Mengapa Orgasme Perempuan Selalu Jadi Topik Penelitian?


Perempuan orgasme diperlakukan layaknya fenomena langka yang harus ditelaah. Proceedings of the National Academy of Sciences menerbitkan studi yang menguji orgasme perempuan sebagai pemicu ovulasi, menggunakan kelinci.

Para peneliti memberikan Prozac kepada salah satu dari dua kelompok kelinci. Obat ini memiliki sifat menghambat orgasme. Setelah itu, mereka mengukur tingkat ovulasi pasca-senggama pada kedua kelompok. Hasilnya menunjukkan tingkat ovulasi pada kelompok kelinci yang tak diberi obat 30 persen lebih tinggi.

Gara-gara studi ini, ovulasi dapat dipicu oleh orgasme menjadi topik menarik bagi kalangan akademik. Dua peneliti, Mihaela Pavlicev dan G√ľnter Wagner, menerbitkan tinjauan pustaka dalam Journal of Experimental Zoology Part B: Molecular and Developmental Evolution, yang terinspirasi dari hipotesis terdahulu bahwa orgasme perempuan memiliki semacam koneksi penting dengan proses reproduksi (daripada peran berguna tapi tak begitu penting, seperti kenaikan tingkat ovulasi), atau berevolusi sebagai suatu kesalahan biologis.

Namun, penelitiannya malah mencerminkan betapa masyarakat terlalu ribet mempermasalahkan gairah perempuan. Kenapa para peneliti ini kesannya ngebet banget membuktikan orgasme perempuan ada gunanya?

Kalau dipikir-pikir, selama ini jarang ada akademisi yang mempertanyakan fungsi puting pada laki-laki. Kita semua tahu organ seksual ini tak ada gunanya buat kaum adam, tapi mereka buktinya tetap punya puting! Lalu, mengapa orgasme perempuan harus dibuktikan fungsinya? 

Kedua peneliti itu dipuji habis-habisan oleh media karena "berhasil" memecahkan misteri orgasme perempuan, padahal sebenarnya… tidak begitu penting. 

Related

Sexology 8444115339888123592

Recent

item