Menelisik Asal Usul Keluarga Atta Halilintar: Siapakah Mereka? (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Menelisik Asal Usul Keluarga Atta Halilintar: Siapakah Mereka? - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Halilintar mulai berbisnis jaringan global 

Polemik Darul Arqam di ASEAN sempat membuat Eep khawatir akan kondisi sahabatnya itu. Bagaimana tidak, Halilintar, dalam buku Taufik, begitu mencintai sosok Ashaari. Bahkan hubungan mereka sangat erat.  

"Ashaari juga sering mendakwa (mengklaim) berlakunya penyatuan roh antara beliau dengan anaknya, Fakhrurrazi, dan Halilintar Muhammad Jundullah. Kesatuan roh yang dimaksudkan ialah setiap apa yang dikuliahkan (diajarkan) oleh Ashaari termasuk ulasan berkaitan isu semasa (isu terkini) akan tetap sama diulas secara serentak (diteruskan) oleh dua individu ini," kata Farahwahida di bukunya.  

Dalam beberapa tahun kemudian, Eep lega, ia kembali mendengar kabar Halilintar yang kondisinya sudah jauh berubah; dari penjaja karpet, kini melebarkan sayap bisnis berskala global dan memiliki rumah mewah. 

"Bagi saya, Halilintar adalah sesuatu yang fenomenal," ungkap Eep. "Ia bukan lagi Halilintar teman kos saya yang di tahun 1988 sesuai sama-sama menonton pertandingan Elyas Pical di televisi, mengajak saya menonton 'Untouchable' di sebuah bioskop kelas bawah Depok yang punya koleksi kutu busuk...

“Halilintar yang [sekarang] saya temukan di Bandung adalah Halilintar yang sudah punya tanggung jawab besar atas kelangsungan usaha yang ia rintis dan sedang membesar.”

Tahun 2002, Halilintar sudah mengemban jabatan tinggi; Komisaris Utama PT Cahaya Timur (perusahaan bidang rekaman kaset dan perdagangan), Komisaris Utama PT Qatrunada (travel), Chairman Hawariyun Group of Companies, dan Direktur International Rufaqa Corporation yang berpusat di Malaysia.  

Dua perusahaan terakhir yang disebut merupakan 'wajah baru' Darul Arqam. Berbeda dengan Darul Arqam yang berkonsep organisasi keagamaan serta memiliki jemaah, Hawariyun dan Rufaqa adalah perusahaan yang memang fokus pada ranah bisnis dan dakwah. Sehingga, pegawai diklaim mendapat timbal-balik upah. 

"Karena kita bukan lagi jemaah, tapi perusahaan," ujar Taufik Mustafa, Direktur Rufaqa Internasional sekaligus penulis buku Halilintar, dalam wawancara khusus bersama TEMPO di artikel 'Bisnis Jemaah Tanpa Purdah', 23 November 2003.  

"Dan jangan khawatir, Darul Arqam tak akan berdiri lagi," tuturnya. 

Halilintar kian merambah bisnis di segala bidang; sekolah, klinik bersalin, toko obat, puluhan outlet, studio rekaman, super market, ekspor-impor, restoran, peternakan, konsultan SDM, event organizer, kafe, desain & kontraktor, bisnis entertsainment, salon, industri rekaman, travel dan berbagai bisnis skala global. 

Mereka menjalankan bisnis dengan tiga strategi: Bisnis Fardhu Kifayah (produk wajib yang dibutuhkan masyarakat), Bisnis Komersil, Bisnis Strategis. Cakupannya tak tanggung-tanggung, dari Australia, Jerman, hingga Prancis.  

Sistem saham bisnisnya pun sederhana. Misal, Halilintar terbang ke Sydney untuk menemui kerabat yang akan menjadi rekan bisnis, sebut saja Mr. Sam. Halilintar membawa misi untuk 'mempromosikan' Tuhan dan menyebarluaskan keindahan pengalaman syariat Tuhan di Australia.  

Hati Mr. Sam tergerak. Ia merelakan lahan ternak seluas 300 hektar miliknya untuk diambilalih dan dikelola Halilintar. Ini cuma-cuma, sebab Mr. Sam merasa telah diselamatkan Halilintar, atau setidaknya dibantu dalam usahanya mendekati Tuhan.  

"Tetapi memang siapalah yang dapat menolak ketentuan Tuhan, Tuhan sudah takdirkan dia membantu perjalanan Sang Duta (Halilintar)," kata Taufik dalam bukunya.  

Begitupun sejumlah jejak bisnis Halilintar di Prancis, Jerman, dan sejumlah negara lainnya. Atas misi menyebarkan agama lewat bisnis, kerabat Halilintar mau berbagi saham, memberikan secara cuma-cuma, atau bekerja sama; butik, mobil mewah, restoran halal, hingga supermarket.  

Di dalam negeri, Halilintar melebarkan bisnis di segala sektor. Di bidang kebudayaan, misalnya, Halilintar mendirikan grup nasyid Qatrunada dan melahirkan album rekaman. Di bidang pendidikan, ia membangun Sekolah Cinta Tuhan, murid tak dikenakan bayaran, guru pun tidak digaji.  

"Setiap gurunya pula bukan diberi insentif dengan iming-imingan gaji yang tinggi, melainkan dibawa untuk sama-sama berjuang memerankan tugas seorang duta Tuhan di bidang pendidikan, sehingga tertonjollah keindahan pengalaman syariat Tuhan di bidang pendidikan," tutur Taufik.  

Global Ikhwan, Youtuber dan Jargon Keluarga Inspiratif 

Rufaqa dikabarkan bertransformasi lagi menjadi Global Ikhwan, hingga kini. Dalam buku karya AM Waskito berjudul "Bersikap Adil Kepada Wahabi", transformasi Rufaqa dan Global Ikhwan terjadi lantaran terjadi perselisihan di tubuh Rufaqa.  

"Di kemudian hari, terjadi perselisihan antara komunitas itu dengan Halilintar, sehingga mereka membentuk lagi lembaga baru dengan nama Global Ikhwan," tulis Waskito.  

Konsepnya masih sama. Global Ikhwan bergerak di bidang bisnis, dakwah dan syariat Islam versi mereka. Belum diketahui apakah Halilintar masih memimpin lembaga ini.  

Namun yang pasti, kekayaan Halilintar dan keluarganya semakin menggila saat mereka mulai merambah Youtube. Halilintar dan 11 anak dari istrinya, Lenggogeni Farouk, berhasil mengumpulkan 16,9 juta subscribers lewat channel Gen Halilintar. Itu pun belum dibedah satu per satu channel Youtube anaknya.  

Lewat buku-bukunya. Lenggogeni pun menceritakan perjuangan keluarganya merintis bisnis, membangun keluarga, menjadi kaya raya hingga berlibur menjajaki lima benua. 

Related

Celebrity 7305530877098398200

Recent

item