Mengapa Minyak Goreng Sulit Diperoleh Akhir-akhir Ini? (Bagian 1)


Wakil Presiden Ma’ruf Amin meyakinkan masyarakat bahwa kebutuhan pangan, termasuk minyak goreng jelang puasa dan lebaran 2022 aman. Klaim ini diungkapkan Ma’ruf berdasarkan hasil validasi data pangan yang dilakukan jajaran Kementerian Pertanian. 

Namun, fakta di lapangan berbicara lain, khususnya minyak goreng yang sudah langka sejak awal tahun. Kelangkaan minyak goreng yang berlangsung lama ini membuat warga tak punya pilihan lain, kecuali pasrah dan rela mengantre berjam-jam demi mendapatkan minyak. 

Yanti (35 tahun), warga Grogol, Petamburan, Jakarta Barat salah satunya. Ia setiap hari pukul 06.30-07.00 segera bergegas pergi ke supermarket terdekat untuk antre membeli minyak goreng murah. “Pokoknya jam 7 jam 8 pagi itu sudah habis,” kata dia bercerita. 

Yanti bercerita, saat supermarket dibuka pada pukul 07.00, para pekerja di toko retail sudah mempersiapkan minyak goreng di rak depan sehingga memudahkan ibu-ibu yang berburu minyak. Yanti sebut pembelian minyak goreng dibatasi dan ia ambil dua liter untuk keperluan sepekan. 

Kondisi serupa terjadi di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Nurma (31 tahun), berkali-kali berburu minyak goreng dengan harga sesuai HET di alfamart dan indomart. Sayangnya, ia tidak pernah dapat jatah. Saat bertanya ke kasir, jawabannya selalu sama: stok minyak goreng belum datang. 

Tak hanya di retail modern, di pasar tradisional juga sama: stok terbatas dan harganya mahal. “Februari lalu stok di pasar selalu ada meski harga mahal. Tapi saat ini selalu kosong,” kata dia. 

Atasi Masalah Pangan 

Kondisi perkembangan harga di Jakarta cukup akurat tercatat di Pusat Informasi Harga Pangan Nasional (PIHPS). Berdasarkan pantauan di PIHPS, harga minyak goreng di DKI tercatat Rp18.800/liter, begitu pula daerah lain seperti Sulawesi Tenggara Rp32.850/liter, Gorontalo Rp24.850/liter, Nusa Tenggara Timur Rp20.600/liter, Papua Rp20.350/liter, Jambi Rp18.700/liter, DI Yogyakarta Rp17.650/liter, Jawa Barat Rp17.150/liter dan Aceh Rp15.850/liter. 

Ironisnya, saat minyak goreng masih susah didapatkan, partai politik justru melakukan operasi pasar di sejumlah daerah. Meski tak ada yang salah dari aksi jual minyak goreng ini, tapi warga yang kesulitan mencari minyak mempertanyakan: dari mana parpol dapat stok minyak goreng ini. 

Mencari Akar Masalah 

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai, langkah yang dilakukan parpol menandakan banyak pihak ternyata memiliki sumber minyak goreng melalui jaringan tersendiri dan berani melakukan operasi pasar dengan harga yang sesuai ketentuan pemerintah. 

“Ini menandakan bahwa ini ada sumber minyak goreng yang bisa digunakan untuk operasi pasar. Namun di sisi lain, pemerintah tidak punya sumber pendanaan yang cukup baik untuk melakukan operasi pasar dengan jumlah volume yang memadai,” kata dia saat dihubungi. 

Tauhid mengakatan, pihak lain yang melakukan operasi pasar bisa saja membeli minyak goreng yang sebenarnya mahal, lalu dijual dengan harga rendah. Atau ada juga kemungkinan bahwa distribusi yang tidak merata. Ketimpangan distribusi ini, kata Tauhid, bisa memicu panic buying di masyarakat. 

Soal panic buying ini pernah disinggung Kementerian Perdagangan. Inspektur Jenderal Kemendag, Didit Nudiatmoko mengatakan, saat ini produksi minyak goreng sudah mendekati kebutuhan sehingga kelangkaan terhadap produk tersebut seharusnya bisa teratasi paling lambat akhir Maret 2022. 

“Persediaan sebenarnya tersedia. Selisih kebutuhan ini sudah mendekati normal. Akhir bulan ini secara teoritis sudah cukup,” kata Didit sebagaimana dikutip Antara. 

Didit mencontohkan produsen minyak goreng di Sumatera Selatan, saat ini sudah memproduksi 300 ton per bulan atau sudah mendekati kebutuhan daerah ini. Jika terdapat selisih diperkirakan hanya 10 persen. 

Baca lanjutannya: Mengapa Minyak Goreng Sulit Diperoleh Akhir-akhir Ini? (Bagian 2)

Related

News 3997675408010914127

Recent

item