Pakaian Ternyata Ikut Merusak Lingkungan, Ini Tips Memilih yang Bijak


Naviri Magazine - "Baju adalah yang membuat kita menjadi manusia,” kata Mark Twain, “orang telanjang hanya punya sedikit atau bahkan nihil pengaruh dalam masyarakat."

Ungkapan Mark Twain tentu saja benar, karena nyatanya semua orang waras yang hidup di zaman sekarang menutupi tubuhnya dengan pakaian. Semakin bagus, semakin mahal, dan semakin glamor, pemakainya merasa lebih percaya diri. Sebaliknya, hanya orang-orang tak waras yang biasa telanjang tanpa pakaian.

Namun, ternyata, pakaian yang kita kenakan ikut memiliki andil dalam kerusakan lingkungan dan alam secara luas. Pakaian yang dibuat dari bahan poliester dan akrilik diketahui menumpahkan ribuan serat plastik setiap kali dicuci. Mereka turut menyumbang polusi plastik ke laut dan merusak ekosistem di dalamnya.

Rata-rata dalam setiap 6 kg beban cucian di Inggris, air cuciannya mengandung 140 ribu serat dari campuran katun poliester, hampir setengah juta serat poliester, dan lebih dari 700 ribu serat dari akrilik. Akibatnya, fragmen dan serat-serat tersebut ditemukan di permukaan dan dalam rantai makanan ekosistem laut.

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika melaporkan dari 13,1 juta ton produk tekstil yang dibuang, hanya 15 persen bisa daur ulang. Limbah tekstil mengisi 126 meter kubik ruang setiap tahun, meningkatkan jumlah gas metana dan mencemari air bersih sebanyak 17-20 persen. Di Cina, lebih dari 20 persen air tanah dan 40 persen air permukaan terkontaminasi manufaktur tekstil. 

Masih menurut laporan yang sama, setiap tahun diperkirakan 10-15 persen zat warna dilepaskan ke lingkungan. Jumlah tersebut setara dengan 280 ribu ton limbah beracun dan berbahaya. Yang lebih memprihatinkan sebanyak 43 persen kapas untuk tekstil juga berasal dari organisme hasil rekayasa genetika. Untuk tumbuh, mereka membutuhkan bahan kimia lebih banyak dan lebih kuat sehingga makin mengurangi kualitas tanah. 

Lalu apa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak berbahaya pakaian? 

Pertama, cari tahu asal usul pakaian, misal pakaian yang dicelup di Kanada memiliki undang-undang perlindungan lingkungan yang melarang zat berbahaya digunakan dalam industri tekstil. Undang-undang serupa juga banyak diterapkan di beberapa negara Eropa, Amerika Serikat, dan beberapa negara berkembang. Sebaliknya, hindari pakaian yang dicelup di Cina karena punya kandungan zat kimia tinggi.

Kedua, cari pakaian dengan label OEKO-TEX® STANDARD 100. Pakaian dengan label tersebut telah lolos sertifikasi tidak beracun laboratorium. Sistem sertifikasinya disusun oleh Swiss pada tahun 1992. 

Ketiga, pilih pakaian dengan warna asli serat dan belum dicelup. 

Keempat, ini yang menarik: belilah pakaian bekas. Zat berbahaya dalam pakaian bekas sudah jauh berkurang selama digunakan pemilik sebelumnya. Selain hemat, cara ini merupakan salah satu solusi ekologi untuk mengurangi volume limbah tekstil.

Cara terakhir, mulailah hindari pakaian yang menjamin perawatan mudah dan tahan beragam kerusakan, dan beralih ke pakaian dari serat alami seperti rami, katun organik, sutra, dan wol. Pastikan bahwa seratnya organik dan tidak mengandung pestisida.

Related

Tips 4098759790574072510

Recent

item