Kisah Dramatis Wanita yang Mengidap Covid-19 sampai Enam Bulan (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Kisah Dramatis Wanita yang Mengidap Covid-19 sampai Enam Bulan - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Minggu demi minggu berlalu, beberapa gejala berubah menjadi gejala lain, dan menjadi semakin aneh.

Seperti rasa sakit di leher disertai dengan suara aneh di telinga seperti keripik diremukkan. Lalu, tangannya tiba-tiba membiru dan harus segera direndam air hangat agar darah kembali mengalir.

"Saya terus menelepon [dokter] tentang gejala baru, namun saya selalu ditanya, 'Bagaimana kesehatan mental Anda?'" katanya. "Implikasinya adalah bahwa gejala-gejala ini tidak dapat diobati karena bukan rasa sakit yang nyata."

Lalu, dia mengalami ruam aneh di sekujur tubuhnya atau jari kakinya menjadi merah cerah, dan terkadang dia terbangun dengan rasa sakit menusuk di berbagai bagian tubuhnya.

Monique bercerita, pada suatu malam, ketika dia berbicara dengan temannya di telepon, dia merasakan sisi kanan wajahnya jatuh. Dia langsung pergi ke cermin tapi wajahnya terlihat normal.

Dia juga merasakan sensasi aneh di sekujur tubuhnya. Terkadang terasa seperti seseorang memegang kakinya dengan tangan atau rambut diseret di wajahnya - bahkan di dalam mulutnya.

Monique telah mencoba berkali-kali menjelaskan apa yang terjadi pada dokter. Namun ia hanya diberi waktu lima hingga 10 menit dan itu tidak cukup.

"Jika mereka berkata kepada saya, 'Lihat, Anda terkena Covid, dan kami tidak tahu bagaimana menangani ini,' maka itu akan baik-baik saja," katanya.

Tubuhnya gemetar saat mencoba merangkum bagaimana dia diperlakukan. Dia enggan mengkritik staf kesehatan yang telah memberikan perawatan terbaik, tetapi dia mengatakan bahwa sistem tidak berfungsi untuk orang-orang di posisinya.

Hal itu terjadi sembilan minggu sebelum Monique bisa mendapatkan tes untuk virus corona. Selama waktu itu, dia takut menularkan virus ke orang lain.

Nasihat pemerintah mengatakan untuk mengisolasi selama tujuh hari atau sampai gejala hilang - tetapi bagaimana jika mereka tidak pernah hilang? pikirnya.

Teman-teman sekamarnya telah merancang sistem untuk menghindari kontak di dalam rumah - mereka masing-masing memiliki tempat di lemari es. Kemudian mereka akan pergi ke kamar untuk makan sendiri.

Suatu hari dia pergi mencari udara segar di taman dekat rumahnya dan seorang anak kecil berlari di dekatnya. Monique melompat untuk menjauh dari balita itu. Sang ibu sangat marah. "Anak itu tidak ada di dekatmu!" dia berkata. 

Monique mencoba menjelaskan, dia tidak takut tertular melainkan takut menularkan virus. Lalu, ibu itu menjawab "orang yang sakit harus tinggal di rumah".

Monique berharap buku hariannya akan membantu orang untuk memahami bahwa tidak semua hal selalu sesederhana itu.

Ketika beberapa teman berusaha keras untuk membantu, Monique menyadari bahwa terdapat orang lain yang merasa muak dan berpikir tidak masuk akal. "Seseorang mengatakan saya menjadi terobsesi dengan Covid," katanya.

Akhirnya, pemerintah Inggris membuka pengujian kepada siapa pun yang menunjukkan gejala. Dia sangat senang, tetapi ada kendala karena harus menggunakan mobil dan ia tidak memilikinya.

Lalu, seorang teman memberinya tumpangan. Monique tidak akan melupakan kebaikan temannya itu yang mempertaruhkan diri untuk menemaninya.

Di tempat tes, ia mengaku ternyata tidak dilayani oleh perawat dan dokter, malah oleh tentara. Hasilnya adalah negatif.

Ia lega dengan hasil itu karena tidak akan menulari teman dan keluarganya, namun di sisi lain ia tidak merasa lega dan membaik. "Perasaan menular secara psikologis sangat sulit untuk dihilangkan," tulisnya dalam buku hariannya.

Setelah empat bulan pertama kali merasa sakit, Monique memutuskan untuk pindah dari tempat tinggalnya di London Timur dan berada di sekitar keluarga yang dapat membantunya.

Belakangan, napasnya membaik, bisa menaiki tangga dan mengatur nafas. Tetapi saat ia bersih-bersih kamar dengan alat pengisap debu, Monique jatuh pingsan karena sesak napas. Akibatnya, ia terbaring selama tiga minggu.

Monique tidak tahu bagaimana kondisinya akan membaik.

"Banyak orang mengatakan kepada saya, 'Monique, Anda akan bersepeda lagi dan akan dapat bertinju dan dapat datang ke rumah saya ketika merasa lebih baik.' Tapi bagi saya, itu semua tidak terlalu membantu. "

Dokter masih belum tahu bagaimana menangani orang dengan gejala yang tidak kunjung hilang ini.

"Ini tentang penerimaan terhadap apa yang saya bisa dan tidak bisa lakukan, dan hanya bersikap fleksibel, karena terkadang Anda memiliki rencana tapi tubuh tidak bisa," kata Monique.

Dia telah mendapatkan terapi kesehatan mental yang memberinya pedoman dalam mengelola kondisi kesehatannya, dan dia berkampanye agar dukungan ini juga tersedia untuk semua orang oleh layanan kesehatan Inggris.

Satu hal yang tidak pernah Monique duga adalah penyakit itu telah membuatnya berkomunikasi dengan para penggemar jamur lainnya. Jamur memiliki khasiat antivirus, jelasnya, di salah satu postingannya. Tapi mereka juga bagian dari sesuatu yang lebih besar dan lebih indah.

Jamur itu adalah buah miselium - sebuah jaringan benang bawah tanah, yang bersentuhan dengan akar pohon di dekatnya. Miselium menukar nutrisi dengan akar ini.

Banyak ahli jamur percaya bahwa miselium membantu pohon untuk berkomunikasi satu sama lain, mengambil nutrisi dari satu pohon sehat ke pohon lain yang sakit.

Miselium itu mengingatkan Monique pada upaya teman-teman yang membawa makanan ke pintu kamarnya bulan demi bulan. Orang-orang yang sangat dia andalkan sejak dia sakit.

"Terisolasi di kamar saya," dia memposting di buku harian Instagram-nya, "Saya merasa lebih terhubung dari sebelumnya."

Related

Health 3729916881781698411

Recent

item