Menurut Penelitian, Cinta Sejati Benar-benar Ada


Sebagai masyarakat yang menganut kultur percintaan monogami, pernahkah membayangkan rasanya menghabiskan lebih dari setengah hidup kita hanya bersama satu orang? 

Antropolog biologi sekaligus peneliti bidang perilaku manusia asal Amerika, Helen Fisher, melalui penelitiannya mengungkap bahwa “cinta sejati” nyata adanya. Cinta jenis itu memengaruhi manusia pada tingkat yang lebih pribadi dan intim. 

Studi Fisher melihat struktur otak pada kelompok orang yang menjalin hubungan selama 21 tahun. Kala kelompok ini menjalani pemindaian otak (fMRI), terlihat adanya bagian otak yang merespons keadaan jatuh cinta. Respons itu terlihat sama seperti kala seseorang tengah kecanduan kokain atau obat-obatan lain. 

Responden dengan relasi pernikahan selama 21 tahun juga memiliki aktivitas otak yang memberi ketenangan dan menekan rasa sakit. “Kami menemukan pola spesifik pada cinta sejati ada di korteks frontal yang membikin orang jadi mengabaikan hal negatif, lebih berempati, dan mampu mengendalikan emosi diri,” ungkap Fisher. 

Fisher juga memberikan pertanyaan sederhana kepada para responden terkait kenyamanan terhadap pasangan, seperti, “Apakah kamu mau menikah lagi dengan orang yang saat ini menjadi pasanganmu?” Sebagian besar responden (81 persen) tercatat memberikan jawaban positif (“ya”). 

Namun, untuk sampai di titik “cinta sejati” itu, hubungan berpasangan harus terus dirawat. Pasalnya, bukan tak mungkin riak-riak romantis dalam berelasi teredam oleh rasa bosan. Ujung-ujungnya, hubungan asmara jadi hambar, atau yang lebih ekstrem: mencari selingan di luar pasangan resmi. 

Related

Relationship 229970646643677424

Recent

item