Menguak Fakta-fakta Mencengangkan di Balik Asal Usul Konsep Ras Manusia (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Menguak Fakta-fakta Mencengangkan di Balik Asal Usul Konsep Ras Manusia - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Meski demikian, ras tetap diimani banyak orang di Eropa. Menurut Goodman dkk. konsep ras yang hierarkis menguat ketika pada awal abad ke-20 terjadi kebangkitan paham dan praktik eugenika (eugenics) di kalangan ilmuwan. Para pegiat eugenika percaya bahwa kualitas genetik perlu dijaga dengan cara memisahkan ras unggul dengan ras yang inferior. 

Konsep ras dan eugenika nantinya menjadi bahan bakar lahirnya fasisme yang membunuh jutaan orang Yahudi dalam kurun 1941-1945. Berdasarkan keterangan Goodman dkk. beberapa dekade sebelum tragedi itu, tepatnya pada 1916, Adolf Hitler mengirim surat kepada Maddison Grant, seorang ilmuwan eugenika Amerika. 

Hitler mengaku bahwa buku Grant yang berjudul The Passing of the Great Race adalah “injil” baginya. 

Ras Hanyalah Mitos? 

Pasca perang dunia dan tragedi rasial yang menyertainya, para ilmuwan bersepakat untuk memikirkan ulang konsep ras. Pada 1949, UNESCO bersama dengan para ilmuwan, antropolog, diplomat, dan ahli kebijakan internasional berkumpul di Paris untuk memeriksa kembali konsep ras. Hasilnya, pada 1950 UNESCO mengeluarkan pernyataan bahwa ras adalah konsep yang cacat dan tidak ilmiah. 

“Para ilmuwan telah mencapai kesepakatan umum dalam memahami bahwa umat manusia itu satu: seluruh manusia termasuk dalam spesies yang sama, Homo sapiens,” demikian pembuka laporan itu. 

Meski demikian, kesepakatan itu tetap mempertahankan klasifikasi tipe manusia yang ada pada masa itu (Mongoloid, Negroid dan Kaukasoid). Pada saat bersamaan, klasifikasi tersebut tidak didasarkan pada pemahaman rasial yang stabil dan permanen, melainkan pada proses evolusi biologis yang panjang, sehingga klasifikasi dapat terus berubah. 

Para ilmuwan juga menolak gagasan bahwa karakteristik fisik suatu populasi berhubungan dengan tingkat kecerdasan, kemampuan kognitif, dan kapasitas mental. 

Temuan signifikan mencuat puluhan tahun kemudian. Pada 1972, seorang pakar genetika bernama Richard Lewontin membuktikan betapa cacatnya konsep ras. Lewontin mengumpulkan sampel data genetis dari berbagai penjuru dunia dengan tujuan melihat hubungan antara variasi genetik dan klasifikasi ras yang umum dipercaya. 

Studi itu menemukan fakta bahwa hanya 6% keragaman genetik yang berkaitan dengan ras. Alih-alih menemukan variasi antar kelompok “ras”, variasi justru ditemukan lebih banyak di dalam satu kelompok “ras”. Artinya, klasifikasi ras tidak bisa dijadikan model untuk menjelaskan keragaman manusia. 

Dalam laporan studinya, “The Apportionment of Human Diversity”, yang diterbitkan dalam jurnal Evolutionary Biology, Lewontin menyimpulkan bahwa ras adalah konsep yang menyusup dari praktik sosial dan politik ke dalam alam “sains”, bukan sebaliknya. Lewontin menyimpulkan secara tegas bahwa ras tidak memiliki landasan ilmiah dan perlu ditinggalkan. 

“Klasifikasi rasial manusia tidak memiliki nilai sosial dan secara nyata berdampak destruktif bagi hubungan sosial,” tulis Lewontin menutup laporannya, “Karena klasifikasi rasial hampir tidak memiliki signifikansi baik dalam genetika maupun taksonomi, maka tidak ada pembenaran yang diperlukan untuk keberlanjutannya.” 

Persoalannya, setelah puluhan tahun konsep ras ditolak, beberapa ilmuwan masih kukuh mempertahankan ras sebagai sesuatu yang alamiah. 

Langgengnya Rasisme dalam Sains 

Alan Goodman dalam tulisan lainnya yang dimuat Sapiens menyebut masih banyak ilmuwan dan dokter yang meyakini konsep ras. Dalam dunia medis, Goodman mencatat seringkali para dokter di Amerika mendiagnosis pasiennya berdasarkan ras. Padahal, secara biologis konsep ras sudah tidak diakui. 

