Mengapa Pemimpin Negara Banyak yang Aktif di Media Sosial? (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Mengapa Pemimpin Negara Banyak yang Aktif di Media Sosial? - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Saluran media sosial yang baru juga sedang menjadi tren, tetapi menakar popularitas tidak selalu mudah.

Di Snapchat, misalnya, informasi jumlah pengikut dan penonton tidak tersedia bagi publik, membuat semakin sulit menentukan bagaimana populernya sebuah akun.Tapi itu adalah jejaring sosial yang paling hip di kalangan anak muda, yang akan mendapat hak suara dalam beberapa tahun mendatang. Ini membuat politisi cukup tertarik untuk memecahkannya.

Presiden baru Argentina, Mauricio Macri, hampir satu-satunya yang menjadi master Snapchat. Dengan memberikan tur di balik layar terkait keseharian presiden, menunjukan kunjungan ke pabrik, dan kesibukan lain sehari-hari, dia telah memberikan pengguna muda sedikit gambaran tentang kehidupan politik yang mereka tak tahu.

Tetapi, kebanyakan pemimpin dunia tidak memiliki petunjuk bagaimana menggunakan layanan ini sehingga bermanfaat bagi mereka.

"Mereka masih mencoba-coba," kata Luefkens.

Macri dan tim media sosialnya, kata Luefkens, sukses besar di dunia sosial karena mereka tahu bagaimana membangun keterlibatan (engagement) di platform yang berbeda.

Memang, dalam hal keterlibatan, rasio penggemar yang mengomentari, like dan share, Macri juga mendapat peringkat lebih tinggi daripada pemimpin dunia lainnya di Facebook, menurut penelitian.

Di antara hampir 4 juta fans yang dimilikinya, Macri sering mendapat antara 50.000 dan 70.000 like dalam tiap unggahan. Sebuah unggahan baru pada kematian komposer tango ikonik, Mariano Mores, mendapat lebih dari 500.000 like.

Ikuti saya, atau... terserah!

Facebook menjadi alat yang populer bahkan di antara para autokrat (pemimpin yang berkuasa secara total, bukan dari pemilu atau aturan demokrasi).

Hun Sen, yang secara ketat menguasai negara kecil di Asia Tenggara, Kamboja, selama lebih dari 30 tahun, berada diperingkat kedua dalam daftar level keterlibatan Luefken. Di Facebook, dia menampilkan dirinya berjalan-jalan di pantai dengan jubah yang terbuka, dan bermain dengan cucu-cucunya sambil olahraga mengenakan kaos putih ketat.

Tetapi, selagi Hun Sen mengatur negara yang bermasalah dengan korupsi dan kemiskinan, dia kehilangan dukungan dari kelas menengah urban, menurut laporan media. Facebook, pemerintahnya berharap, menjadi solusi.

"Ini penting. Sebuah peluang untuk mempersempit jarak antara perdana menteri saya dan rakyatnya," kata juru bicara pemerintah Kamboja, Phay Siphan, tentang laman Facebook Hun Sen.

Sama seperti pemimpin di negara demokrasi, autokrat juga memikirkan citra publik mereka, kata Aim Sinpeng, dosen perbandingan politik di Sydney University, yang melihat bagaimana politisi menggunakan media sosial.

"(Hun Sen) membutuhkan lebih banyak legitimasi dari kelas menengah yang muda, yang akrab dengan teknologi, maka Facebook dijadikan sebagai bentuk keterlibatan utama dan mendesain ulang citranya," kata dia.

Lee Hsien Loong juga mencoba untuk membangun legitimasi melalui media sosial, kata Sinpeng.

Dengan tingkat dukungan yang lebih lebih rendah dari ayahnya, yang memerintah negara pulau yang kaya itu selama 30 tahun, profil Facebook Lee Hsien Loong menggambarkan pemimpin yang dipersiapkan dengan sempurna. Kadang-kadang ia mengajak penggemar untuk menebak di mana ia berjalan-jalan dengan sebuah foto dan tagar #guesswhere (#tebakdimana).

"Singapura melakukan ini (Facebook), sebagian besar sebagai cara untuk menumbuhkan legitimasi dari waktu ke waktu, dan untuk mengumpulkan informasi tentang rakyatnya," kata Sinpeng.

Related

Internet 8722550702566261760

Recent

item