Kisah Presiden Sukarno dan Penemuan Makam Imam Bukhari di Uni Soviet (Bagian 1)


Alkisah, pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev mengundang Presiden Sukarno berkunjung ke negaranya. Atas undangan itu, Sukarno tak serta merta setuju. Kala itu, Uni Soviet dan Amerika Serikat sedang berebut pengaruh. Sukarno merasa perlu berhati-hati. Sebagai penganut garis politik nonblok, ia tak ingin dicap berbelok ke kiri. 

Sukarno membuat strategi dengan mengajukan syarat kepada Khrushchev: ia hanya akan memenuhi undangan jika pemimpin Soviet itu bisa “menemukan” kembali makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan. 

Khrushchev enggan, tapi Sukarno bersikeras. Akhirnya, lokasi makam Imam Bukhari berhasil ditemukan lagi meski dalam keadaan telantar. Untuk menyambut dan menyenangkan hati Sukarno, makam perawi hadis terkemuka itu direnovasi. Ketika akhirnya Sukarno memenuhi undangan Khrushchev, ia menyempatkan diri berziarah ke makam tersebut. 

Cerita itu tetap bertahan hingga kini, bahkan disebut sebagai salah satu sumbangan penting Sukarno untuk umat Muslim dunia. 

Diplomat Kementerian Luar Negeri, Sigit Aris Prasetyo, yang pernah mendapat tugas riset di Uzbekistan, mengaku, Sukarno sangat dikenal oleh para pemuka Islam Samarkand. Saat bertugas di Uzbekistan, ia sempat mengunjungi makam perawi hadis kelahiran Bukhara 810 Masehi itu dan mendapat cerita soal jejak Sukarno di sana. 

“Ketika saya berdialog dengan salah satu pemuka Islam di sana, beliau juga menekankan jasa-jasa Sukarno dalam pembangunan makam itu saat berkunjung ke Uni Soviet,” tutur penulis buku Dunia dalam Genggaman Bung Karno itu. 

Mitos atau Realitas? 

Meski kisah itu terkesan membanggakan, kebenarannya cukup meragukan. Tak ada sumber tertulis yang mencatat peristiwa tersebut, jika memang ia benar-benar penting. Siapa yang pertama kali menyebar cerita ini pun sama sumirnya. Soal ini, sejarawan Asvi Warman Adam pernah menyampaikan keraguannya. 

"Kadang memang ada cerita Soekarno yang dibesar-besarkan. Untuk cerita itu tidak jelas kenapa Soekarno mengemukakan alasan tersebut pada Uni Soviet," beber Asvi. 

Jika itu peristiwa yang istimewa, agak mengherankan bahwa Sukarno tak menceritakan soal makam Imam Bukhari dalam autobiografinya yang dituturkan kepada Cindy Adams. Dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, lawatan Sukarno ke Uni Soviet hanya disinggung sambil lalu saja (hlm. 336). Sumber-sumber lain pun tidak konsisten soal waktu peristiwa itu terjadi. 

Sigit Aris Prasetyo dalam Dunia dalam Genggaman Bung Karno menyebut bahwa permintaan pemugaran makam Imam Bukhori itu disampaikan Sukarno kepada Khrushchev sebelum kunjungannya ke Uni Soviet pada 1956 (hlm. 329). 

Keterangan ini janggal, karena saat itu Presiden Uni Soviet adalah Kliment Voroshilov dan undangan kunjungan datang darinya. Sementara Khrushchev masih menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Presidium Tertinggi Uni Soviet. 

Dalam kunjungan pertama ke Uni Soviet itu pun kedekatan antara Sukarno dan Khrushchev belum terbangun. Seturut keterangan yang terhimpun dalam buku terbitan Yayasan Multatuli, Perjalanan Bung Karno!, selama di Moskow Sukarno hanya mengadakan pertemuan resmi dengan Voroshilov dan Ketua Dewan Menteri Uni Soviet Nikolai Bulganin (hlm. 5 dan 27). 

Adapun momen Sukarno berjumpa dengan Khrushchev berlangsung dalam pertemuan kolektif delegasi Indonesia dan Uni Soviet. Jadi agak muskil Sukarno bisa berkomunikasi demikian akrab dengan Khrushchev saat itu. 

Sukarno tak hanya menyambangi Moskow dalam kunjungan pertamanya ke Uni Soviet. Beberapa kota dan negara bagian Uni Soviet lain juga masuk dalam daftar kunjungan presiden. Di antara negara bagian yang dikunjunginya adalah Uzbekistan. Di daerah yang warganya mayoritas Muslim itu, Sukarno dijadwalkan mengunjungi ibu kota Tashkent dan kota kuno Samarkand. 

Baca lanjutannya: Kisah Presiden Sukarno dan Penemuan Makam Imam Bukhari di Uni Soviet (Bagian 2)

Related

International 6841400859517282183

Recent

Hot in week

item