Mengenal Bullshit Jobs, Pekerjaan yang Sebenarnya Tak Berguna (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Mengenal Bullshit Jobs, Pekerjaan yang Sebenarnya Tak Berguna - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Orang-orang yang mungkin melakukan pekerjaan omong kosong namun tidak menyadarinya adalah orang-orang yang bekerja dalam organisasi birokrasi besar dan tidak benar-benar sadar apa sebetulnya yang mereka lakukan.

Mereka hanya mengira pekerjaan mereka pasti ada tujuannya. Dan mungkin memang ada fungsinya dalam operasi yang lebih besar, tapi bisa saja operasi tersebut sebetulnya tidak berarti. Banyak yang seperti ini dalam bank-bank.

Apakah kamu mendapat banyak reaksi negatif akibat postingan blogmu?

Setiap tahun selalu ada seseorang yang menulis ke saya dan mengatakan, “Kenapa juga orang memperkerjakan seseorang yang tidak mereka butuhkan?” Dan ini hampir selalu datang dari pemilik bisnis yang merasa diserang. Ada paham bahwa bisnis tidak akan memperkerjakan seseorang kecuali dibutuhkan.

Kalau memang tidak ada tujuannya, kenapa jenis pekerjaan kayak gini masih ada?

Semua pekerjaan ini ada untuk membuat orang-orang tajir merasa lebih baik tentang dirinya sendiri—pegawai lari kesana kemari untuk membuat mereka merasa penting.

Jadi apakah pekerjaan-pekerjaan ini seharusnya dihapus saja?

Saya tidak mau ini digunakan sebagai alasan para manajer memecat karyawan-karyawan mereka, tapi untuk menghapus pekerjaan-pekerjaan ini, kita harus mereformasi masyarakat. 

Orang bilang kemunculan robot akan mencuri pekerjaan kita: apa yang akan kita lakukan ketika lapangan pekerjaan menipis? Bukankah inti dari teknologi agar kita tidak harus bekerja segitu kerasnya? Kalau masalah begini saja tidak bisa diselesaikan, berarti memang sistem pasar kita belum efisien.

Kita semua meyakini bahwa semua orang akan bersikap malas apabila diberi peluang, atau paling tidak orang-orang miskin. Ada yang mengatakan bahwa pengangguran itu buruk karena biarpun orang diberi uang, tingkat kejahatan dan penggunaan narkoba meningkat apabila mereka tidak bekerja 9 to 5. 

Kalau gitu taruh aja mereka di dalam penjara seharian, biar mereka tidak memulai masalah? Nah, pemikiran macam inilah yang harus diubah—inilah salah satu hal yang saya berusaha lakukan.

Dari pesan-pesan yang kamu terima, bagaimana orang-orang menghadapi pekerjaan omong kosong?

Orang-orang langsung mengerti kok. Mereka tidak tahu bagaimana harus bertindak atau merasa. Seakan mereka diberikan sesuatu untuk tidak melakukan apa-apa, bahwa mereka seharusnya senang. 

Rasanya seperti dipaksa menjadi parasit melawan kehendakmu sendiri, jadi orang bingung secara moral. Apakah seharusnya mereka merasa bersalah? Enggak dong seharusnya, karena mereka juga tidak ingin melakukan pekerjaan itu. Tapi bisakah mereka mengeluh? Rasanya seperti orang brengsek apabila mengeluh. Orang jadi bingung.

Apakah semua orang pasti akan mengalami satu pekerjaan omong kosong dalam hidupnya?

Ada pekerjaan-pekerjaan bagus yang bermakna, memuaskan dan gajinya oke. Tapi untuk mendapatkan pekerjaan macam ini, kamu harus sudah tajir, atau sanggup magang tidak dibayar di perusahaan besar di kota besar. 

Jadi pilihannya memang antara mengambil pekerjaan berguna tapi dibayar sangat kecil, dan pastinya kamu akan kesulitan berkeluarga. Kamu akan bahagia mengetahui bahwa kamu berkontribusi ke dunia, contohnya bekerja di panti jompo, tapi pastinya secara finansial kamu harus berkorban. 

Atau kamu bisa mengambil pekerjaan omong kosong—dan yang ini tidak sulit didapat; ada di mana-mana. Tapi konsekuensinya jelas: kamu harus melakukan pekerjaan yang penuh dengan kebohongan. Pilihan mana yang lebih baik? Saya tidak bisa bilang, itu penilaian yang harus kamu ambil sendiri.

Related

Business 8391160225194256413

Recent

item