Masalah ‘Kekurangan Waktu’, dan Bagaimana Mengatasinya (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Masalah ‘Kekurangan Waktu’, dan Bagaimana Mengatasinya - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Lingkaran kekurangan waktu

Nicole Villegas, seorang terapis okupasi yang berbasis di Portland, Oregon, Amerika Serikat, sering melihat pekerja yang kelelahan datang kepadanya, dengan keluhan bahwa mereka tidak punya cukup waktu dalam sehari.

Dia mengatakan, banyak dari mereka merasa hari-hari berlalu terlalu cepat. Ia pun menilai kemiskinan waktu menyebabkan kurang tidur, kelelahan dan depresi.

Bagi sebagian orang, dampak kesehatannya bisa lebih signifikan. Merasa kewalahan oleh tanggung jawab rumah tangga dapat menyebabkan perempuan menunda mencari perawatan medis, dengan satu penelitian menunjukkan bahwa lebih dari seperempat perempuan di Amerika menunda atau tidak mencari perawatan kesehatan dalam 12 bulan terakhir karena kurangnya waktu.

Ada juga bukti bahwa kemiskinan waktu mendorong kebiasaan makan yang tidak sehat dan kurangnya olahraga, dan mereka yang kekurangan waktu mengalami tingkat kesejahteraan yang jauh lebih rendah .

"Kemiskinan waktu menciptakan hambatan bagi orang yang ingin mengeksplorasi minat mereka di luar tanggung jawab wajib seperti pekerjaan atau urusan keluarga," kata Villegas.

"Ketika orang hidup dengan kemiskinan waktu, mereka sering kehilangan kegiatan rekreasi yang dapat mendukung kualitas hidup."

Tetapi bukan hanya waktu senggang dan kesempatan untuk mengeksplorasi minat baru yang dilewatkan oleh kaum miskin; kesempatan untuk memperbaiki keadaan hidup juga tersingkirkan.

Orang tua yang juga pelajar memiliki kemungkinan yang lebih kecil dibandingkan rekan-rekan mereka yang tidak memiliki anak untuk menyelesaikan kuliah.

Sementara, individu dengan anak-anak di bawah usia 13 tahun menghabiskan lebih sedikit waktu untuk pendidikan, dengan para ahli secara khusus menunjuk pada kemiskinan waktu sebagai penyebab utama.

Akademisi juga mencatat bahwa orang yang miskin waktu mengalami kesulitan untuk menyisihkan waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dan sering tidak memiliki ruang mental untuk membuat keputusan keuangan yang baik.

Kemiskinan ekonomi yang mereka alami menciptakan kemiskinan waktu yang lebih besar - ini bisa berupa lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas jika sebuah rumah tangga tidak memiliki akses internet yang dapat diandalkan, waktu yang dihabiskan untuk merawat anak-anak jika tidak mampu membayar penitipan anak, atau waktu yang diperlukan dalam perjalanan jika seseorang tidak mampu untuk tinggal di pusat kota besar.

Seorang individu kemudian terjebak dalam lingkaran setan. Pendapatan mereka yang rendah membuat mereka miskin waktu - tetapi kurangnya waktu mereka juga menghentikan mereka untuk memperbaiki keadaan ekonomi mereka.

"Dari perspektif ekonomi, kemiskinan waktu bermanifestasi dalam produktivitas yang lebih rendah, dan pada akhirnya menurunkan peluang untuk maju," kata Tomic. "Ini pada akhirnya menghasilkan kesenjangan upah."

Mengurangi kesenjangan

Pandemi hanya memperparah masalah yang ada, dengan rata-rata hari kerja meningkat 48 menit pada masa awal karantina, dan proporsi pekerjaan tidak berbayar yang dilakukan oleh perempuan berlipat ganda karena banyak ibu yang bekerja sambil mengajar anak mereka yang sekolah jarak jauh.

Stres dan depresi meningkat di antara orang tua yang kewalahan, dan di AS, partisipasi pasar tenaga kerja di kalangan perempuan turun ke level terendah dalam 30 tahun, karena para ibu yang berjuang dengan tuntutan pekerjaan dan keluarga akhirnya berhenti bekerja.

"Pandemi telah memperparah masalah kemiskinan waktu dengan menghapus banyak sistem pendukung yang sebelumnya tersedia untuk orang tua, dan dalam beberapa kasus menambahkan tanggung jawab baru, seperti berbelanja bahan makanan untuk tetangga yang sudah lanjut usia," kata Iryna Sharaevska, asisten profesor di College of Behavioural, Social and Health Sciences, Clemson University, AS.

"Tanggung jawab tambahan ini terutama ada di pundak perempuan. Akibatnya, seorang ibu bisa dua kali lebih mungkin kehilangan pekerjaan mereka dibandingkan seorang ayah, demi mengakomodasi kurangnya pengasuhan anak, sementara banyak perempuan lainnya yang harus mengurangi jam kerja mereka. Perempuan kulit berwarna, perempuan tanpa gelar sarjana, dan perempuan berpenghasilan rendah adalah yang paling terpengaruh."

Sharaievska khawatir bahwa kemiskinan waktu akan meningkat di masa depan.

"Sebagai masyarakat, kita terus berharap dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja, serta keterlibatan dan tanggung jawab sebagai orang tua," katanya.

"Kita memuji mereka yang mampu 'melakukan semuanya'. 'Ibu super' yang 'memiliki segalanya' terus-menerus ditampilkan di media dan media sosial sebagai tujuan yang harus diperjuangkan, yang juga menormalisasi kurangnya dukungan dari pemerintah, perusahaan dan masyarakat, dan menempatkan tanggung jawab kembali pada ibu."

Dia mengatakan, mengurangi kesenjangan kemiskinan waktu membutuhkan perubahan nyata dari pemerintah maupun pengusaha, dengan kebijakan yang jelas diperlukan untuk mendukung ibu dan pengasuh utama dalam keluarga.

"Pemerintah perlu membuat kebijakan yang mendukung orang tua - jaminan liburan berbayar dan cuti orang tua, cuti keluarga yang tidak dilihat sebagai kesempatan 'sekali seumur hidup'," katanya.

"Bantuan tambahan harus diberikan untuk orang tua tunggal, keluarga berpenghasilan rendah, dan keluarga di masyarakat pedesaan. Pengusaha harus menciptakan lingkungan di mana karyawan dapat memenuhi kebutuhan mereka tanpa takut kehilangan pekerjaan."

Related

Psychology 8192667279042829413

Recent

item