Kisah Dramatis Wanita yang Mengidap Covid-19 sampai Enam Bulan (Bagian 1)


Monique Jackson terpapar Covid-19 pada awal pandemi. Namun enam bulan setelahnya, dia masih belum pulih. Selama masa itu Monique rutin menggambar ilustrasi tentang gejala yang dia alami, serta upayanya yang sia-sia untuk mendapat perawatan.

Sampai kemudian, Monique Jackson terpesona saat menonton sesi perbincangan Ted mengenai jamur. Jamur, kata pembicara dalam acara itu, adalah 'world wide web' yang sesungguhnya. Dia merujuk pada jaringan yang memungkinkan manusia menjelajah internet.

Pembicara dalam sesi Ted itu menyebut jamur memiliki akar di seluruh lapisan bawah hutan. Jaringan akar tersebut dia yakini memungkinkan pepohonan untuk saling menopang.

Bergelut menghadapi Covid-19, Monique terus-menerus memikirkan tentang jamur.

Monique diduga menderita penyakit yang disebut "long-tail Covid", sebuah reaksi virus corona yang diteliti oleh para dokter. Dia jatuh sakit dengan menunjukan gejala ringan Covid-19. Namun, gejala itu tidak pernah hilang, bahkan hingga lima bulan kemudian.

Monique mengaku memiliki kepribadian extrovert atau mudah bergaul, dan bisa disebut hiperaktif. Pada saat normal, ia suka olah raga tinju, jiu-jitsu Thailand dan bersepeda 12 mil dari rumah ke kantornya yang berlokasi di sebuah galeri seni di pusat kota London.

Namun, semuanya jadi berbeda ketika virus corona mewabah, dan menginfeksi tubuhnya. Ia menjadi sangat lemah, bahkan untuk menyikat gigi pun membutuhkan energi ekstra.

"Saya bukan orang yang malas," katanya.

Di saat tubuhnya menolak untuk bekerja sama, Monique mengekspresikan sakit dan kehidupannya ke dalam buku harian bergambar yang diunggah ke Instagram-nya.

Melalui buku harian itu, Monique juga terhubung dengan orang lain yang mengalami nasib sama, yang disebut "long-haulers" atau pasien yang mengalami gejala Covid dalam jangka waktu lama.

Banyak hal tentang virus corona yang masih membingungkan para dokter, dan Covid "Long Tail" adalah salah satu ciri pandemi yang paling membingungkan. Mengapa di beberapa kasus, gejala virus berlangsung dalam waktu lama bahkan tidak hilang, padahal gejawal awalnya ringan?

Monique kembali bercerita, ia dan seorang temannya jatuh sakit setelah mereka melakukan perjalanan menggunakan kereta api.

Dua minggu pertama ia merasa sangat lemas - sangat lelah bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Saat itu cuaca di London masih dingin, namun ia hampir tidak berpakaian dan menaruh sekantong es di kepalanya agar tetap dingin.

Pada minggu kedua dia berjuang untuk bernapas. Ambulans datang tetapi mengatakan kadar oksigennya baik-baik saja. "Mereka mengatakan bahwa saya mengalami serangan panik, karena menunjukkan gejala Covid."

Monique tidak diuji tes Covid-19 karena waktu itu Inggris hanya memiliki sejumlah kecil alat tes yang digunakan untuk kasus mengancam nyawa. 

Monique kemudian mencoba merawat dirinya sendiri dengan pengobatan alami. Ketika memakan bawang putih dan cabai mentah, semua begitu aneh karena tidak ada rasanya. 

Dan, dia lelah. "Saya tidak punya tenaga untuk mengirim pesan kepada lebih dari dua orang setiap hari," katanya.

Setelah dua minggu, beberapa gejala hilang tetapi muncul kembali gejala baru. "Saya merasakan cubitan di dada saya yang berubah jadi seperti terbakar api," katanya. "Rasanya seperti sakit gigi di sisi kiri. Saya pikir saya mengalami serangan jantung."

Monique segera menelepon layanan darurat Inggris dan disarankan untuk meminum parasetamol. Mereka mengatakan obat itu akan membuat rasa sakit hilang meskipun mereka tidak sepenuhnya mengerti mengapa bisa.

Parasetamol itu bekerja di tubuhnya. Setelah rasa sakit di dada mereda, ternyata perut dan tenggorokannya mulai terasa "terbakar api" ketika dia makan. Dokter mengira dia menderita maag. Saat itu belum diketahui bahwa masalah lambung merupakan salah satu gejala dari infeksi virus corona.

Sekitar enam minggu kemudian, Monique mulai mengalami sensasi terbakar saat buang air kecil dan nyeri di punggung bawah. Dokter memberinya tiga kali obat antibiotik yang berbeda sebelum memutuskan bahwa penyakitnya bukan disebabkan infeksi bakteri.

"Itu hanya sebuah rasa sakit," katanya. "Yang kemudian akan hilang begitu saja."

Di sisi lain, Monique memutuskan berhenti menggunakan media sosial karena takut dengan pemberitaan dan informasi yang membuatnya menjadi cemas dan mempengaruhi pernapasannya.

Monique yang mengaku pecandu berita terpaksa menahan diri. Dia takut jika membuka media sosial akan melihat unggahan foto mayat dan bahaya virus corona.

Kemudian, dia menemukan penghiburan dengan belanja online, tapi lagi-lagi, saat memasukkan ukuran gaun ke laman pencarian, yang muncul malahan cerita horor virus corona. "Saya sebenarnya takut membuka Google," katanya.

Setelah beberapa saat, dia meminta seorang teman untuk memberi tahu dia tentang apa yang telah terjadi di dunia.

Hal pertama yang dia pelajari adalah bahwa lebih banyak orang dari latar belakang etnis kulit hitam dan minoritas yang meninggal. Dan, Monique adalah ras campuran, akhirnya dia merasa semakin takut.

"Rasanya seperti film horor di mana semua orang kulit hitam mati," katanya.

Suatu hari ketika Monique berbaring di kamar mendengarkan podcast, dua pembawa acara kulit putih dengan santai menyebutkan bahwa banyak orang Afrika-Amerika sekarat karena Covid-19.

Dia langsung duduk tegak mengambil teleponnya untuk mengirim email ke kerabat kulit hitam di AS.

Dan dia terkenang fakta bahwa mayoritas orang yang dia andalkan akhir-akhir ini berasal dari kelompok minoritas - seperti para pengemudi Uber yang membawanya ke tempat pertemuan, pekerja rumah sakit, orang-orang di toko makanan. "Setiap orang yang saya lihat dalam perjalanan Covid saya," katanya.

Baca lanjutannya: Kisah Dramatis Wanita yang Mengidap Covid-19 sampai Enam Bulan (Bagian 2)

Related

Health 6358746401908600951

Recent

item