Benarkah Air Galon Isi Ulang Sebabkan Ketidaksuburan? Ini Tanggapan BKKBN


Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan diperlukan penelitian antarcenter untuk benar-benar membuktikan bahwa air kemasan galon isi ulang bisa menyebabkan infertilitas atau gangguan kesuburan pada sistem reproduksi pria dan wanita. 

Menurut Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat, Dr (HC) dr Hasto Wardoyo, SpOG, kalau baru info awal dan belum berbasis bukti yang level of evidence-nya kuat, perlu berhati-hati untuk menyampaikannya ke publik.     

“Itu masih butuh riset multi center saya kira, agar menjadi bukti yang kuat,” ujar Hasto Wardoyo. 

Dia mengatakan, informasi itu perlu melihat dari pusat pendidikan di UGM, UNAIR, UI, ditambah di Singapura, Amerika Serikat, dan di negara-negara lain. 

“Setelah itu baru hasilnya dipadukan dan dilihat seperti apa kesimpulannya. Kalau baru info awal dan belum berbasis bukti yang level of evidence-nya kuat, itu harus hati-hati,” tambahnya. 

Sementara itu, dia menyebutkan fakta di masyarakat juga tidak berkorelasi dengan narasi yang disampaikan BPOM, dimana air galon isi ulang menyebabkan infertilitas. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disusun dari Sensus Penduduk, jumlah penduduk Indonesia bahkan mengalami peningkatan cukup siginifikan dalam 10 tahun terakhir.  

Ada penambahan jumlah penduduk sebanyak 32,56 juta jiwa atau rata-rata sebanyak 3,26 juta setiap tahun. Tingginya angka kelahiran menempatkan jumlah penduduk Indonesia berada pada urutan keempat terbanyak di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat.  

Padahal, seperti diketahui, air minum galon isi ulang sudah mulai diedarkan pada 1984. Artinya, jika benar air galon isi ulang bisa menyebabkan infertilitas, seharusnya tidak terjadi penambahan jumlah penduduk di Indonesia tapi justru turun.  

"Jadi jelas, penggunaan kontrasepsilah yang bisa mengurangi jumlah kelahiran di Indonesia dan bukan karena mengkonsumsi air minum galon guna ulang," tambah Hasto Wardoyo.

BPOM mengutip hasil studi Cohort di Korea Selatan (Journal of Korean Medical Science) yang menyebutkan ada korelasi peningkatan infertilitas pada kelompok tinggi paparan bahan kimia BPA dengan odds ratio atau rasio paparan penyakit mencapai 4,25 kali. 

Pemerintah Korea Selatan sedang berjuang keras menghadapi penyusutan populasinya. Namun, pertumbuhan angka kelahiran yang rendah di Korsel sama sekali tidak ada kaitannya dengan air minum galon isi ulang yang mereka konsumsi.  

Hal itu dilakukan karena mereka harus membangun kembali negaranya setelah Perang Korea 1950-1953. Masyarakat memupuk keyakinan bahwa pendidikan formal sangat penting untuk peluang kerja dan kebahagiaan anak-anak mereka di masa depan. 

"Semua orang tua ingin memberikan pendidikan elite kepada anak-anak mereka. Itu berarti mereka harus menghabiskan 50 persen pendapatan mereka untuk pendidikan. Itu adalah beban besar bagi keluarga, dan berarti bahwa sebagian besar pasangan hanya mampu membiayai satu anak," kata Ohe Hye-gyeong, peneliti di International Christian University, Tokyo. 

Related

Health 4735746415627585117

Recent

item