Perang Teluk I: Kisah Saddam Hussein dan Invasi Irak ke Kuwait (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Perang Teluk I: Kisah Saddam Hussein dan Invasi Irak ke Kuwait - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Pemimpin Kuwait, Jaber al-Ahmed al-Sabah, sudah mengungsi bersama pengawal dan anggota keluarga sebelum ditangkap pasukan Irak. Warga sipil tentu saja turut menjadi korban. Total yang terbunuh diperkirakan sekitar 200 orang. Sementara itu kerusuhan dan aksi penjarahan merebak di berbagai titik. Seluruh jaringan komunikasi diputus, baik komunikasi dalam negeri maupun ke luar negeri. 

Kondisi ini membuat ribuan warga Kuwait dan orang-orang asing terperangkap di dalam kota-kota. Pada saat itu Saddam mengklaim pemerintahan Kuwait telah digulingkan oleh grup revolusioner dan meminta bantuan Irak. Mereka juga memperingatkan agar jangan terjadi intervensi asing lain. 

Perwakilan Kuwait kemudian menyangkal klaim tersebut. Sejumlah negara langsung mengecam invasi Irak, dua di antaranya Amerika Serikat dan Inggris. Sementara Uni Soviet menghentikan kiriman perlengkapan militernya ke Irak. PBB mendesak Irak untuk angkat kaki dari Kuwait. Tapi hingga batas waktu yang ditetapkan, Irak tak mengindahkannya. 

Pada 9 Agustus 1990 Dewan Keamanan PBB mengambil suara 15:0 untuk menyatakan tidak berlakunya aneksasi Irak atas Kuwait, lalu meluncurkan pasukan gabungannya. Pasukan gabungan dipimpin Amerika Serikat dan didukung Kuwait, Inggris, Arab Saudi, Mesir, dan Perancis. Mereka diterjunkan dalam Operasi Penyelamatan Gurun selama beberapa bulan. 

Manuver tersebut mengawali apa yang sejarah catat sebagai Perang Teluk I. 

Pada 17 Januari 1991, serangan gelombang kedua dikerahkan dengan nama Operasi Badai Gurun. Operasi ini tercatat sebagai serangan udara dengan durasi terpanjang dalam sejarah pertempuran angkasa. 

Irak awalnya bisa bertahan. Lama kelamaan tenaga mereka menipis. Serangan misil ke Israel dan Arab Saudi tidak menimbulkan efek yang signifikan. Pada 28 Februari 1991 kekuatan militer mereka sudah benar-benar hampir habis, sehingga Saddam menyetujui gencatan senjatan. 

Kegilaan Saddam Hussein 

Perang kemudian berakhir. Tapi, sembari hengkang dari Kuwait, dalam rekam jejak yang makin menegaskan kegilaan Saddam, adalah keputusannya untuk menjalankan strategi bumi hangus. New York Times pernah menarasikan bagaimana mereka membakar 700-an ladang minyak Kuwait sembari melakoni perjalanan pulang. 

Api pertama menyala pada Januari dan Februari 1991. Proses pemadamannya menelan biaya besar—semua ditanggung Kuwait. Penanggulangannya memakan waktu lama. Pemadaman api terakhir baru dilakukan pada November 1991. 

Polusi yang dihasilkan dari aksi bumi hangus itu meluas hingga melumpuhkan perekonomian warga lokal yang dulu bergantung pada ladang-ladang minyak tersebut. 

Tapi krisis multidimensi yang lebih parah juga dialami warga Irak. Ini buntut dari sanksi ekonomi yang diberlakukan PBB per 6 Agustus 1990 atau empat hari setelah Irak melancarkan invasinya. Nama resminya Resolusi 661. Embargo tidak meliputi persediaan medis, makanan, dan kebutuhan kemanusiaan lain. 

Meski demikian, sanksi tersebut tetap mendorong Irak ke jurang hiperinflasi, kian luasnya angka pengangguran, memperparah kemiskinan, dan melahirkan kasus-kasus malnutrisi. Pada 1990-an, PBB melunakkan sanksi mengingat dampaknya amat dirasakan warga Irak secara umum. Embargo baru secara resmi dicabut pada 2003, atau tahun terakhir Saddam berkuasa.

Related

History 549466965070265855

Recent

item