius.

"Kami menemukan bahwa peningkatan suhu bumi hingga 1,5 derajat Celcius pada tahun 2100 berimbas pada naiknya permukaan air laut hingga 0,52 m (1,7 kaki). Namun, jika peningkatan suhu bumi melebihi 2 derajat celcius, maka kita akan melihat kenaikan permukaan air laut hingga 0.86 m (2.8 kaki), dan yang terburuk akan mencapai 1.8 m (5.9 kaki),” kata Dr Jevrejeva dari NOC.

Jevrejeva menjelaskan lebih lanjut bahwa negara tropis akan menjadi negara yang paling sering merasakan perubahan ekstrem dari permukaan air laut. Tingkat kerugian yang harus ditanggung akan jauh lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan untuk mengantisipasinya

"Peningkatan permukaan laut yang ekstrem akan memiliki efek negatif pada ekonomi negara-negara berkembang, dan kelayakhunian garis pantai dataran rendah. Negara yang terdiri dari pulau kecil, seperti Maladewa, akan sangat mudah terpengaruh, dan tekanan pada sumber daya alam dan lingkungan mereka akan menjadi lebih besar,” paparnya.

Related

Science 3463886400858173383

Recent

item