Mengapa Masyarakat Mudah Silau oleh Aksi Pamer Harta Crazy Rich?


Belakangan, media sosial ramai istilah 'Crazy Rich palsu' imbas munculnya kasus penipuan yang menyeret nama Indra Kenz dan Doni Salmanan. Hal tersebut kini marak disorot warganet, mengingat kedua pihak kerap mempertontonkan aksi bagi-bagi uang, atau gaya hidup layaknya 'Crazy Rich'.

Psikolog klinis dan Co-Founder Ohana Space, Veronica Adesla, menerangkan istilah 'Crazy Rich' digunakan untuk menggambarkan kalangan masyarakat yang amat kaya. Sebenarnya, yang sering menjadi konflik di masyarakat bukan kekayaan kalangan tersebut, melainkan sikap pamer harta dan gaya hidup mewah.

"Yang menjadi permasalahan itu adalah perilaku pamernya. Perilaku pamer harta, baik itu crazy rich benaran atau orang-orang yang ingin dinilai, ingin menampilkan diri sebagai crazy rich tetapi mungkin bukan," ujarnya.

"Yang dipermasalahkan adalah tindakan pamer ini sendiri. Kalau ngomongin masalah pamer, pamer itu kan kalau dicari di KBBI, pamer itu berarti dengan sengaja menunjukkan atau menampilkan perilaku yang menunjukkan bahwa dia itu hebat atau keunggulan diri dia, dan menyombongkan diri. Itu adalah pamer," imbuh Veronica.

Terpana Melihat Hidup Mewah Crazy Rich, Wajarkah?

Di samping laporan pihak-pihak yang dirugikan atas kasus penipuan tersebut, masyarakat menyorot gaya hidup mewah nan dermawan yang tak jarang ditunjukkan 'Crazy Rich palsu' di media sosial. Tak menutup mata, tontonan tersebut memberi kesan meyakinkan bahwa oknum terkait bergelimang harta.

Veronica menjelaskan, wajar jika masyarakat tertarik melihat kemewahan yang kerap dipertontonkan para Crazy Rich. Pasalnya, mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat memang jadi impian banyak orang.

Namun Veronica memberikan catatan, penting untuk masyarakat bersikap kritis ketika menonton aksi Crazy Rich dan melakukan tindakan apa pun untuk beroleh uang banyak. Sebab pada beberapa kasus, penipuan terjadi karena sang korban dipenuhi emosi sesaat ketika mengambil keputusan.

"Semua orang mau kaya. Siapa sih yang nggak mau instan? Yang instan kan enak, begitu. Tapi itu dia, godaan terbesar adalah ketika kita terburu-buru mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat. Itu namanya kita tidak mampu mengendalikan dorongan impuls," jelasnya.

"Itu yang membuat orang gampang tertipu. Emosi sesaat waktu itu yang kemudian mendorong keputusan. Maka saya selalu bilang, if it's too good to be true, berarti itu bohong. Jadi terus jangan perihal uang, keluarkan uang, tanda tangan atau apa pun menyangkut data pribadi, itu jangan pernah membuat keputusan dalam hitungan detik, menit, bahkan jam," pungkas Veronica.

Related

News 5817970818439809819

Recent

item