Kisah Colin L. Powell, Tokoh di Balik Perang yang Dilancarkan Amerika (Bagian 1)


Colin L. Powell, tokoh di balik hoaks senjata pemusnah massal untuk menjustifikasi invasi Amerika Serikat ke Irak, meninggal dunia pada usia 84 tahun karena komplikasi akibat Covid-19. Meskipun telah menerima dosis utuh vaksin, kondisi kesehatan Powell memang lebih rentan, karena dia mengidap riwayat kanker darah dan gejala awal parkinson. 

Powell malang melintang di dunia kemiliteran selama lebih dari tiga dekade. Powell muda mengawali karier di Vietnam sampai akhirnya menjadi jenderal bintang empat. Powell ikut mengawasi serbuan pasukan AS ke Panama (1989) dan Perang Teluk (1991), dua operasi militer besar yang dianggap sukses dari kacamata Paman Sam. 

Setelah itu Powell semakin diidolakan di lingkaran eksekutif Gedung Putih. Dia membuat sejarah sebagai orang kulit hitam pertama yang menjabat Penasihat Badan Keamanan Nasional AS, Ketua Staf Kepala Gabungan (perwira militer tertinggi di angkatan bersenjata AS), dan Menteri Luar Negeri. 

Sebagai Menlu di bawah administrasi Presiden George H. W. Bush, Powell berperan besar dalam meyakinkan komunitas internasional tentang senjata pemusnah massal milik rezim Saddam Hussein. Tuduhan ngawur ini berbuah jadi misi perang ke Irak, yang kelak membunuh sedikitnya 184 ribu rakyat sipil. 

Asal Bos Senang 

Powell lahir di New York pada 1937 atau menjelang dekade akhir Depresi Besar. Bapak ibunya, pendatang asal Jamaika, sehari-hari membanting tulang sebagai buruh garmen di kawasan padat Manhattan. Seperti orangtuanya, Powell remaja rajin bekerja. Dilansir dari autobiografi It Worked for Me: In Life and Leadership (2012), saat berusia 14 tahun Powell sudah belajar cari uang dengan menurunkan barang-barang dagangan dari truk di toko milik tetangganya. 

Menginjak umur 18, Powell bergabung dengan Serikat Pekerja Minuman Bersoda agar bisa mengantongi izin kerja penuh waktu sepanjang musim panas. Profesi yang pernah dilakoninya mulai dari tukang angkut dan supir untuk Coca-Cola sampai pengepel lantai di pabrik Pepsi. 

Sementara di sekolah, Powell mengaku “pekerja keras dan berdedikasi” meskipun bukan murid yang cemerlang. Menurut Powell, pengalaman masa muda ikut membentuk kariernya. 

“Selalu lakukan yang terbaik, seberapa sulit atau bencinya dirimu dengan pekerjaanmu, bos-bosmu, lingkungan kerja, atau kolegamu,” jelas Powell. 

Prinsip tersebut dipegang erat saat Powell berkuliah di City College of New York, ia bergabung dalam program pelatihan militer pemerintah tingkat kampus, Reserve Officers' Training Corps (ROTC). Setelah menyelesaikan studi dan program ROTC pada 1958, Powell resmi memulai karier di Angkatan Bersenjata AS. 

Semenjak itu pula, Powell menegaskan, “Saya tidak pernah mencoba melawan prioritas-prioritas para atasan. Justru saya bekerja keras secepat dan setegas mungkin untuk menyelesaikan tugas-tugas dari mereka.” 

Masih dikutip dari bukunya, Powell menulis, “Lebih cepat saya memuaskan para atasan, lebih cepat mereka berhenti mengganggu saya tentang urusannya, dan semakin cepat pula saya bisa beralih ke prioritas saya sendiri. Selalu berikan raja haknya terlebih dahulu.” 

Mirisnya, prinsip di atas dipakai Powell untuk memenuhi tujuan-tujuan kelam. Powell muda pernah menutupi kejahatan yang dilakukan atasannya, Brigjen John W. Donaldson. 

Tahun 1968-69, Donaldson dilaporkan membunuh enam sipil Vietnam dari atas helikopter, serta melukai dua orang lain. Dilansir dari buku Nick Turse berjudul Kill Anything That Moves: The Real American War in Vietnam (2013), Donaldson berusaha memengaruhi para saksi agar mengubah testimoni mereka. 

