Sejarah dan Rekor Gedung-gedung Pencakar Langit Dunia


Naviri Magazine - Gedung-gedung tinggi mulanya dibangun sebagai upaya menghadapi sempitnya lahan untuk bangunan. Jika di masa sebelumnya orang bisa membangun gedung yang luas, makin sempitnya lahan menjadikan orang tidak bisa lagi membangun gedung dengan leluasa. Sebagai gantinya, gedung tidak lagi dibangun melebar di darat, tapi menjulang ke angkasa. 

Namun, dalam perkembangannya, gedung tinggi tidak hanya ditujukan untuk menyiasati lahan yang sempit, tapi juga untuk kebanggaan. 

Kenyataannya, ambisi manusia membangun gedung tinggi tak ada habisnya. Manusia akhirnya membagi gedung bertingkat dengan jenjang ketinggiannya, mulai dari pencakar langit (skyscrapers) di atas ketinggian 150 meter, supertall di atas 300 meter, megatall di atas 600 meter. 

Perlombaan gedung tinggi setidaknya sudah terekam sejak abad ke-19. The Council on Tall Buildings and Urban Habitat (CTBUH) punya catatannya.

Home Insurance Building di Chicago, AS tercatat sebagai gedung tertinggi di dunia era modern yang tingginya mencapai 55 meter sejak berdiri pada 1885. Memasuki abad ke-20 rekor gedung tertinggi pecah saat Singer Building di New York berdiri pada 1908, saat itu pertumbuhan gedung tinggi sudah bertambah 132 meter. Rekor gedung jangkung pecah lagi saat Chrysler Building berdiri pada 1930 di New York.

Namun, saat Empire State Building selesai dibangun pada 1931 dengan tinggi 381 meter, gedung ini tak hanya yang tertinggi di New York tapi juga tertinggi di dunia setidaknya hingga 1972. Butuh 41 tahun untuk menumbangkan rekor gedung jangkung ini oleh Menara Kembar WTC, yang akhirnya runtuh pada peristiwa 11 September 2001.

Setelah era 1970-an, perlombaan gedung tinggi terus berlanjut, tumbang dan pecah rekor silih berganti. Menggeser posisi WTC ada Sears Tower, Chicago, yang rekornya ditumbangkan oleh Petronas Tower, di Malaysia pada 1996. Lalu pada 2003 gedung Taipei 101, Taiwan, memecahkan rekor baru. 

Rekor pecah lagi pada 2010, saat Burj Khalifa resmi dibuka dan berdiri kokoh dengan tinggi 828 meter di Kota Dubai. Artinya, kurang dari 80 tahun, manusia sudah mampu membangun pertumbuhan ketinggian gedung super jangkung hingga 120 persen.

CTBUH juga mencatat rata-rata pertumbuhan tinggi dari 100 gedung pencakar langit terus berkembang pesat. Pada 2010, rata-rata pertumbuhan tinggi pencakar langit di dunia melompat drastis hingga bertambah 349 meter, meningkat 22 persen dibandingkan tahun 2000 yang hanya rata-rata bertambah 286 meter. 

Pertumbuhan ini meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan dari periode 1970 hingga 1980, yang bertambah dari rata-rata hanya 197 meter menjadi 229 meter.

Sebelum 1980-an, bangunan tinggi di dunia didominasi benua Amerika. Hingga 1930, sebanyak 99 persen dari 100 gedung tertinggi dunia ada di Amerika Utara, termasuk 51 persen ada di New York. Baru setelah itu, Asia muncul sebagai pusat gedung-gedung pencakar langit dunia, khususnya Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab yang berhasil membangun Burj Khalifa. 

Capaian ini memang tak mudah, karena banyak mega proyek gedung pencakar langit berakhir tanpa kejelasan, atau dihentikan dengan berbagai alasan. Persoalan desain yang belum tuntas, masalah keuangan, tekanan politik, hingga pergeseran budaya punya andil.

Hingga November 2014, setidaknya ada 20 gedung pencakar langit yang dirancang hingga setinggi 1.000 meter akhirnya gagal dibangun, misalnya Nakheel Tower di Dubai yang dimulai 2008 tapi dihentikan pada 2009, begitu juga yang terjadi dengan India Tower, dimulai pada 2010 lalu dihentikan pada 2011. 

Ini juga terjadi dengan mimpi Jepang membangun X-Seed 4000 yang dirancang setinggi 4.000 meter di Kota Tokyo yang disebut skypenetrators, sampai saat ini tak pernah kesampaian. Namun, ini menandakan di masa depan manusia bisa saja mewujudkan mimpi dengan perkembangan teknologi yang ada.

Related

History 7507301318635316648

Recent

item