Fakta di Balik El Salvador Menjadikan Bitcoin sebagai Mata Uang Resmi (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Fakta di Balik El Salvador Menjadikan Bitcoin sebagai Mata Uang Resmi - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Sepuluh tahun usai CRASH bangkrut, sebagaimana dipaparkan Nathaniel Popper dalam buku berjudul Digital Gold: Bitcoin and The Inside Story of The Misfits and Millionaires Trying To Reinvent Money, seseorang bernama Satoshi Nakamoto (yang hingga kini belum diketahui identitas sebenarnya) mencoba memperbaiki CRASH dengan merilis bitcoin. 

Berbeda jauh dengan sistem transaksi perbankan (dan dompet digital), bitcoin benar-benar menghilangkan ketergantungan pada pihak ketiga alias bertransaksi langsung antara pengirim/pemberi dan penerima uang. 

Secara teknis, pihak ketiga dapat dihilangkan melalui dua sebab. Pertama, ketika seseorang menggunakan bitcoin--melalui sistem yang dipublikasikan dalam kerangka open source--ia akan mendapatkan private key dan public key. Private key, selayaknya PIN atau password, bersifat rahasia. Sementara public key selayaknya username atau nomor rekening yang boleh diketahui banyak pihak. 

Yang menarik, private key dan public key ini diciptakan melalui teknologi enkripsi yang saling terikat. 

Kedua, dan terutama, hilangnya ketergantungan pada pihak ketiga terjadi karena tak seperti sistem perbankan atau CRASH yang memanfaatkan server tunggal, bitcoin mendelegasikan sistem pemrosesan transaksinya ke banyak komputer alias terdesentralisasi. Komputer-komputer ini dimiliki oleh mereka yang rela/mau melayani bitcoin untuk bertugas mencatat jumlah uang yang dikirim/diterima plus public key. 

Tentu Nakamoto tak ujug-ujug merilis bitcoin untuk memperbaiki CRASH. Melalui manifesto yang ditulisnya berjudul “Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System”, ia mengatakan bitcoin terutama dibuat karena kekecewaan terhadap institusi keuangan konvensional alias perbankan. 

Selain melahirkan biaya transaksi yang membuat, misalnya, saldo Rp50 ribu yang dikirim dari BCA Mobile terkuras Rp1.000 tatkala mendarat di rekening OVO, Nakamoto menganggap institusi keuangan konvensional membawa kemudaratan berupa "krisis ekonomi". 

Anggapan ini muncul karena, beberapa tahun sebelum Nakamoto merilis bitcoin, sebagaimana dipaparkan Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia dalam paper berjudul “Outlook Ekonomi Indonesia 2009-2014: Krisis Finansial Global dan Dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia”, dunia menghadapi krisis ekonomi gara-gara BNP Paribas, bank yang berkantor pusat di Prancis, menyatakan tidak sanggup mencairkan sekuritas subprime mortgage (istilah bagi kredit perumahan yang diberikan kepada orang-orang yang memiliki rekam jejak kredit buruk atau tak layak diberi utang) asal AS. 

Kredit macet di AS tersebut menjadi awal bagi krisis keuangan global, terutama bagi negara-negara yang memiliki hubungan perdagangan dengan AS. Pada 2008 terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi, dari 2,7 persen setahun sebelumnya menjadi 1 persen. Padahal, masih merujuk publikasi Bank Indonesia, IMF memproyeksikan pertumbuhan berada di angka 1,3 persen. Akibatnya, segala macam komoditas naik harganya. 

Bagi Nakamoto, kesukaran ekonomi ini terjadi karena, secara sederhana, institusi keuangan konvensional asal memberikan kredit alias sembrono. Karenanya Nakamoto menganggap institusi keuangan wajib dihukum seberat-beratnya, yaitu dengan mempreteli kuasa mereka memproses transaksi. Kendali terhadap uang harusnya dikembalikan kepada masyarakat. 

Idealisme inilah yang sepertinya terpatri pula dalam benak Presiden Nayib Bukele. Ia seperti menganggap menggunakan bitcoin sama seperti menghapuskan ketergantungan El Salvador terhadap dolar AS--mata uang yang dikendalikan (dapat dicetak sebanyak apa pun) oleh Paman Sam seorang. 

Plus, diyakini juga mampu menghindarkan El Salvador dari belenggu Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT) serta Visa dan Mastercard yang acap kali dimanfaatkan AS untuk menghukum musuh-musuh mereka. 

Sayangnya, sebagaimana dipaparkan Antony Lewis dalam buku berjudul The Basics of Bitcoins and Blockchains: An Introduction to Cryptocurrencies and The Technology That Powers Them, terdapat satu elemen krusial yang membuat bitcoin tak layak dijadikan alat bertransaksi, terlebih mata uang resmi. Elemen krusial itu: negara. 

Semenjak 1976, hampir semua mata uang di dunia mematok nilai 1 dolar, yuan, yen, pound sterling, bahkan rupiah, hanya pada janji negara. Maksudnya, selembar uang, katakanlah 1 dolar AS atau Rp10 ribu, itu bernilai nilai 1 dolar AS atau Rp10 ribu berdasarkan keyakinan yang diberikan negara, bukan emas atau material apa pun. 

Dengan mendelegasikan transaksi ke masyarakat, langsung dari individu ke individu tanpa kehadiran institusi/negara, nilai 1 bitcoin akhirnya hanya berpatokan pada penawaran dan permintaan. Ini membuat bitcoin seperti batu akik: kadang melesat menggapai angkasa, tapi tidak jarang mentok tak ketulungan. Singkatnya, karena ketiadaan negara, bitcoin memiliki nilai yang sangat liar. 

Dengan begitu liarnya bitcoin, sulit membayangkan El Salvador dapat merencanakan pembangunan dengan pasti. Kesukaran ini menuntun El Salvador ke pintu kehancurannya sendiri. Hal ini bahkan langsung terbukti beberapa menit setelah El Salvador meresmikan bitcoin sebagai mata uang resmi. 

Nilai bitcoin turun hingga 9,9 persen karena sentimen buruk masyarakat terhadap kebijakan ini. Namun, di tengah merosotnya nilai bitcoin, Presiden Nayib Bukele justru dengan bangga berkata, "we just bought the dip." Suatu kalimat yang juga berarti, "mumpung harga jatuh, beli. Nanti, kan, naik lagi."

Related

International 6739515627319708019

Recent

item