Mengapa Orang Bisa Menyukai Sesama Jenis? Ini Penjelasan Ilmiahnya (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Mengapa Orang Bisa Menyukai Sesama Jenis? Ini Penjelasan Ilmiahnya - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

3. Keluarga yang kurang berfungsi

Apakah lembaga primer dalam masyarakat? Tentu saja, keluarga. Namun, apa yang terjadi bila keluarga tersebut tidak berfungsi semestinya? Ambil contoh, seorang anak laki-laki tinggal dalam keluarga dengan figur ibu yang lebih dominan dari ayah.

Karena kurangnya interaksi dengan ayah, terbentuk keinginan lebih untuk mendapatkan kasih sayang dari figur seorang "ayah" atau laki-laki. Di kemudian hari, inilah yang bisa mengarah ke orientasi homoseksual (gay).

Beberapa pemilik orientasi homoseksual menyatakan bahwa absensi figur seorang ayah saat masa kecil berpengaruh besar pada orientasi seksual mereka di masa depan. Inilah penjelasan faktor psikologis yang membentuk orientasi seksual tersebut.

4. Trauma

Beberapa orang benci harus mengakui ini, tetapi orientasi homoseksual mereka terbentuk karena sebuah trauma masa lampau. Lebih dari sering, beberapa orang yang mengaku pernah menjalani hubungan homoseksual menyatakan bahwa mereka pernah mengalami pelecehan seksual saat masih remaja atau masih kecil.

Menurut statistik pada 2017, Kementerian Sosial Indonesia (Kemensos) menyatakan bahwa rata-rata remaja laki-laki berumur 16 tahun lebih rentan terhadap kekerasan fisik, psikis, dan seksual. Terlebih, saat mereka beranjak dewasa, mereka terekspos pada materi-materi pornografi dan hal-hal lain yang semakin memperparah luka hasil pelecehan masa lampau.

Karena kasus kekerasan seksual yang mereka alami kerap dianggap memalukan, mayoritas tidak berani menceritakannya bahkan pada orang yang paling mereka percaya ataupun orangtua. 

Akhirnya mereka mencari cara untuk "mengobati" kebingungan perasaan mereka secara mandiri, yang kebanyakan akhirnya mengarah pada penyimpangan dari orientasi seksual mereka yang sebelumnya. Lebih buruk lagi jika itu mengarahkan mereka pada penyimpangan perilaku, seperti seks bebas, ikut melakukan perundungan atau penggunaan obat terlarang.

Bayangkan jika penyintas kejadian seperti itu, yang bisa membentuk orientasi seksualnya, kemudian mendapatkan perlakuan diskriminatif setelahnya, betapa berat hidup yang harus dijalani. Tidak hanya perang dalam batin yang berat, tapi juga perlakuan tidak manusiawi dari sekitarnya.

Memahami dan memanusiakan manusia itu yang terpenting, terkait adanya penyimpangan perilaku seperti seks bebas, itu urusan lain yang tak semestinya kita hakimi sendiri. Ada hukum yang berlaku untuk menindaknya, kan?

5. Kebudayaan yang jangak

Yang dimaksud kebudayaan jangak adalah di mana segala aktivitas boleh dilakukan demi pengembangan diri (baik bersifat positif atau negatif). Salah satu contoh yang paling lazim adalah kebudayaan Amerika Serikat.

Dalam jangka 40 tahun, angka kaum homoseksual di Amerika Serikat meningkat pesat. Dibandingkan ketidakpastian faktor ilmiah, faktor kebudayaan yang menjerumuskan seseorang memainkan peran yang lebih besar pada orientasi seksual.

Di balik statistik ini, berdiri banyak gay bar yang menjadi tempat perkumpulan utama kaum homoseksual. Di Indonesia sendiri, Bali memiliki setidaknya empat gay bar dominan di daerah Seminyak. Bahkan, Bali alias Pulau Dewata dinyatakan sebagai destinasi homoseksual nomor wahid di Indonesia.

Beberapa negara di dunia pun sudah melazimkan toleransi terhadap homoseksual, sehingga mereka tidak perlu malu lagi. Toleransi terhadap menjalankan hubungannya ya, bukan hanya sekadar toleransi terhadap orientasi kesukaannya.

Namun, karena pandangan bahwa toleransi terhadap homoseksual menyebabkan angkanya melonjak tinggi, beberapa negara seperti Uganda, Rusia, bahkan Indonesia, dan beberapa negara lainnya mengundangkan UU Anti LGBT, yang dikeluhkan akan mendiskriminasi hak asasi manusia komunitas LGBT.

Tentu saja, faktor-faktor ini hanyalah sebagian kecil dari kisah-kisah yang tak terungkapkan oleh komunitas homoseksual. Namun, inilah saatnya Indonesia lebih waspada terhadap kekerasan terhadap anak dan remaja yang mengarah pada penyimpangan orientasi seksual dari yang sebelumnya. 

Jadi, tingkat kekerasan itu yang bisa kita kontrol agar tidak terjadi lagi perubahan orientasi seksual di tengah seseorang beranjak dewasa.

Catatan: Keberadaan orientasi homoseksual di Indonesia bukan untuk dijauhi atau malah dianiaya. Mereka memiliki hak yang sama seperti kita dan memiliki beban hidup yang sama seperti kita. Mari berpikiran terbuka, dan rangkul mereka ke dalam masyarakat. Yang diperjuangkan adalah hak asasi setiap orang sebagai manusia dan makhluk sosial.

Related

Sexology 5070174296576212833

Recent

item