Mau Investasi di Reksa Dana Tapi Bingung? Ini Penjelasan serta Simulasinya


Semakin hari masyarakat Indonesia kian sadar akan pentingnya melakukan investasi terhadap dana lebih yang dimiliki. Hal ini tercermin dari jumlah investor Tanah Air yang meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, masih juga ada masyarakat yang tertipu investasi bodong yang salah satunya disebabkan oleh minimnya literasi keuangan.

Masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya paham akan seberapa besar potensi pengembalian yang diperoleh dan juga risiko yang terikat dari masing-masing investasi tersebut.

Secara umum, reksa dana merupakan salah satu jenis investasi dengan risiko yang paling rendah, dengan pengembalian yang juga tidak terlalu tinggi pula tentunya. Investasi lain yang juga memiliki profil risiko rendah termasuk juga investasi di surat utang. 

Secara sederhana, investor yang tertarik ikut dapat menitipkan dananya untuk dikelola oleh manajer investasi yang akan membeli instrumen investasi yang tersedia di pasar modal. Selanjutnya di akhir periode, uang yang dititipkan nasabah akan dikembalikan beserta keuntungan dan kerugian jika ada.

Reksa dana kemudian dapat digolongkan lagi ke dalam beberapa kategori, tergantung dari instrumen keuangan yang dikoleksi yang juga menentukan agresivitas investasi.

Secara umum terdapat empat jenis reksa dana yang ditawarkan yakni reksa dana saham yang tentunya berisikan saham, reksa dana campuran yang berisi campuran dari saham dan obligasi, reksa dana pendapatan tetap dan terakhir reksa dana pasar uang yang berisi dana tunai atau obligasi yang akan jatuh tempo.

Lalu semenarik apa investasi di reksa dana dibandingkan dengan tabungan konvensional di bank?

Untuk mempermudah perhitungan, biaya-biaya terkait yang dibebankan seperti potongan bulanan bank atau biaya pengelolaan reksa dana diasumsikan tidak ada.

Jika dilihat secara umum dan historis, reksa dana memberikan pengembalian yang jauh lebih besar dari tabungan yang tidak terpakai di bank. Meskipun bisa saja reksa dana memberikan imbal negatif.

Mari kita cek simulasinya seperti berikut ini. 

Apabila nasabah melakukan setoran tabungan per bulan Rp 500 ribu selama setahun penuh, dengan bank menawarkan bunga tahunan 1,5% maka pada akhir tahun, nasabah akan memperoleh Rp 6.041.420.

Sebagai gambaran data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS), suku bunga tabungan bank umum di Indonesia tahun  lalu tidak mencapai 1%.

Keuntungan tersebut kian tergerus jika variabel biaya administrasi dan biaya layanan anjungan tunai mandiri (ATM) setiap bulannya - yang nilainya lumayan - dimasukkan dalam kalkulasi.

Sementara itu jika menggunakan simulasi dari laman resmi Mandiri Investasi, jumlah yang sama jika dimasukkan ke dalam reksa dana hasilnya dapat mencapai Rp 6.654.809 jika tingkat risiko yang dipilih agresif, dan sebesar Rp 6.232.437 jika dipilih yang sangat konservatif.

Perlu dicatat, ini bukan merupakan angka pasti, melainkan hanya perkiraan dan indikasi potensi berdasarkan performa rata-rata secara historis.

Sementara jika menggunakan kalkulator yang disediakan Trimegah Sekuritas, investasi yang sama jika diletakkan di reksa dana saham akan menghasilkan Rp 6.475.044, asumsi imbal hasil 14%.

Kemudian, jika di reksa dana campuran menjadi Rp 6.369.796 (imbal hasil 11%), reksa dana pendapatan tetap Rp 6.266.463 (imbal hasil 8%) dan reksa dana pasar uang Rp 6.198.620 (imbal hasil 6%).

Angka tersebut bisa saja lebih tinggi atau lebih rendah. 

Dari simulasi dan kalkulasi di atas terlihat bahwa melakukan investasi di reksa dana jauh lebih menguntungkan daripada hanya membiarkan kelebihan uang mengendap di tabungan bank.

Related

Money 650200825951798973

Recent

item