Sejarah dan Asal Usul Tindik Vagina yang Kini Populer di Dunia


Salah besar jika mengira tindik kelamin adalah produk budaya Barat kekinian. Kenyataannya, perempuan telah menindik vagina mereka beberapa abad lamanya, jauh sebelum Christina Aguilera menggembar-gemborkan tindik vagina di era Stripped. Pada saat itu, pelantun “Dirrty” mengaku kepada Rolling Stone: “[Tindik] terasa lebih erotis ketika berada di bagian tubuh yang tak banyak orang berani melakukannya.”

Di zaman modern, tindik kelamin pada perempuan lebih dikenal sebagai “clit piercing” atau tindik klitoris. Padahal yang ditindik bukanlah klitoris, melainkan area di sekitar kelenjar itu. Gaya tindiknya pun cukup beragam.

Walaupun orang bisa saja menghias alat kelamin untuk estetika atau tradisi, seks tetap menjadi alasan paling populer sejak dulu kala. Para peneliti dari Jurusan Patologi Forensik Universitas Leicester mengemukakan, tindik kelamin terutama tindik klitoris dipercaya dapat meningkatkan gairah seksual. Gesekan dengan perhiasan tindik yang terjadi selama bersetubuh merangsang 8.000 ujung saraf di dalam bagian paling sensitif dari tubuh perempuan.

Disinggung dalam Kama Sutra, berkembang di masyarakat suku Dayak

Diterbitkan sekitar 300 Masehi, buku panduan bercinta Kama Sutra adalah naskah tertulis paling awal yang diketahui membahas tindik kelamin. Vatsyayana tak hanya menggambarkannya sebagai perhiasan, tetapi juga sarana meningkatkan gairah seksual bagi kedua pasangan.

Lelaki Dayak kemungkinan besar menjadi orang pertama yang menghias alat vitalnya. Menggunakan pecahan tulang, mereka menindik penis dengan posisi horizontal (ampallang) atau vertikal (apadravya). 

Menurut Journal of the Association of Professional Piercers, perempuan Dayak berhak meminta pasangannya untuk melakukan ini. Jika permintaannya ditolak, mereka boleh minta pisah. Mereka berujar, “bercinta tanpa alat ini ibarat makan nasi tanpa lauk.”

Selama berabad-abad, hood piercing adalah prosedur paling populer di kalangan suku dayak dan perempuan di seluruh dunia. Teknik klasik ini bisa dilakukan secara vertikal maupun horizontal. Semua tergantung selera pribadi, atau terkadang karena alasan anatomi. 

Tindik labia dalam dan luar juga banyak diminati. Perempuan Dayak akan meregangkan tindikan mereka dengan cincin emas tebal, yang tujuannya untuk mengendurkan labia dan menjadikannya lebih menonjol.

Dipopulerkan oleh penjelajah dan pelaut di Eropa

Dunia Barat tak mengenal tindik kelamin hingga akhir abad ke-20. Sama seperti tato, tindik diperkenalkan secara bertahap melalui laporan etnografi oleh penjelajah abad ke-19. 

Lelaki Belanda bernama Anton Willem Nieuwenhuis menjelajahi Kalimantan Tengah sepanjang 1890-an. Dia menceritakan semua temuannya selama ekspedisi, termasuk tindik kelamin, dalam publikasi berjudul In Central Borneo: Travels from Pontianak to Samarinda yang diterbitkan pada 1900.

Elayne Angel, penulis The Piercing Bible (2011), menerangkan bahwa pada masa itu, pelaut pulang ke Eropa dengan badan sudah ditato dan ditindik. Sejak itu, mulai dari tentara, penambang hingga masyarakat kelas atas Victoria yang konservatif tertarik melakukan hal serupa—memicu tren tindik puting di akhir abad ke-19, tetapi tidak bertahan lama.

