iPhone, Produk Sukses yang Menyedot Banyak Sumber Daya Bumi (Bagian 1)


Tak bisa dipungkiri, produk paling sukses Apple yang mengantarkan perusahaan ini menjadi salah satu yang paling bernilai di dunia tak lain adalah iPhone (beserta ekosistem yang diciptakannya, khususnya App Store). 

Brian Merchant, dalam buku berjudul The One Device: The Secret History of The iPhone, menyebut bahwa iPhone adalah “bintang paling bersinar di seluruh dunia ritel, puncak tertinggi dari segala produk yang diciptakan kapitalisme”. 

iPhone, singkat kata, mengalahkan semua produk unggulan yang diciptakan berbagai perusahaan di seluruh dunia. Misalnya, di tahun 2016, Toyota Corolla terjual 43 juta unit. Sony PlayStation terjual 382 juta unit. Seri buku Harry Potter terjual 450 juta eksemplar. iPhone, si bintang paling bersinar itu, terjual 1 miliar unit.

Horace Dediu, seorang analis industri yang diwawancarai Merchant, menegaskan bahwa “iPhone bukan hanya ponsel paling laku, tetapi juga alat pemutar musik, video, komputer, dan perangkat apapun paling laku. iPhone, singkat kata, adalah produk paling moncer sepanjang masa.” 

Atas kesuksesan ini, Merchant menjuluki iPhone sebagai “Jesus Phone”. Namun, kini muncul anggapan bahwa status “Jesus Phone” pindah kepada Android. Tunggu, Android milik Google, dan Google—meski akhirnya ikut menciptakan ponsel—gagal mengoptimalkan status kepemilikan Android. 

Ponsel-ponsel Android dibuat oleh banyak perusahaan, dengan Samsung dan Huawei sebagai pemenang. Sayangnya, kembali ke awal, Samsung dan Huawei bukan pemilik Android. Di sisi lain, Apple menggenggam seluruh ekosistem iPhone, dari perangkat keras hingga, tentu saja, App Store.

Sebagai produk ritel, iPhone tidak muncul serta-merta layaknya Big Bang. Pada tataran paling dasar, iPhone adalah produk yang dihasilkan setelah mencampur-baurkan berbagai materi. 

iPhone 6, yang dibawa Merchant untuk dianalisis di firma konsultan bisnis tambang 911 Metallurgist, dari total berat per unitnya yang berada di angka 129 gram, 24 persennya mengandung aluminium. Terdapat tungsten sebesar 0,02 persen dari total berat iPhone. Silikon sebesar 6 persen. Emas sebesar 0,01 persen, lalu timah, besi, litium, sulfur, dan 22 materi lainnya.

Tentu, materi-materi yang menjadi bahan baku paling mendasar iPhone tersebut tidak dihasilkan karyawan-karyawan Apple di 1 Infinite Loop, Cupertino, AS, tetapi oleh buruh kasar di negara-negara berkembang. 

Timah yang digunakan untuk menyolder atau mematri modul-modul iPhone, misalnya, diakui Apple, beberapa di antaranya berasal dari perusahaan bernama EM Vinto dan Operaciones Metalúrgicas S.A, perusahaan smelter milik negara dan swasta asal Bolivia. Masalahnya, dua perusahaan itu memperoleh timah yang mereka jual dari suatu gunung bernama Cerro Rico di kota Potosi, Bolivia.

Menurut penelusuran yang dilakukan Merchant, meskipun Cerro Rico sepenuhnya dikuasai perusahaan tambang negara Comibol, mayoritas penambang timah--dan berbagai bahan baku lain--bukanlah pekerja Comibol, melainkan pekerja-pekerja independen yang bekerja dalam status ilegal. 

Tercatat ada sekitar 15 ribu penambang timah di Cerro Rico, dan untuk menambang di area-area yang sukar dijangkau orang dewasa, anak-anak juga bekerja di sini.

Bagi Merchant, Cerro Rico tak ubahnya “neraka”. Terowongan-terowongan yang sengaja dibuat dengan cara dibom di Cerro Rico untuk menambang timah, terasa sangat pengap, menyesakkan, dan panas. 

Lebih parah, udara di dalam terowongan tambang mengandung debu silika. Jika bekerja terlalu lama, sangat mungkin penambang terkena silikosis alias peradangan pada paru-paru. Atas ganasnya lingkungan Cerro Rico, pada 2008 saja, 60 pekerja yang berusia anak-anak tewas. Jumlahnya tak pernah menurun. Rata-rata para penambang di Cerro Rico memiliki angka usia harapan hidup di kisaran 40 tahun. Salah satu yang terendah di dunia.

Memang, jika beruntung, penambang bisa mengantongi uang $50 per hari, angka yang sangat besar bagi mereka. Namun, karena ganasnya medan pekerjaan, nilai sebesar itu sangat jarang dicapai. Yang paling diuntungkan, tentu saja, adalah penadah timah-timah yang dihasilkan penambang ilegal ini. Dari penadah, timah diserahkan pada EM Vinto dan Operaciones Metalúrgicas S.A.

Karena Cerro Rico terus-terusan ditambang, kerusakan lingkungan tak terelakkan. Perlu dicatat, ini baru timah dan ini baru Cerro Rico. Untuk memperoleh materi-materi bahan baku iPhone, Apple mendapatkannya dari berbagai lokasi, dari berbagai wong cilik. Tak terkecuali dari Indonesia.

Baca lanjutannya: iPhone, Produk Sukses yang Menyedot Banyak Sumber Daya Bumi (Bagian 2)

Related

Smartphone 2657924158377585937

Recent

Hot in week

item