Mengapa Ada Orang-orang yang Tampak Selalu Beruntung? (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Mengapa Ada Orang-orang yang Tampak Selalu Beruntung? - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Louis Pasteur pernah berkata, keberuntungan hanya datang pada orang-orang yang telah bersedia. Apa sebenarnya yang harus dipersiapkan? Apa yang membuat kita mendapatkan kesempatan yang baik?

Hal ini hampir sama jika dibandingkan dengan hubungan genetika seseorang dan lingkungan yang menentukan bagaimana dia akan hidup. Baik genetika dan lingkungan sama-sama membentuk diri seseorang, dan keduanya terjalin erat. Genetika mempengaruhi bagaimana seseorang terlibat di dalam lingkungan, dan lingkungan mempengaruhi bagaimana seseorang mengungkapkan sifatnya. 

Hal yang sama berlaku pada keberuntungan dan perilaku seseorang. Keberuntungan menangkap hal-hal yang terjadi pada seseorang, dan perilaku merangkum hal-hal yang dikendalikan. Sehingga keberuntungan seseorang tidak pernah jauh dari apa yang dia lakukan sehari-hari. 

Jika ia terbiasa menulis, maka keberuntungan yang memihak pada dirinya juga dalam bidang kepenulisan. Begitu juga dengan pebisnis, saintis, dan bidang-bidang yang lain. 

Maka fisika keberuntungan bersandar pada suatu teorema yang diterima oleh semua orang: hukum sebab dan akibat. 

Ibaratnya, kita tengah menari di dunia ini. Begitu tarian dimulai, kita memiliki kendali besar atas keberuntungan, karena itu adalah hasil tarian kita. Tentu kita tidak bisa mengontrol semua yang terjadi, karena kita terhubung kepada musik, rekan tarian, dan ruang yang kita tempati. Namun kita bisa mengontrol respons terhadap jenis musik, rekan, dan ruangan itu. 

Keberuntungan dihasilkan ketika kita tahu kapan dan bagaimana memimpin tarian kita dengan kehidupan. Misalnya, dalam kisah Newton dan apel jatuh, ia bisa memanfaatkan momentum itu dibanding orang lain yang pernah mengalami kisah serupa. 

Dia mengikuti logika buah apel di dalam peristiwa itu, tetapi menjadi pemimpin ketika mengeksplorasi fenomena jatuhnya buah apel. 

Tarian yang kita lakukan di dalam kehidupan mencakup berbagai rekan, dunia, orang lain, dan kita sendiri. Oleh karena itu, sejatinya kita sedang melakukan beberapa tarian sekaligus. Apa pun yang kita lakukan, meski sangat kecil, akan berdampak pada dunia, orang lain, dan kita sendiri. 

Kerumitannya tentu bagaimana tarik ulur antara dunia, orang lain, dan diri kita sendiri; dalam arti di waktu kapan kita harus mengikuti dunia dan orang lain, dan di waktu kapan kita menjadi pemimpin bagi dunia dan orang lain. 

Seseorang yang hanya meratapi diri sendiri dan takut untuk menarik tangan dunia dan orang lain, jelas tidak mendapatkan apa-apa karena ia tak melakukan apa-apa. Begitu pula dengan orang yang selalu memikirkan hal-hal besar. Dalam arti bagaimana ia bisa memimpin dunia dan orang lain. Perbuatannya selalu dibenturkan apakah akan berdampak besar pada dunia atau tidak. Ia tentu tidak siap jika dunia dan orang lain berhadapan dengannya.

Maka pikirkanlah hal yang kecil dan nikmatilah. Tak usah muluk-muluk untuk terkenal, apalagi mendapatkan keberuntungan yang bisa diunggah di media sosial. Cukup kerjakan apa yang menjadi kenikmatan kita. Pada suatu ketika, hukum sebab dan akibat akan menghampiri. 

Seperti boomerang yang kita lemparkan dan akan kembali. Di waktu itu, kita sudah siap untuk menjadi orang yang beruntung karena telah mempersiapkan segalanya, mulai dari hal yang paling kecil. Percayalah, beruntung itu sama sekali bukan soal keberuntungan. 

Related

Inspiration 6962516117210827524

Recent

Hot in week

item