Kisah Presiden Sukarno dan Penemuan Makam Imam Bukhari di Uni Soviet (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Kisah Presiden Sukarno dan Penemuan Makam Imam Bukhari di Uni Soviet - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Selama di Uzbekistan, Sukarno ditemani Sharof Rashidov, Ketua Presidium Dewan Soviet Republik Uzbekistan. Tercatat, Sukarno mengunjungi Masjid Sheich-Tillja di Tashkent. Di sini Sukarno bertemu dengan beberapa ulama dari Dewan Agama Islam Asia Tengah dan Kazakhstan. 

Sukarno juga berkesempatan menyampaikan pidato pada rapat raksasa di Stadion Pachtakor. Lebih dari 75.000 orang hadir dalam rapat raksasa itu. 

Ia juga mengunjungi pusat industri di kota Chircik, pusat pertanian kapas di kota Kzyl-Uzbekistan, dan terakhir ke Samarkand. Sayangnya, tak ada keterangan memadai soal kegiatan di Samarkand (hlm. 66-81). 

Ganis Harsono, atase pers Kementerian Luar Negeri Indonesia yang saat itu mengikuti perjalanan Sukarno keliling Uni Soviet, juga tak menyebut secara spesifik kunjungan ke Samarkand. Ganis juga tak mencatat apakah Sukarno sempat menyinggung soal makam Imam Bukhari atau tidak. 

Dalam memoarnya, Cakrawala Politik Era Sukarno, Ganis mencatat hanya ada tiga hal yang meluncur dari mulut Sukarno: kutukan kepada kolonialisme Belanda, demokrasi Barat yang tak sesuai untuk Indonesia, dan pujian terhadap politik koeksistensi Uni Soviet yang penuh kedamaian (hlm. 55-56). 

“Tanpa memandang siapa yang hadir, maupun soal waktu dan tempat [...] apakah di hadapan kaum buruh pabrik di pegunungan Ural, atau di hadapan kaum tani di Uzbekistan—Presiden Sukarno selalu mengulang menyampaikan tiga pokok pikiran tersebut,” catat Ganis. 

Kunjungan Sukarno ke Uni Soviet selanjutnya, seperti dicatat Sigit Aris Prasetyo, terjadi pada Mei 1959, Juni 1961, dan terakhir pada September-Oktober 1964 (hlm. 49). Dalam ketiga kunjungan inilah hubungan Sukarno dan Khrushchev, yang sudah menjadi Presiden Uni Soviet, kian dekat. 

Jika memang ada permintaan dari Sukarno untuk menemukan dan memugar makam Imam Bukhari, kemungkinan itu terjadi di antara ketiga kunjungan tersebut. Namun, sedikit saja keterangan tentang detail-detail kunjungan Sukarno ke Uni Soviet. Inkonsistensi dan minimnya sumber menjadikan kisah ini sebagai sesuatu yang dibesar-besarkan. Tetapi, ia memang memiliki daya tarik tersendiri. 

Dimanfaatkan untuk Tujuan Komersial 

Perusahaan jasa tur Johon Ramzo Travel memanfaatkan kisah Sukarno dan makam Imam Bukhari untuk menarik minat calon pelanggan. Perusahaan tur yang beralamat di Gagarin Street 60/61, Samarkand, ini mencantumkan detail cerita tersebut dalam situs resminya. Namun, lagi-lagi keruwetan informasi terjadi. 

Johon Ramzo Travel mencantumkan 1954 sebagai tahun kunjungan Sukarno. Apakah perusahaan ini sekadar salah tulis atau tidak, sukar untuk dikonfirmasi. Tetapi, situs itu menyebut bahwa kunjungan Sukarno ke Samarkand membuat makam Imam Bukhari yang semula terlupakan dan terbengkalai dipugar. 

Sukarno disebut meminta otoritas Uzbekistan agar diizinkan berziarah ke makam Imam Bukhari di Samarkand. Kemungkinan permintaan itu disampaikan kepada Sharof Rashidov, karena dialah yang selalu menemani Sukarno selama di Uzbekistan. Suatu tim peninjau secara mendadak ditugaskan untuk mempersiapkan kunjungan Sukarno ke makam Imam Bukhari. 

“Tapi ketika petugas tiba, mereka melihat mesjid yang sangat jelek dan sepi. Bahkan makam Imam Bukhari tak bernisan lagi. Tim khusus lalu melakukan perbaikan secepat yang mereka bisa,” tulis Johon Ramzo Travel di situs resminya. 

Disebutkan pula bahwa sejak itu, makam perawi yang telah membukukan 9.082 hadis dalam kitab Al-Jamiushshahih ini kembali menjadi destinasi ziarah umat muslim di Uzbekistan. Tak ada keterangan bahwa mausoleum Imam Bukhari di Khartang itu direnovasi karena kunjungan Sukarno atau setelahnya. 

Kompleks makam perawi hadis yang wafat pada 870 Masehi itu baru dipugar secara menyeluruh setelah Uzbekistan melepaskan diri dari Uni Soviet. Atas inisiatif Presiden Islam Karimov, kompleks makam Imam Bukhari dibangun kembali pada 1998.

Related

International 666511268918847690

Recent

item