Chemtrail, Jejak Kimia di Udara yang Memicu Aneka Teori Konspirasi


Chemtrail di langit Jakarta berhasil menimbulkan kehebohan luar biasa di tengah masyarakat. Chemtrail kian menakutkan ketika beredar di media sosial dan menjadi konsumsi netizen.

Chemtrails pun akhirnya dibantah pemerintah melalui Kominfo yang kemudian menyebutnya hoaks dan perlu diluruskan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan beredarnya isu mengenai penyebaran varian Omicron melalui chemtrails adalah tidak benar.

Hal itu disampaikan Plt. Deputi Bidang Klimatologi, Urip Haryoko. Ia menjelaskan chemstrails merupakan gabungan chemistry (kimia) dan trails (jejak), yang dimaknai sebagai penyebaran zat kimia tertentu, biasanya disebut beracun atau berbahaya melalui pesawat terbang.

Oleh karena penyebarannya dilakukan dari udara, dampak terhadap paparan zat kimia ini dapat dirasakan secara luas dan sulit untuk dimitigasi.

Urip kemudian mengutip penelitian yang ditulis J. Marvin Herndon dan timnya yang berjudul Chemtrails are Not Contrails: Radiometric Evidence. Dalam penelitian menyebut sampai saat ini klaim chemtrails dan dampak negatifnya tidak terbukti.

"Isu chemtrail dapat diklasifikasikan sebagai teori konspirasi yang menyebar dan membuat kepanikan publik," ujar Urip lewat keterangan tertulis.

Teori konspirasi soal chemtrail penyebar zat bahaya ini sudah muncul sejak beberapa tahun silam, menyebut ada program rahasia yang disebar melalui pesawat.

Sampai akhirnya muncul dugaan teori konspirasi di Indonesia. Sebelumnya kabar penyebab wabah Omicron melalui chemtrail beredar di media sosial. Salah satunya video yang menampilkan awan mirip jejak pesawat yang direkam warganet di Buah Batu, Kota Bandung, Jawa Barat, pada 7 Februari 2022 dan terakhir di Jakarta beberapa waktu lalu.

Urip menjelaskan, apa yang disebut chemtrail adalah condensation trails atau sering disingkat sebagai contrails. Contrails merupakan fenomena yang terjadi di udara akibat emisi dari mesin jet pesawat terbang yang bertemu dengan udara pada temperatur yang sangat rendah.

Ia mengatakan, proses pembentukan contrails diinisiasi oleh emisi uap air pada temperatur tinggi dari mesin jet pesawat terbang yang dengan cepat bertemu dengan udara pada temperatur yang sangat rendah.

Pertemuan ini berturut-turut dilanjutkan dengan proses kondensasi (perubahan uap air menjadi air) dan proses sublimasi (air menjadi kristal es).

"Proses ini dapat disetarakan dengan proses pembentukan awan," kata Urip.

Meski demikian keberadaan contrails di udara bergantung pada kondisi atmosfer. Seperti penyinaran matahari, perbedaan temperatur, dan perubahan instan arah dan kecepatan angin. Pada kondisi atmosfer yang stabil, contrails dapat bertahan lama dan menyebar secara lateral.

"Contrails menjadi fenomena yang penting dalam pembahasan mengenai pemanasan global. Hal ini karena keberadaannya di lapisan udara yang tinggi dapat memiliki karakter yang mirip dengan awan cirrus," lanjutnya.

Ia menjelaskan, awan cirrus merupakan awan lapisan udara tinggi, yang dapat memantulkan balik radiasi gelombang panjang kembali ke permukaan bumi. Akibatnya temperatur di permukaan bumi dapat menjadi lebih panas dari kondisi normalnya.

Urip mengatakan, ada dua pendekatan untuk menjawab kesalahan informasi mengenai fenomena contrails dan wabah Omicron.

Pertama, Arias-Reyes, et al. yang berjudul Does the pathogenesis of SARS-CoV-2 virus decrease at high-altitude?. Respiratory physiology & neurobiology. Disimpulkan bahwa proses pembentukan unsur patogen berbahaya dari virus SARS-CoV-2 berkurang pada lokasi dengan elevasi tinggi.

"Hal ini disebabkan karena virus tidak dapat bertahan lama pada lingkungan seperti ini karena minimnya lapisan oksigen. Contrails biasanya nampak pada ketinggian 7.000 meter sampai dengan 13.000 meter dengan lapisan oksigen yang sangat tipis," ungkap Urip 

Lebih lanjut, jika terdapat virus SARS-CoV-2 keberadaan sinar ultraviolet (UV) di udara mampu mematikan virus ini, sehingga tidak dapat menyebar secara luas dan sampai ke permukaan.

"Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa chemtrails dan penyebaran Omicron merupakan informasi yang tak tepat dan dibuat untuk menciptakan keresahan masyarakat," tutup Urip.

Konspirasi tentang penyebaran bahan kimia di udara sudah muncul sejak 1990an, ketika Angkatan Udara AS mempublikasikan penelitian terkait modifikasi cuaca.

Namun, muncul sebuah klaim yang menyebutkan ada sebuah program rahasia yang sangat besar untuk menyemprotkan bahan kimia berbahaya dari pesawat.

Narasi yang dibangun kemudian berkembang menjadi sebuah teori konspirasi, di mana chemtrail secara diam-diam disemprotkan untuk pengujian senjata kimia biologis, manipulasi harga saham dengan merusak tanaman, dan bahkan menyebabkan penyakit bagi perusahaan farmasi besar untuk dieksploitasi.

Dikutip National Geographic, sayangnya teori konspirasi itu dibantah banyak pihak, lantaran tak ada penelitian yang membuktikan penggunaan bahan kimia di udara.

Related

Health 619823652111185722

Recent

Hot in week

item