Tren tindik modern lahir di LA

70 tahun kemudian, tindik kelamin menjadi bagian dari kehidupan glamor warga Los Angeles, setelah Jim Ward dan Doug Malloy memperkenalkannya ke komunitas modifikasi tubuh di California. Kedua lelaki itu aktif dalam kancah gay BDSM.

Malloy sebenarnya “nama panggung” Richard Simonton. Pengusaha kaya beristri ini dikenal sebagai Malloy, penggila tindik yang mempraktikkan S&M, begitu malam tiba. Sementara itu, Ward disebut-sebut sebagai “pengusung tindik modern” oleh MTV karena dia menciptakan teknik dan perhiasan tindik baru, seperti fixed bead ring dan tindik barbel.

Ward bisa membuka studio tindiknya sendiri, Gauntlet, berkat kucuran dana dari Malloy. Sejak itu, dia menjadi spesialis tindik tubuh pertama di Amerika. Gauntlet juga menerbitkan majalah tindik pertama di dunia, Piercing Fans International Quarterly (PFIQ). Majalah ini kontroversial pada masanya karena secara terang-terangan memamerkan orang bugil dan proses tindik.

Diakui oleh Modern Primitives, dirayakan oleh Janet Jackson

Tindik kelamin dibahas dalam buku Modern Primitives yang terbit pada 1980-an, mengantarkan budaya ini ke kancah alternatif yang lebih luas. Tindik tubuh memiliki makna baru begitu populer di komunitas punk. Mereka menjadikannya sebagai simbol pemberontakan.

Walaupun tindik tubuh semakin dikenal publik, tindik klitoris belum dianggap sesuatu yang lazim. Malloy (yang terkenal membuat mitos seputar tindik) menjelaskan dalam esai PFIQ, hanya segelintir perempuan yang menindik kelamin mereka. 

Ketika diwawancarai penulis Modern Primitives—Andrea Juno—pada 1989, Ward mengaku sepanjang kariernya sebagai seniman tindik, dia hanya menangani setengah lusin perempuan.

Popularitas tindik kelamin kian melonjak pada pergantian abad ke-20, berkat pemberitaan luas media dan banyaknya seleb yang menindik tubuh mereka. Janet Jackson pernah mengadakan pesta tindik dan bercerita soal “Down South” (sebutan Janet untuk menggambarkan labia). 

Lady Gaga bahkan “memamerkan” vaginanya yang ditindik ke paparazzi di New York. Meski masih menuai kontroversi, semakin banyak perempuan tergiur dengan manfaat seksual dari tindik kelamin.

Disamakan dengan praktik sunat perempuan

Pada 2015, Departemen Kesehatan Inggris berupaya menetapkan tindik klitoris atau labia sebagai bentuk sunat perempuan atau yang lebih dikenal sebagai female genital mutilation (FGM), bahkan ketika perempuan menindik kelaminnya atas kemauan sendiri. 

Regulasi ini dibuat berdasarkan panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang mengklasifikan tindik kelamin sebagai FGM jenis keempat, di mana tindakan menindik merupakan “prosedur berbahaya yang dilakukan pada alat kelamin perempuan untuk tujuan nonmedis”.

Kepada Newsbeat BBC, Tattoo and Piercing Industry Union (TPIU) menegaskan tindik badan “sangat berbeda” dari FGM. “Membandingkan FGM dengan tindik badan atas keinginan sendiri justru mengurangi ‘arti sebenarnya’ dari tindakan FGM,” ujar juru bicara Marcus Henderson.

FGM sudah puluhan tahun dianggap ilegal di Inggris, tapi ironisnya tak satu pun orang diproses secara hukum karena melakukan FGM hingga 2015—ketika Depkes Inggris mengklasifikasikan tindik klitoris sebagai FGM. Padahal, diperkirakan ada 170.000 perempuan Inggris yang menjadi korban sunat di tahun itu.

Related

Sexology 584703452637858704

Recent

item