Misteri dan Konspirasi Amerika yang Tak Pernah Terungkap (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Misteri dan Konspirasi Amerika yang Tak Pernah Terungkap - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Para pemuja teori konspirasi percaya bahwa “Q” kemungkinan adalah seorang pejabat Air Force One sehingga ia bisa memperoleh akses eksklusif. Di sisi lain, sebagian pemuja teori konspirasi yakin bahwa “Q” merupakan John F. Kennedy Jr, putra presiden Kennedy, yang meninggal pada 1999 silam. 

Pemuja teori konspirasi percaya bahwa kematian Kennedy junior dipalsukan untuk melindungi dirinya. Kemunculannya sebagai sosok “Q” diyakini sebagai “The return of JFK”.

Entah siapa sesungguhnya “Q”, tetapi “Q” mengklaim bahwa Trump akan segera mendatangkan “badai” bagi komplotan jahat yang merusak moral masyarakat AS. Lambat laun, “Q” mendapat banyak dukungan, entah dari penganut teori konspirasi atau orang-orang konservatif yang, tentu saja, gerah dengan kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak--ketakutan yang ditunggangi “Q”.

Ketika suara pendukung semakin ramai, “Q” berevolusi dari “seorang anonim” menjadi “sekelompok anonim” alias QAnon. QAnon, sebut Kevin Roose dalam artikelnya di The New York Times. 

QAnon adalah “istilah umum untuk sekumpulan teori konspirasi internet yang menuduh, secara keliru, bahwa dunia dijalankan oleh komplotan rahasia pedofil pemuja setan yang berkomplot melawan Trump saat mengoperasikan jaringan perdagangan seks anak global,” tulisnya.

Ketika Trump mengeluarkan kebijakan yang aneh-aneh, QAnon meyakinkan para pengikutnya untuk percaya kepada sang presiden berambut oranye itu. 

Trump diyakini QAnon, sebagai “sosok yang direkrut oleh salah satu jenderal tertinggi untuk maju sebagai presiden di tahun 2016 guna menghancurkan konspirasi jahat, menghentikan kendali politik atas media, dan menghadirkan keadilan bagi masyarakat”. Singkatnya, "Make America Great Again”.

Tak disangka, omong kosong QAnon populer. Pesohor fasis seperti Alex Jones dan Sean Hannity yang sangat populer di media sosial mendukung QAnon. Demikian pula kandidat terkuat Republikan di Distrik ke-14 negara bagian Georgia bernama Marjorie Taylor Greene yang terang-terangan mendukung QAnon.

Trump, sebagai sosok yang paling diuntungkan QAnon, juga mendukung omong kosong QAnon. “Saya tidak tahu terlalu dalam soal gerakan (QAnon) ini, tetapi saya paham mereka sangat menyukai saya, sesuatu yang jelas-jelas saya apresiasi”. 

Dukungan itu berbanding terbalik dengan sikap FBI atas QAnon. Karena QAnon menggaungkan teori konspirasi, dan karena teori-teorinya dibeli oleh banyak warga yang rentan bertindak di luar hukum, FBI pun menyatakan bahwa QAnon “berpotensi menjadi ancaman dalam negeri”.

Sayangnya, peringatan FBI dianggap angin lalu. Dari 4chan, QAnon menyebar ke seluruh platform maya, khususnya Facebook. Mengutip laporan Roose, terdapat banyak grup Facebook yang terhubung ke QAnon. Masing-masing grup bisa memiliki lebih dari 100.000 anggota.

Popularitas QAnon semakin menjadi-jadi setelah pandemi Corona memaksa banyak warga AS tinggal di rumah. Selama periode lockdown, jumlah pengikut grup-grup QAnon di Facebook melonjak hingga lebih dari 600 persen.

Bagi demokrasi AS yang tengah disandera Trump, keperkasaan QAnon di Facebook jelas memprihatinkan. Roose, dalam artikel lainnya di The New York Times, menyatakan Trump punya kekuatan untuk terpilih kembali menjadi presiden di pemilihan presiden 2020 berkat platform yang digunakan 70 persen warga dewasa AS itu. 

Alasannya, kini warga AS tinggal di dua tempat, lingkungan fisik (yang diinjak) dan dunia maya. Di dunia maya, khususnya Facebook, sangat mungkin pemilih-pemilih yang belum menentukan sikap, memilih Trump atau Biden, berubah pikiran. Dengan omong kosongnya, QAnon dapat menjangkau calon pemilih yang belum menentukan sikap ini untuk mencoblos Trump.

Memanfaatkan Facebook untuk memenangkan pemilu bukan omong kosong. Michal Kosinskia, peneliti dari University of Cambridge, dalam studi berjudul “Private Traits and Attributes are Predictable from Digital Record of Human Behavior” menyebut bahwa "like" dapat secara otomatis dan akurat memprediksi “highly sensitive personal attributes” seorang pengguna Facebook, misalnya orientasi seksual, etnis, agama, dll. 

Dengan data tersebut, pengiklan dapat menciptakan iklan microtargeting di Facebook. Lalu, Oana Barbu, peneliti dari Western University of Timisoara, dalam makalah berjudul “Advertising, Microtargeting and Social Media” menyatakan bahwa konsep awal microtargeting adalah membagi-bagi kelompok masyarakat dengan memanfaatkan kode pos alias pembagian berdasarkan letak geografis. 

Di zaman media sosial, pembagian kelompok masyarakat dapat dipersempit. Menurut laporan ProPublica, ada 50 ribu pembagian kelompok di Facebook.

Dengan kekuatan semacam itu, maka para konsultan politik dapat menyasar pengguna Facebook secara presisi, mengaktifkan ketakutan atau mendukung keinginan mereka.

Related

International 704462248965684428

Recent

Hot in week

item