Salah satu contohnya, menurut Goodman, adalah anggapan di kalangan dokter dan petugas kesehatan bahwa orang kulit hitam tidak akan mendapatkan penyakit tulang, sehingga mereka tidak memerlukan uji kepadatan tulang. 

Goodman mengutip sebuah survei yang dilakukan oleh sekelompok peneliti dari East Carolina University. Studi itu menunjukkan data dari 531 pasien perempuan yang melakukan uji kepadatan mineral tulang, hanya 75 orang (15%) yang merupakan perempuan kulit hitam. 

Menariknya, studi ini menemukan fakta bahwa akses terhadap layanan kesehatan tidak menjadi persoalan, karena perempuan kulit hitam tercatat lebih sering mengunjungi klinik. Peneliti berpendapat ketimpangan yang muncul lebih mungkin disebabkan oleh sektor pelayanan kesehatan yang sejak awal memiliki bias rasial. 

Setelah banyak ilmuwan membongkar mitos terkait ras puluhan tahun lalu, nyatanya pemahaman mengenai ras sebagai sesuatu yang alamiah masih bercokol hingga sekarang di komunitas ilmiah itu sendiri. 

Angela Saini, seorang jurnalis sains asal Inggris, dalam bukunya, Superior: The Return of Race Science, menunjukkan kenyataan bahwa selama hampir satu abad sejak komunitas ilmiah berhasil membongkar mitos tentang ras, beberapa ilmuwan justru masih mengimaninya. 

Menurut Saini, bahkan saat ini konsep ras dan rasisme dalam dunia akademik tampak menguat. Pasca-Perang Dunia II, para ilmuwan pendukung konsep ras terus berjejaring dan menerbitkan berbagai publikasi. Salah satu publikasi yang paling kontroversial adalah jurnal Mankind Quarterly yang hadir sejak 1960 dan bertahan hingga sekarang. 

Dari pengamatan Saini, jurnal ini memuat tema-tema seputar pembuktian ras secara biologis dan ketimpangan akibat perbedaan genetik antarras. Kini jurnal Mankind Quarterly banyak bicara soal isu-isu segregasi dan anti-imigrasi. Banyak kontributornya yang dikenal oleh publik sebagai pendukung supremasi kulit putih. Salah satunya Jared Taylor yang juga merupakan seorang pendiri majalah ekstrem kanan, American Renaissance. 

Taylor mendukung segregasi rasial dan menganggap ras sebagai sub-spesies. Menurutnya, dua sub-spesies tidak seharusnya hidup dalam satu area geografis yang sama. 

Menariknya, beberapa ilmuwan yang terlibat dalam persekongkolan rasis ini juga menyusup ke dalam tubuh penerbit ilmiah arus utama. Dua ilmuwan yang terlibat dalam Mankind Quarterly, Richard Lynn dan Gerhard Meisenberg, pernah menjadi editor jurnal Intelligence di bawah penerbit ternama Elsevier. 

Menurut Saini, masalah dari rasisme ilmiah ini tidak terletak hanya pada gagasan-gagasan kontroversialnya saja. Rasisme ilmiah juga bermasalah dalam urusan metode. Komunitas ilmiah secara luas telah melayangkan berbagai kritik terhadap metode dan analisis yang digunakan oleh kelompok ini, bahkan sejak satu abad yang lalu. 

Kendati banyak mendapat serangan dan dilabeli sebagai pseudosains, rasisme ilmiah tetap bertahan. Profesor antropologi dari University of North Carolina, Jonathan Marks, dalam wawancaranya dengan Saini menyebut konsep ras dan rasisme bertahan dalam dunia akademik karena sokongan dari kelompok sayap kanan yang mendanai riset-riset untuk menemukan perbedaan ras di antara manusia. 

Temuan perbedaan ini digunakan sebagai basis atas klaim bahwa manusia terbagi dalam ras-ras yang tidak setara secara alamiah dan permanen. 

“Akhirnya, politik selalu merupakan fitur yang melekat pada sains, sudah sejak dahulu,” tulis Saini. “Jika dulu latar belakangnya adalah perbudakan dan kolonialisme, maka sekarang adalah imigrasi dan segregasi. Ini merupakan agenda sayap kanan zaman sekarang.”

Related

Science 3329815134670979838

Recent

item