Kisah Pria Kecanduan Judi hingga Terjerat Utang Rp 5 Miliar (Bagian 1)


Patrick Foster mengalami masa kelam dalam hidupnya pada 2018 silam. Saat itu dia bermasalah dengan utang judi yang menumpuk dan tidak melihat ada jalan keluar.

Mengenang kisahnya itu, pria berprofesi sebagai guru tersebut mengaku kali pertama ikut taruhan saat masih di universitas. Saat itu sekadar bersenang-senang dengan teman-temannya.

Namun kesukaannya berjudi membuat ketagihan saat kariernya sebagai pemain kriket berakhir dan mulai mencari nafkah di kota. Keadaan bertambah buruk ketika ganti profesi menjadi guru. Dia saat itu ia pinjam uang dari para orangtua murid dan berbohong kepada rekan-rekan kerja.

Dia lalu memutuskan untuk berupaya mengatasi semua masalahnya itu dengan terakhir kali ikut taruhan di lomba pacuan kuda. Dia bertaruh £50.000 (sekitar Rp1 miliar) untuk kuda pacu jagoannya. Kalah taruhan, dia merasa hidupnya sudah berakhir.

Dalam kisah berikut ini, dia mengungkapkan bagaimana hidupnya kembali bangkit ke jalan yang benar.

'Saya tidak tahu untuk apa ikut'

Saya berhasil mulai mencapainya saat menerima beasiswa olahraga di SMA Oundle School wilayah Northamptonshire, salah satu sekolah top di Inggris. Saat lulus di usia 18 tahun, saya menandatangani kontrak profesional selama dua tahun dengan Klub Kriket Daerah Northamptonshire.

Di musim panas itu, segalanya berjalan lancar, dan saya dipanggil memperkuat tim nasional Inggris U-19. Saya lalu memutuskan untuk mengejar gelar sarjana dan diterima kuliah di Durham University.

Suatu ketika di Sabtu pagi, tak lama setelah pekan perkenalan mahasiswa baru, pintu asrama saya diketuk, dan teman-teman lalu bilang ingin pergi ke tempat taruhan. Saya sungguh tidak berminat untuk ikut.

Saya menyaksikan seseorang main mesin roulette dan saya terpana. Begitu dia keluar dari permainan, saya langsung menduduki kursinya. Ada uang £2 di kantung dan memutuskan untuk memasangnya di meja judi. Sejak itu, hidup saya berubah selamanya.

Saya pulang malam itu dengan meraup £250 (sekitar Rp5 juta). Saya lalu berpikir, "Tahu nggak, saya bisa hasilkan banyak uang dari [perjudian] ini." Itu yang memberi saya dorongan luar biasa.

'Mimpi berakhir dan saya terpukul sangat telak'

Tidak dinyana, saya cedera pergelagan kaki dan tidak bisa bermain kriket. Saya lalu mulai berjudi dan berjudi lagi.

Begitu pulih dari cedera, saya sudah terganggu oleh kebiasaan ini. Saya dulunya paling awal di tempat latihan dan yang terakhir pulang. Namun, [setelah ketagihan judi] saya ingin keluar secepat mungkin dari tempat latihan, agar bisa bertaruh, dan ini yang mempengaruhi penampilan saya sebagai atlet.

Di akhir tahun itu, saya dipanggil kepala pelatih dan dibebastugaskan. Impian saya pun berakhir dan sungguh sangat telak memukul saya.

Itu adalah kali pertama dalam hidup bahwa saya diberitahu sudah tidak tampil bagus. Saya tidak suka dan tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. Saya malah memilih cara berupa lari dari kenyataan.

Saya lulus kuliah dan pindah bersama empat teman ke London, di mana kami bisa bekerja dengan gaji besar sebagai lulusan universitas.

Saya lalu meneruskan kebiasaan berjudi dan tetap bekerja dengan baik, maka saya mengira tidak ada masalah. Saya malah dapat promosi jabatan, kenaikan gaji, dan bonus yang besar.

'Menang Rp700 juta lalu menguap begitu saja’ 

Dua malam kemudian, saya bikin pesta dengan teman-teman di bar. Saya saat itu merasa senang, dan lalu bertaruh £500 (sekitar Rp10 juta) untuk judi sepakbola. Di situ saya menang £34.988 (sekitar Rp702 juta).

Kemenangan itu langsung mengubah mentalitas saya dalam berjudi. Setiap kali pasang taruhan, saya pikir bakal menang £35.000. Kalaupun tidak dapat sekarang, pasti akan menang nantinya.

Hal terburuk adalah menang taruhan dalam jumlah kecil tidak lagi membuat saya senang. Jadi, saya mulai pasang £2,000 (sekitar Rp40 juta) untuk kuda pacuan.

Saya hilang uang sebesar itu dalam lima pekan. Namun saya ingin rebut lagi. Saya mulai memburu dan berkata kepada diri sendiri, ‘berhenti berjudi kalau saya menang lagi’. Namun, saya tidak menang-menang.

Di tahap ini, saya mulai mengutang dari bank sampai kelewat batas, dan menunggak uang kontrakan rumah. Saya sadar keadaan sudah di luar kendali.

'Ini adalah kesalahan terbesar yang saya buat'

Saya putuskan pulang ke rumah dan ingin curhat soal masalah ini dengan orangtua. Tapi saya begitu khawatir soal apa yang akan mereka pikirkan. Saya tidak ingin mereka kecewa sehingga putuskan tidak jadi bicara. Ini adalah kesalahan terbesar yang saya buat.

Malah, saya menyalahkan gaya hidup Kota London. Saya bilang ke mereka ingin berbuat yang berbeda. Saya ingin menjadi guru. Mungkin dengan cara ini bisa membuat saya berhenti berjudi, karena berada di lingkungan yang seluruhnya berbeda.

Saya lalu dapat pekerjaan di suatu sekolah di Kota Oxford, mengajar sejarah dan Latin. Namun, tak lama kemudian, saya mulai berjudi lagi. Gaji saya tidak cukup dan mulai terjerumus utang, baik pinjaman tunai maupun kartu kredit.

Begitu uang habis, segalanya kian buruk. Berteman dengan orang-orang yang sangat kaya, saya mulai mendekati mereka dan berbohong demi dapat uang. Saya bilang sedang dikejar-kejar petugas pajak. Lalu alasan lain, mobil saya baru tabrakan dan perlu uang untuk keperluan mendesak. Saya mulai pinjam uang banyak dan dihabiskan untuk berjudi lagi.

Baca lanjutannya: Kisah Pria Kecanduan Judi hingga Terjerat Utang Rp 5 Miliar (Bagian 2)

Related

Inspiration 253028780477980863

Recent

item