Mengapa Orang Bisa Menyukai Sesama Jenis? Ini Penjelasan Ilmiahnya (Bagian 1)


"Kenapa sih, kok bisa ada orang yang suka dengan sesama jenis?" Pertanyaan yang ditanyakan seorang yang heteroseksual, ketika sudah cukup usia untuk tahu preferensinya secara sadar, dikatakan punya muatan makna yang sama dengan pertanyaan: "kenapa sih, kok bisa ada orang yang suka dengan lawan jenis?"

Pertanyaan yang diajukan seorang yang homoseksual. Itu terlontar ketika seseorang hanya mereferensikan pemikiran pada perasaan pribadi saja, yang menjadi rasa heran atau penasaran. Kamu termasuk salah satu di antara dua orang di atas?

Selama bertahun-tahun, topik ini terus diperdebatkan di antara kalangan Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender (LGBT) dan non-LGBT. Beberapa mengatakan orientasi homoseksual diperoleh sejak lahir; beberapa mengatakan faktor lingkunganlah yang berkontribusi pada orientasi homoseksual. Padahal ketika berbicara soal "kenapa bisa" itu perlu riset yang mendalam dan menyeluruh.

Pertama-tama, perlu ditekankan bahwa pembahasan artikel ini mengesampingkan pro dan kontra terkait topiknya. Namun artikel ini akan lebih membahas tentang apa saja faktor yang bisa membentuk orientasi seksual seseorang, yang tentunya didukung dengan berbagai riset ilmiah. Dengan begitu, kita bisa lebih mengerti kompleksitas manusia secara fisik maupun psikologisnya.

Yang perlu kamu tahu, kita membicarakan ini semua sepenuhnya dari sudut pandang ilmiah atau berdasarkan riset ilmiah yang pernah dilakukan. Sekali lagi, ini membicarakan soal "kenapa bisa" ya. 

1. Memang terlahir demikian alias faktor genetis

Beberapa kaum homoseksual menyatakan bahwa mereka memang "terlahir begitu". Dengan kata lain, silsilah keluarga mereka menyebabkan mereka memiliki orientasi homoseksual. Bagaimana kata riset mengenai hal ini?

Riset pada 1991 oleh ilmuwan asal Inggris, Simon LeVay, menyatakan bahwa perbedaan kecil pada ukuran sel-sel tertentu di otak dapat mempengaruhi orientasi seksual seseorang. Riset ini menjadi tonggak penelitian homoseksual.

Pada 1993, ilmuwan asal Amerika Serikat, Dean Hamer, mendukung teori tersebut seraya memaparkan teorinya bahwa beberapa penanda DNA pada kromosom X berkontribusi pada orientasi homoseksual pada pria.

Pada 1997, profesor ahli kejiwaan di University of Toronto, Ray Blanchard, mengemukakan bahwa terdapat antigen H-Y pada pria yang menentukan orientasi seksual. Jadi, apabila antigen tersebut tidak aktif, bisa jadi itulah faktor yang menjadikan mereka homoseksual.

Namun, teori LeVay terbantahkan satu tahun kemudian oleh ahli biologi asal Amerika Serikat, Anne Fausto-Sterling, yang menulis di bukunya, Myths of Gender (1992), bahwa terdapat kesalahan di sampel LeVay.

Kebanyakan ilmuwan yang meneliti hubungan genetis dan homoseksualitas pada akhirnya menutup penelitiannya dengan mengatakan bahwa lingkunganlah yang menjadi faktor utama pembentukan orientasi seksual.

Kalau begitu, mengapa validitas secara ilmiah diperlukan? Karena 61 persen komunitas homoseksual membutuhkan "dasar yang kuat" untuk membuktikan bahwa orientasi seksual bukanlah sebuah "pilihan" melainkan "keturunan" (data dari majalah The Advocate, 1996).

Apakah kampanye ilmiah ini berhasil? Bisa dibilang begitu. Terbukti pada 2014, sebanyak 40 persen masyarakat di Amerika Serikat menganggap homoseksualitas adalah "genetis" dan sekitar 30 persen "lingkungan". Bisa dilihat betapa kontrasnya pandangan masyarakat pada 1978 (data dari Gallup, 2014) How the time has changed!

2. Konstruksi sosial dan budaya

Terlepas dari perdebatan ilmiah mengenai penyebab homoseksualitas, orientasi homoseksual adalah hasil dari konstruksi sosial. Michael Foucoult dalam buku The History of Sexuality (1976) menyatakan bahwa terjadi perubahan besar pada gairah seksual manusia.

Foucoult memaparkan bahwa manusia pada abad ini menggambarkan orientasi seksual sebagai bentuk "kebenaran diri", dan kebenaran itu harus dicari. Jesi Egan mendukung pernyataan Foucoult seraya mengatakan bahwa orientasi seksual berbanding lurus dengan aktivitas seksual.

Konstruksi sosial sebagai faktor pendorong orientasi seksual telah ada selama berabad-abad yang lalu. Inilah buktinya:

Kebudayaan Yunani Purba mengizinkan praktik perjantanan, di mana pria lebih tua menjalin hubungan seksual dengan pria yang lebih muda. Mereka menganggap itu sebagai "bentuk cinta yang sesungguhnya."

Suku Sambia di Papua Nugini mengharuskan bocah laki-lakinya meminum sperma, karena suku Sambia percaya sperma memiliki "jiwa maskulinitas". Jadi, jika ingin mendapatkan maskulinitas, mereka harus meminum "sesuatu" dari dalam kaum lelaki.

Kelemahan teori ilmiah homoseksualitas adalah keadaan di mana standar dan konsep seksualitas dunia dapat berubah sewaktu-waktu. Apakah rakyat Yunani Purba dan Suku Sambia di Papua Nugini memiliki "gen gay"? Tidak juga. Karena kaum Sambia yang telah melewati ritual ini kemudian tetap menikah secara hetero dan berkeluarga.

Baca lanjutannya: Mengapa Orang Bisa Menyukai Sesama Jenis? Ini Penjelasan Ilmiahnya (Bagian 2)

Related

Sexology 8703236076176458132

Recent

item