Masalah ‘Kekurangan Waktu’, dan Bagaimana Mengatasinya (Bagian 1)


Tidak pernah ada cukup waktu dalam sehari. Begitulah yang banyak diutarakan orang. Namun, bagi sebagian orang tua, waktu yang mereka miliki bahkan lebih sedikit lagi - dan masalah 'kemiskinan waktu' atau kekurangan waktu kini menjadi perhatian para pengamat.

Waktu untuk diri sendiri, waktu untuk dihabiskan bersama anak-anak, atau waktu untuk mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Tanyakan kepada orang tua mana pun keluhan terbesar mereka, dan banyak yang akan mengatakan beberapa versi dari masalah yang sama: tidak ada cukup waktu untuk mengerjakan semuanya.

'Kemiskinan waktu' adalah sebuah konsep yang didefinisikan sebagai perasaan kronis memiliki terlalu banyak hal yang perlu dikerjakan, dan tidak cukup waktu untuk mengerjakan semuanya.

Penelitian menunjukkan sebagian besar orang terus-menerus merasa 'miskin waktu', dan kemiskinan waktu itu dapat memiliki dampak yang parah dan luas, termasuk pada kesejahteraan yang lebih rendah, kesehatan fisik, dan produktivitas.

Masalah ini sangat persisten di antara orang tua; mereka yang tinggal dengan anak di bawah usia 15 tahun memiliki waktu luang hingga 14 jam per minggu lebih sedikit daripada orang-orang yang tinggal sendiri, menurut statistik resmi Inggris.

Penelitian menunjukkan bahwa pengasuh utama anak dari berbagai latar bekalang - terutama ibu berpenghasilan rendah yang tidak memiliki akses terhadap fasilitas pendukung yang tersedia bagi mereka yang berpenghasilan lebih tinggi - sangat rentan terhadap tekanan waktu, sementara orang yang mengalami miskin waktu yang kronis sering kali terjebak dalam lingkaran kemiskinan sosial dan finansial.

Pandemi telah memperbesar banyak masalah kemiskinan waktu - tetapi para ahli percaya bahwa mungkin ada cara untuk menutup kesenjangan ini.

Dampak terbesar

Masyarakat saat ini hidup di era di mana produktivitas dimuliakan: budaya 'selalu aktif' berarti bahwa pekerjaan kita sering tercampur dalam waktu pribadi kita; mengasuh anak terasa lebih intens; dan teman, hobi, serta minat-minat lainnya dapat kapan saja diakses hanya dengan satu ketukan di ponsel.

"Anda akan merasa sulit untuk menemukan satu orang yang mengatakan bahwa mereka tidak miskin waktu," kata Grace Lordan, direktur Inclusion Initiative (Inisiatif Inklusi) di London School of Economics.

"Orang-orang lebih sering merasa perlu selalu hadir bagi pekerjaan, keluarga, dan teman, karena selalu terhubung dengan teknologi. Untuk anak-anak, ada banyak kegiatan yang lebih terstruktur dibandingkan dengan masa lalu. Jadi bagi orang tua, hari Sabtu tidak lagi hanya membuka pintu rumah dan membiarkan anak keluar untuk bermain. Pergeseran ini secara mendasar mengubah cara kita memandang dan menilai waktu."

Di satu sisi, sebagian demografi tertentu telah menikmati manfaat dari cara kerja yang lebih efisien selama beberapa dekade terakhir. Namun, di sisi lain, ada yang menderita karena peningkatan waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan yang tidak dibayar dan beban kerja kognitif - beban yang paling sering dipikul oleh perempuan.

Bukan kemiskinan waktu yang meningkat, tetapi ketimpangan waktu.

"Kemiskinan waktu sangat mempengaruhi orang tua, tetapi juga secara tidak proporsional mempengaruhi orang miskin," kata Aleksander Tomic, dekan untuk Strategy, Innovation and Technology (Strategi, Inovasi dan Teknologi) di departemen ekonomi, Boston College.

"Bagi keluarga yang tidak dapat membayar pengasuh untuk anak-anak, orang tua lansia atau anggota keluarga yang sakit, pengasuhan anak dan berbagai janji dapat menuntut waktu yang sangat banyak. Tugas pengasuhan hampir selalu dilakukan oleh perempuan, bahkan jika mereka tinggal bersama pasangan."

Bagi perempuan - dan khususnya perempuan yang memiliki anak - kekurangan waktu adalah masalah serius.

Penelitian menunjukkan bahwa di negara maju, perempuan menghabiskan dua kali lebih banyak waktu per hari untuk pekerjaan yang tidak dibayar, seperti memasak, membersihkan rumah dan merawat anak-anak, sementara di negara berkembang, angka ini meningkat menjadi 3,4 kali lipat.

Dalam beberapa kasus, ini karena ketidaksetaraan yang nyata dan ekspektasi gender tentang pekerjaan yang harus dilakukan perempuan. Sementara di sebagian tempat lain, ketidaksetaraan itu mungkin terlihat lebih samar.

Perempuan lebih banyak menghabiskan waktu dengan apa yang disebut 'beban tersembunyi' - beban emosional dan kognitif yang dipikul perempuan, seperti perencanaan makan atau mengatur teman bermain bagi anak, yang tetap tidak terwakili dalam ukuran produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.

Kemiskinan waktu yang dipicu oleh beban pekerjaan rumah tangga yang tersembunyi sering kali mendorong perempuan - dan khususnya pengasuh perempuan - keluar dari angkatan kerja atau terpaksa beralih ke pekerjaan yang bergaji lebih rendah.

"Kemiskinan waktu kognitif dapat juga muncul di rumah tangga berpenghasilan lebih tinggi, karena seseorang masih harus mengoordinasikan semua pekerjaan rumah tangga," kata Tomic.

"Kita dapat melihat cerminan dari frustrasi yang berasal dari kemiskinan waktu saat ini, terutama dalam bentuk 'the Great Resignation' (Pengunduran Diri Besar-besaran)."

Baca lanjutannya: Masalah ‘Kekurangan Waktu’, dan Bagaimana Mengatasinya (Bagian 2)

Related

Psychology 5926908847829604172

Recent

item