Sejarah dan Asal-Usul Pola Makan Tiga Kali Sehari (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Sejarah dan Asal-Usul Pola Makan Tiga Kali Sehari - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Saat pekerja kelelahan usai bekerja seharian, sore menjelang malam menjadi waktu yang tepat untuk mulai beristirahat. Kondisi lelah inilah yang kemudian memunculkan kebiasaan makan malam. Kebiasaan “full meal” dianggap hadiah yang pantas dinikmati usai seharian mencari nafkah. 

Malam juga waktu yang tepat untuk keluarga berkumpul, sehingga mulai era 1950-an, ada kebiasaan untuk makan malam bersama keluarga. 

Makan Berat No, Ngemil Yes 

Menurut profesor sekaligus sejarawan dari Yale University, Paul Freedman, kebiasaan makan sehari tiga kali lebih untuk urusan sosial-budaya ketimbang biologis. Editor buku Food: The History of Taste itu berkata kepada HowStuffWorks bahwa munculnya pola makan tiga kali sehari sesederhana karena orang-orang nyaman dengan kebiasaan ini. 

Namun, kebiasaan makan tiga kali sehari juga lambat-laun mengalami perubahan saat masyarakat makin modern, kata Freedman. Mereka musti menyesuaikan diri dengan “jadwal modern.” 

Orang-orang modern rata-rata memiliki jam kerja yang tinggi dan waktu senggangnya diisi dengan olahraga maupun mengonsumsi gajet. Kondisi ini mengacaukan jadwal makan tiga kali sehari, digantikan dengan “makan selaparnya.” 

Pendapat Freedman didukung oleh hasil riset Euromonitor International. Menurut riset ini, dalam beberapa dekade terakhir terdapat perubahan jadwal makan tiga kali sehari. Jadwal menjadi lebih fleksibel. 

Faktor penyebabnya adalah gaya hidup yang supersibuk, jam kerja yang melebihi beban normal, makin populernya gaya hidup melajang, dan meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja. 

Sekarang makan didikte oleh pekerjaan dan aktivitas penyegar pikiran ketimbang mengaturnya sesuai jam karena, misalnya, kebutuhan atas alasan kesehatan. Survei Euromonitor mengungkap bahwa jam makan yang fleksibel dilakukan oleh orang-orang di Brazil, Inggris, dan AS. Sementara, orang-orang di Cina, Perancis, maupun Jepang masih berusaha untuk mempertahankan pola makan yang terstruktur. 

Dampak dari gaya hidup ini, sebagaimana juga disampaikan Freedman, adalah orang-orang menjadi lebih suka ngemil alias makan camilan. Pertumbuhan pesat industri camilan muncul di Brasil, Cina, dan India. 

Orang India, misalnya, senang telat makan siang dan makan malam (41 persen makan siang pukul 14.00-15.00 dan 63 persen makan malam pukul 20.00-21.00), namun juga gemar makan camilan sepanjang hari. Akibat kebiasaan makan terlalu dini, separuh responden Cina makan camilan usai makan malam pada pukul 20.00-21.00. 

Warga Brasil melakukannya pada pukul 22.00-23.00. Sementara itu, cara makan camilan orang Perancis dan Inggris lebih diatur jamnya. Sebanyak 41 persen warga Inggris makan camilan pukul 10.00-11.00, sedangkan warga Perancis pukul 16.00-17.00. 

Dunia modern juga berpengaruh pada kebiasaan makan berat. Warga dunia semakin terburu-buru untuk sarapan. Kebiasaan makan makanan kemasan, makanan cepat saji atau sekedar kue-kue dengan cara “on to go” makin populer. 

Di sisi lain, kebiasaan makan siang semakin dihindari akibat tekanan kerja yang makin tinggi. Alih-alih menyantap makanan di kantin atau restoran, sebagian orang kini terbiasa makan siang di meja kerja. Alasannya, tentu saja, agar lebih efektif dalam memanfaatkan waktu. 

Related

History 4318924861318474535

Recent

item