Powell, yang sudah delapan bulan bekerja untuk Donaldson di Vietnam kala itu, tentu saja ikut memberikan pembelaan sembari memujinya sebagai “komandan brigade yang agresif dan berani.” Akhirnya, Donaldson lolos dari jerat hukum. 

Powell juga terlibat dalam investigasi yang dirancang untuk mengaburkan fakta-fakta penting di balik pembantaian M? Lai di Vietnam Selatan tahun 1968. Kala itu, satu divisi tentara AS membunuh sedikit sedikitnya 350 warga desa, termasuk anak-anak, perempuan, dan orangtua yang tidak bersenjata. 

Sebelum beritanya menyeruak setahun kemudian, Powell sudah diberi mandat untuk menelusuri laporan dari seorang serdadu, Tom Glen, yang mengetahui aksi brutal sepasukan tentara AS terhadap penduduk lokal. 

Akan tetapi, dikutip dari artikel Robert Parrt di In These Times, alih-alih mewawancarai Glen secara langsung, Powell malah menelan mentah-mentah klaim dari atasan Glen bahwa anak buahnya tidak berada di garda terdepan untuk cukup tahu kejadiannya. 

Laporan dari Powell pun diakhiri dengan pernyataan bahwa “hubungan antara tentara AS dan rakyat Vietnam sangatlah baik.” Hal ini, menurut Parrt, dijadikan “kesempatan untuk membuat jajaran tinggi militer terkesan” pada Powell. 

Tak berapa lama, seorang investigator mendatangi Powell agar mengecek jumlah korban jiwa di pihak musuh pada bulan terjadinya insiden M? Lai. Totalnya berjumlah 128 jiwa—angka yang cukup besar untuk memantik rasa ingin tahu Powell. Akan tetapi, kecurigaan itu tidak pernah membuat Powell mempertanyakan atau menyadari bahwa suatu pembantaian pernah terjadi. 

Memang Powell tidak terlibat langsung dalam kejahatan perang M? Lai. Namun, seperti David Corn tulis untuk The Nation, ia sudah menjadi “bagian dari sebuah institusi (dan divisi) yang berusaha keras menyembunyikan cerita tentang M? Lai.” 

Powell tidak menampik kebrutalan yang terjadi selama pasukan AS berada di Vietnam. Akan tetapi, seperti elite militer lainnya, ia “diam” dan “tidak tertarik untuk mengupas kebenaran-kebenaran mengerikan ini,” tulis Corn. 

Jadi Kesayangan Gedung Putih 

Memasuki usia 42, Powell diangkat menjadi brigadir jenderal—otomatis menjadikannya jenderal bintang satu paling muda kala itu. Kariernya semakin meroket sampai mulai diperhitungkan di Gedung Putih. Sepanjang 1983-1986, Powell menjadi penasihat militer senior untuk Caspar Weinberger, Menteri Pertahanan di kabinet pemerintahan Presiden Ronald Reagan. 

Weinberger termasuk salah satu pejabat di lingkaran Reagan yang divonis hukuman karena terlibat skandal penjualan senjata ke Iran, suatu kedok untuk menyokong grup-grup kontrarevolusi di Nikaragua, Amerika Tengah. 

Dikutip dari tulisan Kelsey Atherton di Jacobin, pada 1985 Powell rupanya pernah hadir pada satu pertemuan terkait negosiasi senjata untuk menukar tawanan perang dan dilaporkan tahu banyak hal tentangnya. 

Powell bekerja untuk Menhan Weinberger selama tiga tahun. Setelah itu, ia menjadi wakil penasihat, kemudian penasihat utama, di Badan Keamanan Nasional AS sampai administrasi Reagan selesai awal 1989. 

Presiden Republikan penerus Reagan, George W. Bush, lantas mengangkat Powell sebagai Ketua Kepala Staf Gabungan, jabatan tertinggi di Angkatan Bersenjata AS. Beberapa bulan setelah memangku jabatan tersebut, Powell mengawasi jalannya Operation Just Cause, invasi pasukan AS ke Panama untuk melengserkan diktator Jenderal Manuel Noriega. 

Noriega yang sedari lama menjadi sekutu AS dan aset bagi Badan Intelijen AS (CIA) dipandang sudah terlalu dekat dengan intelijen-intelijen asing sehingga perlu disingkirkan. 

Baca lanjutannya: Kisah Colin L. Powell, Tokoh di Balik Perang yang Dilancarkan Amerika (Bagian 2)

Related

History 8519542963999786532

Recent

Hot in week

item